Dengaan penuh kehati-hatian, kewaspadaan, dan nyaris seluruh kesadaran, kami membangun sebuah tempat berteduh yang sama sekali tidak permanen, meskipun indah dan nyaman tapi itu hanyalah sebuah tempat untuk berteduh tempat meletakkan lelah dan letih. Kenapa hanya tempat berteduh dan bukan rumah? Bukankah rumah adalah tempat berteduh yang sempurna (setidaknya sempurna untuk ukuran manusia), dan dapat menampung lebih banyak hal, tidak hanya lelah dan letih, tapi juga cinta, sayang, amarah, amanah, angan, cita-cita, suka, luka dan benda-benda lain yang membutuhkan tempat peletakan. Tapi hanya tempat berteduh yang kami bangun, mungkin karena bangunannya yang semi permanen bisa dirobah atau ditinggal setiap saat dan sekehendaknya.
Kenapa begitu? Bukankah kami menanti cukup lama dan melewati banyak hal untuk sampai ke tempat itu, apakah penantian yang lama itu akan ditelantarkan dan ditinggal setiap saat kala bosan? Kami benar-benar tidak tahu, aku hanyalah seorang gadis belia dan dia adalah pria muda, kami berdua masih sangat muda ketika itu. Tapi aku tetap menunggu hari esok untuk menjadikan tempat berteduh itu sebuah istana , aku tetap berdo’a untuk lelaki muda itu (dengan sisa keteguhan) “ tetaplah menjadi bintang dilangit ............”. Bayangan beku dan kaku berseliweran dalam setiap ronga jiwaku, yang wangi dan daya tariknya sempat tertinggal dan teramat kuat, hingga mematahkan setiap penyangga tubuhku. Dan setiap malam terucap salamku “ selamat malam wahai Ahki 1) ...... damai dalam tidurmu ....... ciptakan keindahan esok hari dengan jemarimu, seindah rona merah senja, dan perempuan ini ingin menjadi indah diatasnya walau tak sempurna .........”.Tapi begitu sempurna inginku kala itu, begitu sempurnanya hingga menyiksaku, mencekikku, menggorok leherku, dan menggigit lidahku, hampir-hampir membunuhku. Aku baru tersadar bahwa aku telah menghampiri lelaki yang keras hati, yang tiada nyenyak tidur walau sesekali, tak perlu mengingkari perang karena aku telah tertawan. Di tenggorokanku ada tulang dan di dalam diriku ada kedukaan.
Tulisan akan terbaca dengan sendirinya, jalan akan terlewati dengan sepenuhnya. Tak perlu merubah peta sekedar untuk mengulang kenangan, karena akan ada banyak pemandangan lain yang bisa diabadikan dalam bingkai atau diatas tembok. Yang terpenting adalah kesiapan memberi dan mendapatkan, menerima dan kehilangan, dan pertanggungjawaban atas keputusan. Dan hari ini, sejak 283 hari yang lalu aku telah berusaha mempertanggungjawabkan keputusanku, keputusan atas seorang laki-laki yang sangat pantas mendapatkan cintaku. Kami benar-benar berusaha membangun sebuah istana terbaik di dunia bukan sekedar tempat berteduh. Istana kami ada di sebuah tempat yang tak seorangpun tahu, tempat yang paling indah dihadapan Rabb kami yaitu HATI kami. Bukan hanya sebuah istana, dia bahkan telah menyiapkan Surga untukku diujung langkahnya dengan segala kemudahan. Laki-laki sempurna yang mencintaiku dengan sempurna, begitu sempurnanya hingga tak ada kata yang bisa menerangkannya, laki-laki terindah yang menberiku banyak keindahan, begitu indahnya hingga aku tak mampu melukiskannya. Hingga terucap salam dalam setiap malam dalam doa untuk menjadikanku perhiasan terindah di dunia disisi laki-laki mulia itu “ jangan berhenti mencintaiku wahai lelaki yang dicintai Allah ........, Suamiku
Kubungkus Surabaya dalam saputangan. Mungkin akan kucium bila dingin menyengat. Pukul satu dini hari nanti. Mungkin diantara mimpi, mungkin diantara hingar bingar, mungkin diantara kau dan aku.
catatan kaki:
1) Akhi : sebutan untuk laki-laki muslim