Rabu, 06 Desember 2017

Aku musnah

Aku mencakar dadaku, menancapkan kuku-kukuku hingga merobek dadaku, darahnya muncrat berhamburan membasahi tubuhku, mengenai wajahku. Kutancapkan kukuku semakin dalam, melalui urat nadiku, melampaui selang-selang aliran darahnya, dan kukoyak jantungnya, kugenggam erat-erat sumber darah itu, kutarik keluar dari cangkangnya. Kubenturkan kepalaku pada cadas runcing berkali-kali dan berkali-kali, sehingga nyari hancur dan menghamburkan isinya. Mataku melotot hampir meninggalkan rongganya, air putih kekuningan keluar dari sudut-sudutnya. Mulutku diam.

"Aku mencintaimu" ucap laki-laki itu padaku
"Apa bukti cintamu? dengan membohongiku selama bertahun-tahun?, dengan menipuku selama ini? dengan tidak menghargaiku?"
"Apa aku salah bicara jujur seperti ini? Hargailah kejujuranku"
"Dengan membohongiku dan menipuku selama bertahun-tahun, apakah itu menghargaiku?"
"Setidaknya aku sudah berkata jujur"
"Dunia ini milik laki-laki. Ketika laki-laki melakukan kesalahan bahkan dosa, dunia menilainya wajar dan biasa saja, bukan hal besar, tidak perlu dibahas. Tapi sebaliknya, jika perempuan yg melakukan kesalahan, dunia menganggapnya wanita nakal, perempuan tidak benar, liar, sundal, dan lain-lain"
"..........................................................................."
"Kenapa tidak kau bakar saja mulutmu ketika kau memasukkan barang haram itu ke mulutmu"

Aku mengambil bilah pisau tembaga bermata dua, berganggan kayu, dari kilaunya saja terlihat begitu tajamnya, kedua sisi matanya seolah menghinaku, terawa sinis padaku, dan berkata dengan nada merendahkanku "Perempuan bodoh". "Mungkin hanya darah ku yang bisa membuatmu puas" jawab ku. Kemudian dengan segera aku menggorokkan bilah pisau itu ke lambungku sedalam-dalamnya dan menariknya kembali hingga isinya meloncat berhamburan. Kemudian kuarahkan bilah bermata dua itu di leherku, ku gorok leherku, ku koyak tenggorokanku hingga memutus urat nadinya, memotong pita suaranya, menghancurkan tiroidnya. Leherku nyaris putus. Mulutku diam.

Dia meminta segala-galanya dariku. Dia mengambil segala-galanya dariku. Dan aku memberikan segala-galanya padanya. Hingga tak tersisa lagi apa-apa pada diriku, walaupun hanya setetes darah ataupun setetes airmata. Malangnya... aku tidak mendapatkan apa-apa. Dia tidak pernah memberiku apa-apa, tidak pun sebiji sawi. Itulah tanda cintanya padaku. Menghancurkanku.
Aku membencinya hingga ke urat nadiku, hingga ke tulang sumsum ku. Aku ini manusia bodoh yang sangat luar biasa, saking bodohnya aku tidak tahu ketika dia membodohiku dengan bungkus kata-kata cintanya yang semanis manisan Turki.

Sungguh dia laki-laki laknat. Ketika aku mendoakannya di penghujung malam ku, di setiap sujud ku, di setiap helaan nafasku, dia sedang bersenang-senang bersama kelompok sesama laknatnya, melakukan sesuatu yang sangat aku murkai. Dengan perasaan damai sejahtera aman sentosa. Dan sekarang dengan sangat ringan dia memintaku menghargainya karena dia sudah berkata jujur. Lalu, bertahun-tahun penghianatannya, tipu dayanya, dan kekejamannya, harus aku terima, tanpa boleh aku menyimpan luka atau kecewa? Apa dia pikir aku ini robot yang tak punya perasaan, yang dengan satu program semua selesai? menghapus memori lama atau file-file yang terekam dalam Hard disk otakku kemudian menggantinya dengan file baru dan memori kosong tentunya. Kalau begitu menikah saja dengan boneka seks buatan Jepang.

Seketika aku terbang melewati awan comulunimbus diatas ketinggian lima puluh tujuh ribu kaki diatas permukaan laut. Seketika itu pula aku menangkap hitamnya, memilin tetes-tetes airnya, mengumpulkan anginnya, dan menyulamnya menjadi petir yang akan menghancurkan apa saja yang melewatinya, atau tubuhku sendiri yang akan kulempar kedalamnya. Sesaat kemudian aku sudah berada di reruntuhan Yunani, diantara bebatuan Petra yang menjulang tinggi, ditengah colosseum, bersama dengan sembilan ekor singa berambut gimbal mengelilingiku. Matanya merah sangat liar, air liurnya menetes tak beraturan-sepertinya dia sangat lapar, badan besar dan gagah, siap menyantapku. Dan aku mempersilahkan tubuhku menjadi santapannya, biarlah mereka menjilat, menggigit, mencengkeram, menginjak, mematahkan, dan mengoyak tubuhku. Biarlah.

Satu hal yang saat ini ingin aku lakukan adalah pergi meninggalkanmu. Walaupun aku harus menghabiskan waktu tiga juta tahun.
 

 



13 Juli 2017,




Senin, 20 Februari 2017

Bis transjakarta pukul 7.10



Aku melihatnya, dengan kacamata sportinya, berbalut jaket hitamnya bertuliskan "don't talk just act", diatas motor sportnya melaju pelan diantara kilau cahaya pagi diantara berisik jalan protokol, setiap pagi. Tubuh diatas motor sport itu yang selalu ingin kupeluk, laki-laki berkacamata sporti dengan jaket hitam itu yang selalu kurindukan, yang membuatku bersemangat berlomba dengan jam dinding mengejar bis transjakarta pukul 7.10, setiap pagi. Ah...aku tersenyum sendiri didalam bis ini, melihatnya serius memperhatikan jalanan yang penuh dengan pengendara yang terburu-buru. Berkali-kali tangannya dikibas-kibaskan didepan mukanya ketika metromini menyemburkan asab hitam didepannya, hey... kenapa dia tidak pernah memakai masker? aku baru sadar, dia tidak pernah menutup mukanya dengan penutup wajah. Matanya sedikit memicing mungkin karena silau terkena cahaya matahari pagi walaupun sebenarnya arahnya berlawalan dengan matahari, justru arahku yang menantang matahari seharusnya mataku yang memicing terkena silau cahaya matahari.
                                       
Dan sebenarnya dialah yang menjadi cahaya untuk mataku, hadirnya bagai cahaya pagi mentari untuk hidupku. Ketika bis yang aku tumpangi sampai disebelahnya, menjejeri motornya, tangannya gemetar, motor sportnya agak oleng, dan lagi-lagi aku tersenyum melihat kegugupannya. Aku selalu memandangnya dari dalam bis lewat kaca jendela di sebelah kanan. Aku selalu mengambil tempat duduk disebelah kanan, bangku nomer tiga dibelakang supir,  supaya bisa melihatnya, walaupun sinar matahari pagi selalu menyilaukan mataku dan semua penumpang menutup korden agar tak silau, tapi aku tak pernah menutup korden jendela bis, aku tak mau sampai terlewat dan kehilangan moment memandangnya, dan biasanya aku memandangnya sampai punggungnya menghilang di belokan pertigaan menuju tempatnya bekerja. Kemudian kutempelkan tanganku di kaca jendela sembari berucap "see you tomorrow my gosh rider". Ups! "my"? lancang sekali aku memanggilnya dengan sebutan "my". Dia bahkan tidak tahu atau mungkin tidak akan pernah tahu, bahwa ada seorang perempuan yang diam-diam memperhatikannyan dengan hati bergetar

Tapi kadang-kadang aku tidak bisa melihatnya, satu hal karena aku bangun kesiangan dan terlambat mendapatkan bis trasjakarta pukul 7.10 pagi. Yang akhirnya dengan mata berair aku harus menaiki bis seperempat jam kemudian, yang artinya aku tidak bisa memanjakan mataku memandangnya walaupun dari jarak kurang lebih 20 meter, tidak bisa melepaskan rinduku walaupun hanya dalam beberapa detik saja, rindu pada laki-laki berjaket hitam dengan kacamata sporti dan motor sport itu. Dia selalu lewat jalan ini pukul 7.35 sebelum menghilang di pertigaan Mall Atrium Senin. Kadangkala dia menatap bis yang aq tumpangi dengan matanya yang tajam, bibirnya agak meringis memperlihatkan deretan giginya yang rapi, entah apa yang ada dalam pikirannya saat itu. Ah, bagaimana bisa aku jatuh cinta pada seseorang yang hanya bisa kupandang dari jarak kurang lebih 20 meter ini? Aku tidak tau, apakah ini cinta? Yang pasti hatiku selalu berdebar sangat kencang setiap kali melihatnya, sudut mataku selalu berair setiap kali memandangnya, rasanya aku ingin turun saja dari bis ini dan berlari mengejarnya kemudian memeluknya. Berhayal, boleh kan? Siapa tahu Yang Maha Mengetahui segala  gerak hati menggerakkan tanganNya dan membuat semuanya menjadi mungkin. Seperti kutipan yang pernah kubaca Souls recognize each other by vibes, not by appearance... See, mungkin saja dia juga sedang mencariku karena hatinya selalu bergetar.

Ah... tapi Aku tidak mengenalnya, aku bahkan tidak tahu namanya, dimana rumahnya, dimana kerjanya. Yang aku tahu hanya gurat melengkung diatas kepalanya yang menyerupai pelangi memayunginnya setiap kali aku memandangnya dari kejauhan.

Aku merasa sejuk setiap kali memandangnya, seperti jalan yang baru saja diguyur hujan setelah lama kering, seperti berada ditengah-tengah hutan pinus dengan suara elang dikejauhan, seperti ketika berada didekat air terjun walaupun tidak tepat dibawahnya tapi cipratan airnya pasti mengenai kita. Tiba-tiba hiruk pikuk Jakarta berubah menjadi dataran luas dipenuhi tumbuhan bunga belukar warna-warni. Terlihat kawanan kijang hutan disana sedang menghabiskan sarapannya rumput-rumput yang segar. Kelinci berlompatan kesana-kemari main petak umpet diantara lubang tanah danangkal pohon mati berebut wortel. Singa-singa bergerombol memainkan ekornya dan menjilati rambutnya. Aku melewati Halte Gambir, Monumen Nasional dikananku terlihat anggun dan kokoh, berarti tidak lama lagi aku harus turun dari bis ini, dipemberhentian terakhir, Halte Harmoni. Well, rutinitasku. Dengan senyummu dalam tasku, diantara dompet, lipstik, tisyu, boll points, ipad, dan hatiku. See you tomorrow...


Minggu, 12 Februari 2017

Klipping Sabrina



Plak, plak, plak
Tamparan bertubi-tubi mendarat di muka gadis kecil itu, rambutnya yang panjang berponi dijambak sampai kepala dan tubuh kurusnya ikut terangkat, pahanya dicubit sampai lebam. Gadis kecil itu hanya bisa menangis kesakitan, tangannya digosok-gosokkan ke pahanya yang membiru, bibir mungilnya gemetar “ampun mami, sakit”
Perempuan yang dipanggil mami itu membanting buku ulangan hariannya yang mendapat nilai 70 ke mukanya,
“Bodoh kamu ya, masak ulangan matematika cuma dapat 70! Tuh lihat siska anaknya Bu. Martono, ulangan apapun pasti dapat 95. Mami malu punya anak kamu. Dasar anak tidak pernah membanggakan orang tua!”
Perempuan itu memegang tangan mungilnya, menyeretnya masuk gudang dan menguncinya dari luar, di dalam gudang gadis kecil itu berteriak-teriak, memukul-mukul daun pintu, memohon ampun untuk dikeluarkan dari sana, dan berjanji untuk belajar lebih giat lagi. Tapi perempuan itu hanya berteriak dari luar “kamu disini sampai besuk pagi, dan kamu tidak dapat makan malam” kemudian pergi.
Gadis kecil itu menangis tanpa henti sampai lemas, kemudian dengan suara pelan dan terbata dia berkata “A bbey ta kut, A bbey la par…”
Sampai keesokan pagi Sabrina terbangun karena seember air dingin yang disiramkan ke tubuhnya, dan teriakan perempuan itu untuk sekolah. Disekolah Sabrina bersama 3 orang temannya dihukum karena tidak mengerjakan PR, yang harusnya dikerjakan semalam. Ibu guru itu mencubit kecil di lengannya. Sabrina hanya meringis sedangkan 3 orang temannya menangis kesakitan. Sepulang sekolah ibu guru itu memanggil Sabrina dan bertanya kenapa dia tidak menangis ketika dicubit, sedangkan teman-temannya menangis smua. “cubitan Bu Lis tidak sakit, masih sakit cubitan dan pukulan mami” Sabrina menjawab dengan tenang dan tersenyum. Ibu guru itu terbelalak dan segera memeluk Sabrina dan minta maaf dengan berurai airmata. “Sebagai gantinya, Sabrina boleh minta apa aja” mata gadis kecil itu mulai basah, dia memandang ibu guru itu lama sekali, “Bu Lis, kalau boleh Abbey minta makan, Abbey lapar, dari kemarin belum makan” Lagi-lagi ibu guru itu terbelalak dan memeluk Sabrina, kali ini pelukannya lebih erat dari sebelumnya.

Sabrina diam lama sekali, berdiri didepan poster film fenomenal tahun ini yang berjudul Angeline, matanya basah.
“Oh Angeline, aku tahu penderitaanmu, aku pernah menjadi sepertimu 25 tahun yang lalu, hanya saja aku lebih beruntung masih hidup sampai hari ini. Harusnya hidupku difilmkan dan akan lebih menarik daripada kisahmu”
Sabrina menyeka matanya, dan berjalan berkililing Cineplax melihat poster kira-kira film apa yang akan ditontonnya. Sabrina kembali berhenti didepan poster film Me vs Mom

Sabrina pulang dengan membawa kebanggaan, juara 1 speech contest tingkat SMP dan memberikan piala itu pada maminya. Tapi belum sempat dia membuka suara, sudah disambut dengan lemparan baju kotor ke mukanya
“Heh anak setan! matamu buta ya. Mami congkel sekalian biar keluar. Berapa kali mami bilang cuci baju sendiri. Kamu pikir mami ini pembantumu!”
“Ya mi, Abbey cuci sekarang” jawabnya dengan lunglai. Niatnya untuk menunjukkan prestasinya gagal.
Sabrina mencuci dengan terus menunduk dan menahan tangisnya, maminya tetap saja mengeluarkan kata-kata kotor tanpa henti
“Kamu ini bisanya cuma jadi beban mami aja. Dasar anak setan! Kamu tahu, papimu itu PKI. Malapetaka buat mami punya anak seperti kamu. Gak pernah bisa nyenengin mami. Mami lebih seneng kalau kamu mati aja. Nih, sprei dan baju mami cuciin sekalian. Kamu boleh makan setelah semua selesai”
Dan Sabrina hanya bisa menangis pelan terbata dia berkata “Pi, A bbey ca pek, A bbey la par. Papi dimana?”

“Waktu itu aku belum tahu kalau papi dan mami bercerai, aku terlalu kecil untuk memahami kehidupan orang dewasa. Hubunganku dengan mami tidak pernah akur, dan semakin tidak akur sejak waktu itu…..sampai sekarang”
Sabrina menyedot strawberry milkshake ditangannya, dan menggeser kakinya kearah kiri. Sabrina kembali berhenti di depan poster film Pride and Prajudise. Pas banget! Pikirnya

“Bilang sama temen-temen kamu, jangan bicara keras-keras, jangan tetawa keras-keras seperti anak jalanan, atau mami usir dari rumah ini.” Hardik perempuan itu
‘Ya mi, maaf” jawab Sabrina tertunduk.
Dan rupanya teman-temannya mendengar kata-kata perempuan itu dan segera memutuskan untuk pergi saja setelah berpamitan dengan perempuan itu
“Kamu itu jadi anak bodoh sekali ya. Cari temen itu jangan anak-anak bodoh. Kampong, dan miskin seperti itu. Lihat tuh Bella, anaknya Bu.Aan, semua teman-temannya bawa mobil, dandanan rapi, pastinya harum, dan sebagian dari mereka sudah bekerja, setiap datang pasti bawa oleh-oleh. Lhaa kamu, berteman sama kacung-kacung begitu. Mikir dong brin! Atau kamu memang gak punya otak”
Sabrina hanya diam tertunduk. Dia tidak akan bilang pada perempuan itu bahwa dia beberapi kali melihat Bella masuk hotel dengan laki-laki berbeda-laki-laki yang membawa mobil, dengan dandanan rapid an mungkin wangi, bahkan sering kali dia melihat Bella bersama om-om. Sabrina tidak akan bilang itu. Dan teman-temannya yang kacung itu adalah kebanggaan sekolah, juara-juara olimpiade tingkat nasional bersamanya. Itu tidak cukup bisa membuat maminya bangga.
Bahkan ketika 3 tahun Sabrina di perguruan tinggi selalu mendapat beasiswa dan Sabrina menjadi wisudawan termuda waktu itu, tidak cukup untuk membuat maminya merendahkannya.
“Kamu mending hidup sendiri aja di hutan sana, yang tidak ada manusia. Bicara saja sama binatang. Perempuan kok diam saja tidak mau bergaul. Apa nunggu dipukul kepalamu baru kamu mau bersuara. Tidak akan ada laki-laki yang suka sama kamu, suka sama perempuan bisu seperti kamu. Tidak akan laki-laki yang mencintamu sampai kapanpun. Kamu tidak pernah bisa membanggakan mami. Mami nyesel punya anak kamu. Kalau mami bisa memilih, mami lebih suka punya anak seperti inneke, anak Om Yudi. Cantik, ramah, murah senyum, anggun, lemah gemulai. Tidak seperti kamu yang….”
Perempuan itu menggantungkan kalimatnya dan hendak pergi meninggalkan Sabrina
‘Yang apa mi? kenapa berhenti, tidak seperti aku yang apa? Yang piala-pialaku mami buang karena tidak berguna buat mami? Yang kuliah tidak pernah bayar karena selalu mendapat beasiswa? Yang bisa lulus tiga tahun? Yang menjadi wisudawan termuda? Yang bisa cari duit sendiri selama kuliah?” untuk pertama kalinya Sabrina berani menanggapi perkataan perempuan itu. “Mami tahu? Seminggu yang lalu Om Yudi telp Abbey, Inneke berhenti kuliah, dia tidak bisa melanjutkan kuliahnya, Om Yudi minta tolong Abbey untuk ngurus pernikahannya. Anak seperti itu yang mami mau, anak yang selalu mami banggakan, hamil diluar nikah!”
Sabrina meninggalkan perempuan itu yang terduduk di sofa dan menuju kamarnya, membanting pintu, mengunci diri berhari-hari dalam gelap.

Sabrina menarik nafas panjang, sesak rasanya. Dia keluar dari bioskop dan melangkahkan kakinya menuju Monumen Kapal Selam disamping Plaza tempatnya menghabiskan waktu 2 jam ini. Dia duduk di kafe ditepi sungai yang airnya berkilauan karena pantulan cahaya malam. Memesan pisang bakar keju dan strawberry milkshake kesukaannya. “My last dinner” gumamnya. Lamunnya kembali menggelayut pada kejadian seminggu yang lalu. Makan malam yang sempurna, yang selalu dia impikan lebih dari 35 tahun. Dengan laki-laki pujaanya, laki-laki yang dicintanya, laki-laki yang ada dalam doa-doanya siang malam. Cintanya begitu sempurna pada laki-laki itu. Nyaris tanpa syarat. Tapi kejadian apa yang membuat laki-laki itu pergi dengan seluruh barang bawaannya. Matanya basah, kemudian dia mengambil botol kecil berisi cairan dari dalam tasnya, menuangnya kedalam gelas berisi strawberry milkshake didepannya. Apa yang kau tuang brin? Sabrina segera menghabiskan satu gelas milkshakenya, dan air bening mengalir dari sudut matanya. Sabrina beranjak dari tempat duduknya, berjalan perlahan ke pembatas sunga, mencondongkan tubuhnya kedepan sampai melewati pagar pembatas yang hanya setinggi pinggangnya, kemudian… Byuurr! tubuhnya jatuh dalam dingin malam.


(“Aku bisa tahan dengan semua sikap mami, tapi aku bisa mati ketika kau tinggalkan aku. Ah, mami….. kenapa dulu mami berkata bahwa tidak ada laki-laki yang akan mencintaiku dan menginginkanku….. bukankah ucapan adalah doa mi? kenapa mami mendoakanku yang buruk….. dan Kau Tuhan, kenapa mengabulkan doa buruk mami? bukankan cinta dalam hati Hans adalah dariMu? Kenapa secepat ini Kau mencabutnya?. Aku mencintainya Tuhan, apakah berlebihan?. Mulai malam ini Abbey akan menjadi anak kebanggaan mami”)

* Ilustrasi gambar : 
 Tarian Kolosal Malam Hari Di Sungai Ji Liang. Gui Lin. Tiongkok
 http://alginting.blogspot.co.id/2014_05_01_archive.html



Selasa, 03 Januari 2017

Cintaku bertepi disini


Ketahuilah bahwa hati, dalam setiap keadaan, akan senantiasa menyertai orang yang dicintainya. Hati tidak akan merobohkan rumah, tidak akan takut kepada para penyamun, dan tidak membutuhkan pelana kuda. Tubuh yang buruklah yang terikat pada semua itu.
Dimanapun kau berada dan apapun yang terjadi, berusahalah untuk selalu menjadi seorang pecinta dan perindu. Ketika cinta sudah menjadi milikmu, maka selamanya kau akan menjadi seorang pecinta dimanapun kau berada; di dalam kubur, di padang masyar, di syurga, dan disegala tempat. Seperti benih gandum yang kau tanam, maka ia akan tumbuh menjadi gandum, di gudang tetap menjadi gandum, dan di tungku perapian juga tetap menjadi gandum.

*)Seperti Majnun yang hendak menulis surat pada layla. Ia memegang pena lalu menulis berikut: " Khayalanmu di mataku, namamu di mulutku, ingatanmu di hatiku, lalu kemana lagi aku bisa menulis?... Khayalanmu bersemayam di hatiku, namun tak pernah lepas dari lidahku, dan ingatanmu memenuhi lubuk jiwaku, lalu kemana harus kukirim surat ini padahal kau selalu berputar-putar di segala tempat?" Majnun kemudian mematahkan pena dan merobek kertasnya.
Bila layla adalah taman melati di musim semi, maka majnun padang rumput di musim gugur. Bila dari balik rambutnya layla memikat dunia dengan sekali kerlingan, maka majnun menjadi pengembara yang menari dalam kegilaan. Layla memegang secawan anggur, majnun mabuk oleh aromanya-bahkan sebelum mencecap isinya. Layla menamam serumpun mawar, majnun menyiraminya dengan air mata.

Dan untukku, kemana kau akan meletakkan hati dan cintaku? Hatiku dipenuhi kalimat-kalimat semacam manusia yang sedang dimabuk cinta, hanya saja aku tidak bisa mengungkapkannya dengan rangkaian lafal-lafal penyejuk. Bila kau tau hakikat seorang pecinta, kau pasti menyadari, cinta akan meleburkan jiwamu kedalam jiwa kekasihmu.
**)Meninggalkanmu. Seperti sakit yang akan merenggut kesehatanku untuk tidak setia kepadaku. Seperti dunia yang fana ini, cepat atau lambat akan membuatnya kehilangan ibumu, ayahmu, dan keluargamu. Akan datang pula hari dimana engkau tidak bisa menatap lagi wajah orang-orang yang engkau cinta, orang-orang yang engkau pilih menjadi belahan jiwamu. Hijau dedaunan pada musim semi akan digantikan dengan datangnya musim gugur yang merubah dedaunan jadi menguning.
Demikianlah kita diciptakan untuk dilebur kembali.

Sungguh, betapa pedihnya hatiku. Seperti berada pada sebuah gerbang yang aku sendiri enggan melewatinya, tapi sang penjaga telah mengayuhkan pedangnya pada leherku untuk ku tetap melangkah. Dan aku harus menggerakkan kakiku dan meninggalkan segala kesenangan dan airmata bersamamu, walaupun aku tidak tau kemana arah langkahku. Diriku adalah guratan dalam goresan pena takdir, seperti sebuah sumur perpisahan yang dalam, seperti sungai yang menghanyutkan dan seperti puing-puing yang terhempas oleh terpaan angin kencang. Dan cintaku bertepi disini.
Aku. Kau. Tumbang.


Rujukan: 
*)  Dari layla dan majnun oleh Nizami Ganjavi
**)  Dari "Hajar" rahasia hati sang ratu zam zam  oleh Sibel Eraslan