Rabu, 21 November 2012

BULAN BESAR



Bulan ini adalah bulan baik (menurut hitungan jawa) bagi pasangan yang akan menikah, Menurut primbon jawa bulan ini termasuk / bernama bulan “besar”. 1). Wataknnya bulan untuk : perkawinan: baik, kaya, mendapatkan kebahagiaan. Mendirikan apapun : baik, banyak rejeki dan mendapatkan “ supangate” Nabi Muhammad SAW. Menanam: Baik. Pindah rumah: baik, disayang sesamanya. 2). Tempat Naga: -Bulan: Barat, -Tahun : Utara, Jatingarang: Utara. Jangan menuju ketempat Naga dan Jatingarang. Itu menurut primbon jawa, kalo aku sendiri g’ ngerti sama sekali hal-hal seperti itu, tepatnya sebelum menikah-karena ketika akan menikah ada pihak yang membicarakan hal itu dan pernikahanku berdasarkan hal yang sangat “tidak penting” (come on, we are mosleem ...).

Sebenarnya pada kalender islam bulan besar (jawa) sama dengan/termasuk bulan Dzulhijjah, keistimewaan dari bulan ini (menurut kalender islam) diantaranya adalah The great of Hajj yang lebih dikenal dengan ibadah haji (itupun dimulai dari bulan sebelummya dan ditutup pada Idl adha pada bulan dzulhijjah). *Sebab istimewanya (menurut Ibnu Hajar dlm kitab Fathul Baari) terutama pada 10 hari pertama bulan dzulhijjah karena pada hari tersebut merupakan berkumpulnya ibadah-ibadah utama yaitu sholat, shaum, shodaqoh, dan haji, dan tidak ada selainnya waktu seperti itu.

Mungkin karena hal tersebut maka orang-orang jawa mengutamakan bulan desember untuk melaksanakan hajatnya terutama perkawinan, karena menurut dongeng sebelum tidur, penyebaran agama islam di jawa tidak meninggalkan budaya dan adat jawa itu sendiri yaitu unsur kejawen yang di bawa oleh agama sebelumnya yaitu hindu-budha, jadi adat dan budaya bawaan itu sampai sekarang masih melekat, salah satunya perhitungan dan pencocokan nama pada pasangan menjelang pernikahan (wadooohh...kalo g cocok g’ jadi nikah dong).

Dan bulan ini adalah bulan Desember, sudah bisa di pastikan bahwa undangan pernikahan akan bejibun banyaknya, g’ tanggung–tanggung aku bisa menerima sampai 10 undangan di bulan ini dari teman kantorku, teman suami, tetangga dan keluarga. Dari keluargaku sendiri aja ada 2 orang yang menikah, adik sepupu-anak dari tanteku pada tanggal 1 Desember dan adik kandung suamiku pada tanggal 4 Desember. Ada 2 hal menarik yang terekam di kepalaku pada pesta pernikahan mereka berdua.

Pertama. Pernikahan adik sepupuku, keluargaku harus menempuh jarak -+ 200 km untuk sampai ketempatnya tinggal, rumah si mbah (kakek dalam bahasa jawa), pertama kali yang aku lihat ketika tiba disana adalah suasana rumah tampak lengang tidak ada hiasan apapun atau suara musik yang mencerminkan akan adanya hajat di rumah itu. Yang tampak ramai hanya dapur, dipenuhi aneka masakan, tetap masakan has desa sambal goreng ati, bihun goreng, kering tempe, ayam bumbu lodo, dan aku lihat adik sepupuku sedang duduk di dingklek kayu sendiri, mengiris kentang untuk campuran sambal goreng ati katanya (whatt!! She gonna be married... how come!!). Aku dan ibu kaget banget, besuk dia akan jadi pengantin harusnya dia perawatan prawedding luluran kek facial kek atau apalah yang biasa dilakukan perempuan sebelum menikah, bukannya duduk jongkok di dapur ngupas kentang dan berkotor-kotor begini. Kata si mbah dia melakukan hampir semua sendiri, belanja, memasak, beli minyak, mengurus ibunya (oh my goodness... i can’t stand!), hampir aku menangis melihatnya dan keadaan ini, ibunya cuma bisa tidur karena ketidakmampuannya melawan kanker, si mbah sudah tua g’ mungkin melakukan pekerjaan berat, dan keuangan yang sangat minim membuatnya g’ mungkin memakai jasa wedding organiser, welly nelly kami keluarganya yg membantu walapun jauh dan sibuk kami sangat megusahakan datang.
“ ora enek apa-apa, gur ngijabne pokoke syah, bar ngono walimahan, undangane gur wong 20 tangga dewe, teka keluarga lanange kira-kira mung 20, acarane sesuk bengi” begitu kata si mbah bercerita ketika ibu bertanya tentang jalan acaranya
Tidak ada pesta apapun undangan cuma 50 orang tetangga dekat dan keluarga saja, setelah ijab qobul, walimah, dan selesai, dengan berbagai pertimbangan acara di laksanakan malam hari ba’dha magrib. 
Setan telah menguasai diriku ketika keesokan harinya salah satu saudara menyuruh dia membeli kantong plastik, gula, dan kardus
“ Heh! Bocah iki arepe dadi manten. Ora usah ngongkon-ngongkon! Budal dewe kono!!”
Kurang beberapa jam dia jadi pengantin harusnya dia mempersiapkan dirinya, aku heran orang-orang ini ngerti keadaan g’ sih seenaknya aja, hari biasa boleh lah nyuruh-nyuruh tapi ini hari istimewanya please ... give her a chance. Sekali lagi hampir aku meloncat ketika adik sepupuku yang lain memberitahuku belum ada perias pengantinnya, Astaghfirullah ... pernikahan apa ini!, “Ya udah kamu cari perias di daerah sini nanti mbak pit yang bayar, bilang kita cuma pake jasa riasnya aja, baju udah mbak bawain tuh kebaya putih, trus suruh dina coba bajunya pas g?, kalo kedodoran kan masih ada waktu ngecilin, habis itu jangan balik ke dapur lagi diem aja di dalem, ngapain gitu nonton tivi atau apa”. Persis orang tua aku ngomel, memang aku tertua di antara yang lain (aku cucu tertua), dan herannya g ada yang berani membantah satupun kalimatku termasuk ibu.
Begitulah sedikit gambaran persiapan Mantenan adik sepupuku yang penuh keharuan. Malam harinya keluarlah calon pengantin dari kamarnya dina tampak cantik walau dengan riasan dan baju sederhana- kebaya putih gading. Alhamdulillah ... segala puji bagi Allah yang Maha Mengatur Segala acara diberi kemudahan dan kelancaran. Setelah pengantin dinyatakan syah sebagai suami istri, setelah mas kawin uang tunai (yang hanya) Rp. 500.000 diserahkan, dan dibacakanlah doa “Barokallahu laka wa baaroka ?alaika wa jama?a bainakumaa fii khoir tanpa sadar aq meneteskan airmata dan berdoa dalam hati (semoga bahagia din, always... all the best for you...).

Kemudian yang kedua. Pernikahan adik kandung suamiku atau adik iparku, yang jauh dari kata sederhana. Perias dan dekorasi pengantin, catering, dan foto & video editing dari luar kota, tempat yang bagus menurut dia. Foto prewedding, perawatan pra nikah (dari facial sampai spa), prosesi acara menggunakan adat jawa (walau setengah-setengan), dari acara siraman, midodareni dimalam harinya. Dan keesokan harinya acara akad nikah yang digelar di tenda halaman rumah yg di tata sangat cantik, dengan busana yang mewah (menurut ukuranku), ketika iring-iringan mempelai laki-laki tiba dengan bawaan seserahan yang tidak sedikit, dan  mas kawin seperangkat alat sholat dan periasan emas 33 gram, itu cukup membuatku berdecak. Itu baru akad nikah-masih ada resepsi dimalam harinya yang digelar di gedung serbaguna dengan undangan 2 ribu orang, aku sudah membayangkan betapa WOW pesta nanti malam. Dan benar saja ketika sore hari aku dan suami tiba digedung untuk dirias (semua keluarga dirias dan memakai seragam) sdh ada beberapa pasang orang yg antri untuk didandani, ada yang sebagai terima tamu, penjaga buku tamu, menjaga kotak uang, memberikan kartu souvenir, dan memberikan souvenir. Ribet banget sih! Setelah semua ready di tempat masing-masing kelihatanlah mewahnya acara ini, warna merah yang menjadi nuansa semakin menambah kesan mewah, berapa puluh juta mereka merogoh saku atau mungkin mencapai ratus juta...Ups! hampir lupa, ada prosesi temu manten, sungkeman, panggih besan, kemudian di akhir acara setelah tamu pulang semua ada prosesi kirap manten (pengantin turun dari kursi dekorasi, berjalan menuju meja makan yg sudah dihias sedemikian rupa dan menyantap makanan yang sudah disediakan). Masyaallah... ada apa denganku? Iri atau apa?... dari awal hingga akhir acara tidak satupun kalimat doa terucap... mungkin karena tak kulihat adanya sesuatu yang bernama “sakral” dan hanya terlihat mewah saja. Astaghfirullahaladim... 

 Rujukan :
1,2 :  Primbon dan pakuwon joyoboyo
*    : Ibnu Hajar dlm kitab Fathul Baari