Selasa, 07 Agustus 2018

dia?

Dengar, hai dengar
suara lembut melengking memecah senyap
membahana serupa cahaya pada cinta yang menantinya
tergelak gulana membelai merengkuh sukma sahaja
dia yang hadir

Ujung rambutnya menjuntai lunglai meliuk berombak
rupawan memesona gemulai nian Ratu elok tak terkira
lagu mengalun merdu mensyairkan nada rindu mendayu
ah... siapakah yang tak terayu mendengar lantunan suaranya?
dia yang cantik

Anginpun berhenti bertiup ketika rambutnya tergerai
awan serta-merta menutup pancaran panas mentari
debu jalanan mundur teratur membuat barisan
demi tetap menempatkan lengkung disudut bibir dan kerling matanya
dia yang tersenyum

Langkahnya berayun-ayun bersama bayang disudut kakinya bagai tak meninggalkan tapak
lambaian jemari seruncing duri gemulai bak tangan-tangan nyiur menari dikala senja
belum lagi senyumnya yang serupa bulan sabit seolah enggan meninggalkannya
Sudikah kiranya Tuan menyapanya?
dia yang rupawan

Sudah kah?
sudah tahukah jika dia hanya melengkungkan bulan sabitnya didepanmu saja?
sudah tahukah jika dia hanya berjalan dengan bayang disudut kakinya saja?
sudah tahukah jika dia hanya menjuntaikan rambutnya bersama debu dan sengat mentari saja?
sudah tahukah jika dia hanya bernyanyi bersama hembusan angin yang menjadikannya badai saja?
nyatanya, dia hanya sendiri...

Oh, Tuan.....bagaimanakah rupa bulan mati?
alam semesta ini hanya gelap semata tanpa cahaya, tanpa pesona, tanpa ceria
gurun sahara lebih baik kiranya memantulkan fatamorgana bagi para penggembala onta
meskipun jalan terseok-tertatih tak apa lah, asalkan mendapat janji dimana akan berhenti merebah
daripada hanya terkenang, membayang pada suatu negeri antah berantah yang ragu jejaknya
nyatanya, dia tak bahagia...

Dan kau bertanya pula Tuan...
untuk siapa dia hadir?
untuk siapa dia menjadi cantik?
untuk siapa dia tersenyum?
untuk siapa dia menjadi rupawan?
nyatanya, dia tak bahagia...


6 Agustus yang lalu.....




Kamis, 02 Agustus 2018

Kelang-siur

Aku ingat jalan ini.
jalan yang meliuk-liuk meng-anak ular ini... yang memisahkan kita.
Ingat kah kau?

Ketika itu, hanya ada pekat di luar sana, hanya ada gelap di depan sana, dan petir diatas sana
Bulan seperti bersembunyi takut menampakkan diri yang rupawan dan bintang serta merta menjadi buta tanpa kedipan
Entah dewa apa yang sedang berperang, sehingga komposisi alam begitu sempurna malam itu

Kau pasti melupakannya.
Benar sekali. Untuk apa mengingatnya?
Seperti menanam mawar kemudian kau siram dengan limbah nuklir, mematikan mawar itu.
Merahnya akan menjadi hitam kemudian menggugurkan kelopaknya satu demi satu, pada akhirnya akan mengering.

Tapi aku mengingat semuanya.
Aku hafal aromanya yang menyengat, bentuknya yang indah memesona, wajahnya yang-mungkin rupawan, suhunya yang dingin menusuk tulang, suaranya yang melengking bak Burung Rajawali, ukurannya yang panjang meliuk-liuk seperti berbentuk anak ular.
Aku masih mengingat semuanya.....

Ah, barangkali kita tidak perlu mengingat sesuatu yang mungkin hanya sekelebat
angin saja, banyak wajah-wajah rupawan disekelilingmu yang lebih memesona, walaupun mungkin itu bisa dilepas dan diganti dengan mimik lain,
anggaplah yang berdiri ini seorang Dewi Pandora dengan malapetaka yang siap menghancurkan siapa saja, dan apa saja.

Kelang-kelok, Lika-liku, Berselit-selit, Berbelok-belok, Kusut, Rumit, Berselit-selit, Simpang-siur, Ruwet