Bagaimana aku menggambarkan semua ini.
Dia datang ketika aku lebur dalam isak dan gulita, dia menyadarkanku
bahwa dunia ini berwarna seindah pelangi, seindah tamansari penuh bunga. Dia
adalah perwujudan Malaikat, dia bisa menjadi Malaikat Jibril yang menyampaikan
pesan cinta untukku, dia bisa menjadi Malaikat Ridwan yang menjaga syurga untuk
jiwaku dan aku bisa masuk dari pintu manapun yang kumau, dia bisa menjadi
Malaikat Isrofil yang meniupkan sangkakala untuk kehancuran dan kematianku, dia
bahkan bisa menjadi Malaikat Izrail yang siap mencabut nyawaku kapan saja. Dia
menggenggam tanganku dengan damai –genggamannya sanggup melumerkan bongkah es
dalam hatiku dan mengikis karang dalam kepalaku, dia berbicara dengan lembut –
tutur katanya seperti gelombang elektromagnetik yang sanggup membuat jantungku
beresonansi sekian ribu detak dalam satu menit. Dia menatapku dengan teduh –
keteduhan yang selalu aku ingin tinggal didalamnya. Dia sangat mencintaiku
dengan seluruh jiwanya, seluruh hidupnya, dan matinya. CINTAnya sangat sempurna, teramat sempurna. Karena aku adalah
hatinya – sebuah hati yang telah hancur pada ribuan tahun silam bahkan sebelum
kami diciptakan, dia menghabiskan lebih dari separuh hidupnya untuk mencarinya,
dan sekarang dia menemukannya kembali. Hatinya. Aku adalah Hatinya.
Dan aku, aku begitu memujanya dengan seluruh hatiku, jantungku, jiwaku,
hidupku, dan matiku, seperti itu aku mencintainya. Duniaku berhenti ditangannya, hidupku berhenti
di teduh matanya, dan matiku berhenti dilangkahnya - artinya aku bisa mati jika
dia meninggalkanku. Bagaimana aku tidak mencintainya jika dia melalukan
semuanya hanya untukku, apapun yang aku mau akan dilakukannya.
10.000 tahun sebelum masehi, Tuhan menciptakan sebuah tubuh tanpa hati,
dan memecahnya menjadi dua. Tubuh tak berhati itu terlempar ke ujung dunia,
satu kebarat satu ketimur. Dengan rantai di kakinya, luka di dadanya, nanar di
matanya, dan beku di bibirnya, dua tubuh itu mencari hatinya yang belum
diciptakan. Dua tubuh itu mengembara dari timur kebarat, dari barat ke timur –
tanpa tujuan, tanpa kepastian, dan mungkin tanpa akhir. Lukanya semakin parah,
kakinya berdarah dan bernanah, mata nanarnya semakin mengkristal, bibir bekunya
menjadi kering dan pecah, betapa berat beban yang harus dipikul tubuh itu,
tubuh tanpa hati.
Ketika bumi mengerucut, dihari ketujuh ciptaanNya yang sempurna, dengan
Aurora ungu tanpa cela dan galaxy berpendar pada cangkangnya. Didasar laut yang
membeku dengan suhu dibawah 6 derajat celcius, di antara pepohonan pinus yang
terendam air, diantara lebih dari 275 artefak, dikedalaman 250 kaki dibawah air
– yang bahkan arkeologpun tidak pernah berfikir akan tempat itu. Dua tubuh tak
berhati itu untuk pertama kalinya saling menatap, memegang dadanya
masing-masing yang terasa penuh – untuk pertama kalinya dirasakannya jantungnya
berdetak, kakinya seputih salju – tak ada lagi luka darah dan nanah disitu,
matanya memancarkan pesona purnama kehangatan dalam cinta, bibirnya menyungging
bak bulan sabit menyunggingkan senyuman, semua luka sirna bersama berlalunya
angin. Ketika tangan mereka saling menggenggam – mata mereka saling berbicara –
bibir mereka saling menghangatkan – jantung mereka saling mengejutkan, seketika
itu pula mereka lebur menjadi satu, seperti ketika Tuhan menciptakan sebelum
membelahnya menjadi dua, tapi kali ini ada jantung yang berdetak didalamnya dan
hati yang memancarkan cinta. Sejenak sebelum terlebur mereka berucap dengan
bersamaan “Aku telah mencintaimu selama berjuta tahun”.

