Aku mencakar dadaku, menancapkan kuku-kukuku hingga merobek dadaku, darahnya muncrat berhamburan membasahi tubuhku, mengenai wajahku. Kutancapkan kukuku semakin dalam, melalui urat nadiku, melampaui selang-selang aliran darahnya, dan kukoyak jantungnya, kugenggam erat-erat sumber darah itu, kutarik keluar dari cangkangnya. Kubenturkan kepalaku pada cadas runcing berkali-kali dan berkali-kali, sehingga nyari hancur dan menghamburkan isinya. Mataku melotot hampir meninggalkan rongganya, air putih kekuningan keluar dari sudut-sudutnya. Mulutku diam.
"Aku mencintaimu" ucap laki-laki itu padaku
"Apa bukti cintamu? dengan membohongiku selama bertahun-tahun?, dengan menipuku selama ini? dengan tidak menghargaiku?"
"Apa aku salah bicara jujur seperti ini? Hargailah kejujuranku"
"Dengan membohongiku dan menipuku selama bertahun-tahun, apakah itu menghargaiku?"
"Setidaknya aku sudah berkata jujur"
"Dunia ini milik laki-laki. Ketika laki-laki melakukan kesalahan bahkan dosa, dunia menilainya wajar dan biasa saja, bukan hal besar, tidak perlu dibahas. Tapi sebaliknya, jika perempuan yg melakukan kesalahan, dunia menganggapnya wanita nakal, perempuan tidak benar, liar, sundal, dan lain-lain"
"..........................................................................."
"Kenapa tidak kau bakar saja mulutmu ketika kau memasukkan barang haram itu ke mulutmu"
Aku mengambil bilah pisau tembaga bermata dua, berganggan kayu, dari kilaunya saja terlihat begitu tajamnya, kedua sisi matanya seolah menghinaku, terawa sinis padaku, dan berkata dengan nada merendahkanku "Perempuan bodoh". "Mungkin hanya darah ku yang bisa membuatmu puas" jawab ku. Kemudian dengan segera aku menggorokkan bilah pisau itu ke lambungku sedalam-dalamnya dan menariknya kembali hingga isinya meloncat berhamburan. Kemudian kuarahkan bilah bermata dua itu di leherku, ku gorok leherku, ku koyak tenggorokanku hingga memutus urat nadinya, memotong pita suaranya, menghancurkan tiroidnya. Leherku nyaris putus. Mulutku diam.
Dia meminta segala-galanya dariku. Dia mengambil segala-galanya dariku. Dan aku memberikan segala-galanya padanya. Hingga tak tersisa lagi apa-apa pada diriku, walaupun hanya setetes darah ataupun setetes airmata. Malangnya... aku tidak mendapatkan apa-apa. Dia tidak pernah memberiku apa-apa, tidak pun sebiji sawi. Itulah tanda cintanya padaku. Menghancurkanku.
Aku membencinya hingga ke urat nadiku, hingga ke tulang sumsum ku. Aku ini manusia bodoh yang sangat luar biasa, saking bodohnya aku tidak tahu ketika dia membodohiku dengan bungkus kata-kata cintanya yang semanis manisan Turki.
Sungguh dia laki-laki laknat. Ketika aku mendoakannya di penghujung malam ku, di setiap sujud ku, di setiap helaan nafasku, dia sedang bersenang-senang bersama kelompok sesama laknatnya, melakukan sesuatu yang sangat aku murkai. Dengan perasaan damai sejahtera aman sentosa. Dan sekarang dengan sangat ringan dia memintaku menghargainya karena dia sudah berkata jujur. Lalu, bertahun-tahun penghianatannya, tipu dayanya, dan kekejamannya, harus aku terima, tanpa boleh aku menyimpan luka atau kecewa? Apa dia pikir aku ini robot yang tak punya perasaan, yang dengan satu program semua selesai? menghapus memori lama atau file-file yang terekam dalam Hard disk otakku kemudian menggantinya dengan file baru dan memori kosong tentunya. Kalau begitu menikah saja dengan boneka seks buatan Jepang.
Seketika aku terbang melewati awan comulunimbus diatas ketinggian lima puluh tujuh ribu kaki diatas permukaan laut. Seketika itu pula aku menangkap hitamnya, memilin tetes-tetes airnya, mengumpulkan anginnya, dan menyulamnya menjadi petir yang akan menghancurkan apa saja yang melewatinya, atau tubuhku sendiri yang akan kulempar kedalamnya. Sesaat kemudian aku sudah berada di reruntuhan Yunani, diantara bebatuan Petra yang menjulang tinggi, ditengah colosseum, bersama dengan sembilan ekor singa berambut gimbal mengelilingiku. Matanya merah sangat liar, air liurnya menetes tak beraturan-sepertinya dia sangat lapar, badan besar dan gagah, siap menyantapku. Dan aku mempersilahkan tubuhku menjadi santapannya, biarlah mereka menjilat, menggigit, mencengkeram, menginjak, mematahkan, dan mengoyak tubuhku. Biarlah.
Satu hal yang saat ini ingin aku lakukan adalah pergi meninggalkanmu. Walaupun aku harus menghabiskan waktu tiga juta tahun.
13 Juli 2017,
