Minggu, 30 Oktober 2016

Sesak Dadaku


Lalu, kau temukan diriku adalah sepasang sepatu lusuh dengan sol yg terbuka,
Atau sebuah payung yang patah jerujinya dan robek kain penutupnya,
Atau seikat mawar putih yang telah rontok kelopaknya dan menyisakan duri-duri di tangkainya,
Atau seorang pincang dengan baju hitam panjang diantara beribu manusia berbusana putih.

Dan,  tiba-tiba semua berbalik menyerangku,
Dinding-dinding, jendela, kusen kayu, daun pintu,  atap genting, bahkan ubin marmer ini,
Menjadi hidup,  bermata, bertelinga, bermulut,  dan bergerak,
Mengangkat tangannya, menghunuskan belati yang terselip diantara jemarinya,
Menancapkannya tepat di jantungku.

Apa yang kau lihat kini?
Mata teduh itu telah tumbang menyisakan nanar,
Lembut hati itu telah sirna meninggalkan lubang nganga,
Senyum sabit itu telah tenggelam bersama guratan galaxy,
Tegak langkah itu telah roboh dihantam deru gunungan ombak.

*( .... ini bukan puisi
sebab, puisi harus ditulis dengan hati, dengan nadi, dengan darah,
sedang aku...
tak mungkin menulisnya,
sebab tlah kau robek nadiku, kau sayat aortaku,
kau ambil darahku dan tak sisa lagi padaku.
Mr. Agus Sunjata)

Rujukan:
1) * Potongan Puisi Mr.  Agus Sunjata
2) ilustrasi gambar orang tenggelam Sutterstock 


Senin, 10 Oktober 2016

Samudra Mengering



Sore ini ditaman yang riuh ini, diatara cyber yang berhamburan, dan sport line yang berserakan, aku berdiri di antara dua cantik 1)dendrobium phalaenopsis dan 2)phalaenopsis amabilis menjulang menempel pada pohon akasia disudut taman. Aku melihat sebuah bangku panjang penuh dengan daun berwarna kuning kecoklatan dan seorang laki-laki paruh baya berkacamata minus sedang membaca (mungkin) novel duduk di bangku itu. T shirt putihnya, celana panjangnya, jam tangannya dan sepatu sneakersnya terlihat begitu rapi dan serasi, sepertinya (kelihatannya) hidupnya juga sangat rapi. Aku melangkah menghampirinya.
"George, sudah lama menunggu?" Sapaku.
Laki-laki paruh baya itu menghentikan membacanya, menoleh kepadaku dan...
"Kate, 15 minutes, where have you been so long? I can't wait to meet you".
Aku tersenyum saja, mendekat, mencium keningnya, dan duduk disamping kirinya. Aku mengambil buku yg dibacanya, kututup-kuletakkan disampingku, kuraih tangan kirinya-kugenggam dan kucium. Matanya berbinar, bibirnya menyunggingkan senyuman, tangan kanannya meraih tanganku dan menggenggamnya, sebelumnya memegang kepalaku dan mencium keningku.
"Kamu selalu bisa melumerkan hatiku kate, dalam suasana apapun" ucapnya lembut dan kubalas dengan kalimat sapu jagat
"aku mencintaimu george, dalam suasana apapun" dan kemudian dia memelukku erat, erat sekali seperti tak mau lagi dilepaskan.

Laki-laki itu menghabiskan setengah dari hidupnya berkubang dalam lumpur deritanya, sendiri, tanpa harapan, tanpa cinta, satu-satunya sandaran dan pegangan hidupnyapun telah dihancurkan. Sampai-sampai dia lupa bagaimana rasanya cinta, bagaimana rasanya dicintai dan mencintai, yang dia lakukan hanyalah memenuhi kebutuhan saja: ketika lapar dia akan makan, ketika haus dia akan minum, ketika mengantuk dia akan tidur, dan begitu setiap hari. Dia terbiasa makan makanan busuk dan menjijikkan, dia terbiasa minum air comberan, dia terbiasa tidur di kandang babi yang kotor, dia terbiasa melumuri tubuhnya dengan kotoran, bercengkrama dengan bangkai-yang seringkali di makannya juga. Hidup dalam gorong-gorong yang entah dimana ujungnya, tanpa cahaya, sedikit udara, dan bau lembab yang amis. Hidup tanpa jiwa, tanpa roh, seperti mayat hidup. Bagaimana kau atau kalian akan menjalani hidup seperti dia, tanpa harapan dan cinta? tanpa sandaran dan pegangan hidup?.

"Beruntung aku menemukanmu kate, you light up my life kate, you give me light to guide me not stumbling, it helps me to passing through my darkness world" itu kalimat yang slalu dia ucapkan, lebih tepatnya jawaban tanpa pertanyaan.
"George, kalau aku harus mengulang hidupku lagi, aku pasti memilihmu, untuk mendampingimu menghabiskan hidupku bersamamu, melahirkan anak-anakmu, membesarkan mereka, melihat mereka tumbuh"
George memandangku lama sekali, matanya berkaca-kaca, kemudian titik-titik bening jatuh dari matanya yang lelah, kemudian dia mmemelukku erat, erat sekali
"Aku bahagia kate, sangat bahagia. Aku tidak pernah berphikir akan menemukan cinta sejatiku disini, disaat genangan lumpur ini mencapai leherku, hampir benar-benar menenggelamkanku. Jika Tuhan harus mengambil nyawaku sekarang aku iklas, setidaknya aku bisa merasakan bagaimana cinta itu, cinta yang sesungguhnya, cintamu. Aku akan mati dengan senyuman, dalam pelukanmu, dalam mata teduhmu, diantara damai senyummu. Tapi aku bahagia".
Samudra saja tidak mampu menampung banyaknya air mata dari pecinta yang merana meregang nyawa, yang kehilangan segalanya, demi cinta. Langit pun tak sanggup menanggung duka nestapa para pelaku cinta yang tulang-belulangnya kehilangan tonggak penyangga jiwanya. Bahkan bumipun tak kuasa menahan gelora asmara para deritawan-deritawan cinta yang hatinya, jantungnya, dan jiwanya tertancap ujung tombak, hancur, dan terrenggut atasnya, hingga menyisakan lubang nanar dengan warna merah yang sangat khas berbau anyir. Darah.

Pembuktian atas apa yang yang KAU minta? Apakah kami harus membalikkan bumiMu ini? Apakah kami harus mengeringkan samudraMu ini? Apakah kami harus membelah Matahari dan BulanMu menjadi berkeping-keping?. Lihatlah dua fakhir yang menderita atas anugerahMu yang tak terhingga, yang tak sanggup menanggungnya. Duhai... Jangan memberikan apa-apa yang tidak sanggup kami menanggungnya...

Catatan Kaki :
1.      1) dendrobium phalaenopsis: Nama latin Anggrek Larat (berwarna ungu) termasuk satu dari 12 spesies anggrek langka yang dilindungi di Indonesia. Anggrek Larat (Dendrobium phalaenopsis) juga ditetapkan sebagai flora identitas provinsi Maluku.
Selengkapnya : http://www.tipsrawatrumah.com/2015/05/dendrobium-phalaenopsis-anggrek-larat.html
2.         2)phalaenopsis amabilis: Nama latin Anggrek Bulan Bunga Nasional Indonesia.
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/wardhanahendra/kenali-lebih-dekat-phalaenopsis-amabilis-bunga-nasional-indonesia_55107cec813311ca35bc6712
3.   Ilustrasi gambar : http://archive.kaskus.co.id/thread/16550784/0/subhanallah-air-laut-membeku-   di-pakistangan