Aku melihatnya, dengan kacamata sportinya, berbalut jaket hitamnya bertuliskan
"don't talk just act", diatas motor sportnya melaju pelan diantara kilau cahaya
pagi diantara berisik jalan protokol, setiap pagi. Tubuh diatas motor sport itu yang selalu ingin kupeluk, laki-laki berkacamata sporti dengan jaket hitam itu yang selalu kurindukan, yang membuatku bersemangat
berlomba dengan jam dinding mengejar bis transjakarta pukul 7.10, setiap pagi. Ah...aku tersenyum sendiri didalam bis ini, melihatnya
serius memperhatikan jalanan yang penuh dengan pengendara yang terburu-buru. Berkali-kali tangannya dikibas-kibaskan
didepan mukanya ketika metromini menyemburkan asab hitam didepannya, hey...
kenapa dia tidak pernah memakai masker? aku baru sadar, dia tidak pernah
menutup mukanya dengan penutup wajah. Matanya sedikit memicing mungkin karena silau terkena cahaya matahari pagi
walaupun sebenarnya arahnya berlawalan dengan matahari, justru arahku yang
menantang matahari seharusnya mataku yang memicing terkena silau cahaya
matahari.
Dan sebenarnya dialah yang menjadi cahaya untuk mataku, hadirnya bagai
cahaya pagi mentari untuk hidupku. Ketika bis yang aku tumpangi sampai
disebelahnya, menjejeri motornya, tangannya gemetar, motor sportnya agak oleng, dan lagi-lagi aku tersenyum melihat kegugupannya. Aku selalu memandangnya dari dalam bis lewat
kaca jendela di sebelah kanan. Aku selalu mengambil tempat duduk disebelah kanan, bangku nomer tiga dibelakang supir, supaya bisa melihatnya, walaupun sinar matahari pagi selalu menyilaukan mataku
dan semua penumpang menutup korden agar tak silau, tapi aku tak pernah menutup
korden jendela bis, aku tak mau sampai terlewat dan kehilangan moment
memandangnya, dan biasanya aku memandangnya sampai punggungnya menghilang di
belokan pertigaan menuju tempatnya bekerja. Kemudian kutempelkan
tanganku di kaca jendela sembari berucap "see you tomorrow my gosh
rider". Ups! "my"? lancang sekali aku memanggilnya dengan
sebutan "my". Dia bahkan tidak tahu atau mungkin tidak akan pernah
tahu, bahwa ada seorang perempuan yang diam-diam memperhatikannyan dengan hati
bergetar
Tapi kadang-kadang aku tidak bisa melihatnya,
satu hal karena aku bangun kesiangan dan terlambat mendapatkan bis trasjakarta pukul 7.10 pagi. Yang akhirnya dengan mata berair aku harus menaiki bis
seperempat jam kemudian, yang artinya aku tidak bisa memanjakan mataku
memandangnya walaupun dari jarak kurang lebih 20 meter, tidak bisa melepaskan
rinduku walaupun hanya dalam beberapa detik saja, rindu pada laki-laki berjaket
hitam dengan kacamata sporti dan motor sport itu. Dia selalu lewat jalan ini
pukul 7.35 sebelum menghilang di pertigaan Mall Atrium Senin. Kadangkala dia
menatap bis yang aq tumpangi dengan matanya yang tajam, bibirnya agak meringis
memperlihatkan deretan giginya yang rapi, entah apa yang ada dalam pikirannya
saat itu. Ah, bagaimana bisa aku
jatuh cinta pada seseorang yang hanya bisa kupandang dari jarak
kurang lebih 20 meter ini? Aku tidak tau, apakah ini cinta? Yang pasti hatiku
selalu berdebar sangat kencang setiap kali melihatnya, sudut mataku selalu
berair setiap kali memandangnya, rasanya aku ingin turun saja dari bis ini dan
berlari mengejarnya kemudian memeluknya. Berhayal, boleh kan? Siapa
tahu Yang Maha Mengetahui segala gerak
hati menggerakkan tanganNya dan membuat semuanya menjadi mungkin. Seperti kutipan
yang pernah kubaca Souls recognize each other by vibes, not by appearance...
See, mungkin saja dia juga sedang mencariku karena hatinya selalu bergetar.
Ah... tapi Aku tidak mengenalnya, aku
bahkan tidak tahu namanya, dimana rumahnya, dimana kerjanya. Yang aku tahu
hanya gurat melengkung diatas kepalanya yang menyerupai pelangi memayunginnya
setiap kali aku memandangnya dari kejauhan.
Aku merasa sejuk setiap kali memandangnya, seperti jalan yang baru saja
diguyur hujan setelah lama kering, seperti berada ditengah-tengah hutan pinus
dengan suara elang dikejauhan, seperti ketika berada didekat air terjun
walaupun tidak tepat dibawahnya tapi cipratan airnya pasti mengenai kita.
Tiba-tiba hiruk pikuk Jakarta berubah menjadi dataran luas dipenuhi tumbuhan bunga
belukar warna-warni. Terlihat kawanan kijang hutan disana sedang menghabiskan
sarapannya rumput-rumput yang segar. Kelinci berlompatan kesana-kemari main
petak umpet diantara lubang tanah danangkal pohon mati berebut wortel.
Singa-singa bergerombol memainkan ekornya dan menjilati rambutnya. Aku melewati Halte Gambir, Monumen Nasional
dikananku terlihat anggun dan kokoh, berarti tidak lama lagi aku harus turun
dari bis ini, dipemberhentian terakhir, Halte Harmoni. Well, rutinitasku.
Dengan senyummu dalam tasku, diantara dompet, lipstik, tisyu, boll points,
ipad, dan hatiku. See you tomorrow...

