Dengar, hai dengar
suara lembut melengking memecah senyap
membahana serupa cahaya pada cinta yang menantinya
tergelak gulana membelai merengkuh sukma sahaja
dia yang hadir
Ujung rambutnya menjuntai lunglai meliuk berombak
rupawan memesona gemulai nian Ratu elok tak terkira
lagu mengalun merdu mensyairkan nada rindu mendayu
ah... siapakah yang tak terayu mendengar lantunan suaranya?
dia yang cantik
Anginpun berhenti bertiup ketika rambutnya tergerai
awan serta-merta menutup pancaran panas mentari
debu jalanan mundur teratur membuat barisan
demi tetap menempatkan lengkung disudut bibir dan kerling matanya
dia yang tersenyum
Langkahnya berayun-ayun bersama bayang disudut kakinya bagai tak meninggalkan tapak
lambaian jemari seruncing duri gemulai bak tangan-tangan nyiur menari dikala senja
belum lagi senyumnya yang serupa bulan sabit seolah enggan meninggalkannya
Sudikah kiranya Tuan menyapanya?
dia yang rupawan
Sudah kah?
sudah tahukah jika dia hanya melengkungkan bulan sabitnya didepanmu saja?
sudah tahukah jika dia hanya berjalan dengan bayang disudut kakinya saja?
sudah tahukah jika dia hanya menjuntaikan rambutnya bersama debu dan sengat mentari saja?
sudah tahukah jika dia hanya bernyanyi bersama hembusan angin yang menjadikannya badai saja?
nyatanya, dia hanya sendiri...
Oh, Tuan.....bagaimanakah rupa bulan mati?
alam semesta ini hanya gelap semata tanpa cahaya, tanpa pesona, tanpa ceria
gurun sahara lebih baik kiranya memantulkan fatamorgana bagi para penggembala onta
meskipun jalan terseok-tertatih tak apa lah, asalkan mendapat janji dimana akan berhenti merebah
daripada hanya terkenang, membayang pada suatu negeri antah berantah yang ragu jejaknya
nyatanya, dia tak bahagia...
Dan kau bertanya pula Tuan...
untuk siapa dia hadir?
untuk siapa dia menjadi cantik?
untuk siapa dia tersenyum?
untuk siapa dia menjadi rupawan?
nyatanya, dia tak bahagia...
6 Agustus yang lalu.....
Mari Kemari, datang... Datanglah Mari Kemari Datanglah Siapa Pun Dirimu. Pengelana, Peragu, dan Pecinta Mari... Kemari Datanglah Tak Penting Kau Percaya atau Tidak… Mari, kemari … Datanglah Kami Bukanlah Caravan Yang Patah Hati... Atau Pintu-Pin tu dari Keputus- asaan, Mari Kemari Datanglah... Meski Kau Telah Jatuh Ribuan Kali, Meski Kau Telah Patahkan Ribuan Janji, Mari Kemari… Datang. . . Datanglah Sekali Lagi… ( Mawlana Jalaludin Rumi )
Selasa, 07 Agustus 2018
Kamis, 02 Agustus 2018
Kelang-siur
Aku ingat
jalan ini.
jalan yang
meliuk-liuk meng-anak ular ini... yang memisahkan kita.
Ingat kah
kau?
Ketika itu,
hanya ada pekat di luar sana, hanya ada gelap di depan sana, dan petir diatas
sana
Bulan seperti
bersembunyi takut menampakkan diri yang rupawan dan bintang serta merta menjadi
buta tanpa kedipan
Entah dewa apa yang sedang berperang, sehingga komposisi alam begitu
sempurna malam itu
Kau pasti
melupakannya.
Benar sekali.
Untuk apa mengingatnya?
Seperti
menanam mawar kemudian kau siram dengan limbah nuklir, mematikan mawar itu.
Merahnya akan menjadi hitam kemudian menggugurkan kelopaknya satu
demi satu, pada akhirnya akan mengering.
Tapi aku
mengingat semuanya.
Aku hafal
aromanya yang menyengat, bentuknya yang indah memesona, wajahnya yang-mungkin rupawan,
suhunya yang dingin menusuk tulang, suaranya yang melengking bak Burung
Rajawali, ukurannya yang panjang meliuk-liuk seperti berbentuk anak ular.
Aku masih
mengingat semuanya.....
Ah,
barangkali kita tidak perlu mengingat sesuatu yang mungkin hanya sekelebat
angin saja, banyak wajah-wajah rupawan disekelilingmu yang lebih
memesona, walaupun mungkin itu bisa dilepas dan diganti dengan mimik lain,
anggaplah
yang berdiri ini seorang Dewi Pandora dengan malapetaka yang siap menghancurkan
siapa saja, dan apa saja.
Kelang-kelok,
Lika-liku, Berselit-selit, Berbelok-belok, Kusut, Rumit, Berselit-selit,
Simpang-siur, Ruwet
Langganan:
Postingan (Atom)

