Bulan ini adalah bulan baik (menurut hitungan jawa) bagi pasangan yang akan
menikah, Menurut primbon jawa bulan ini termasuk / bernama bulan “besar”. 1).
Wataknnya bulan untuk : perkawinan: baik, kaya, mendapatkan kebahagiaan.
Mendirikan apapun : baik, banyak rejeki dan mendapatkan “ supangate” Nabi
Muhammad SAW. Menanam: Baik. Pindah rumah: baik, disayang sesamanya. 2). Tempat
Naga: -Bulan: Barat, -Tahun : Utara, Jatingarang: Utara. Jangan menuju ketempat
Naga dan Jatingarang. Itu menurut primbon jawa, kalo aku sendiri g’ ngerti sama
sekali hal-hal seperti itu, tepatnya sebelum menikah-karena ketika akan menikah
ada pihak yang membicarakan hal itu dan pernikahanku berdasarkan hal yang
sangat “tidak penting” (come on, we are mosleem ...).
Sebenarnya pada kalender islam bulan besar (jawa) sama dengan/termasuk
bulan Dzulhijjah, keistimewaan dari bulan ini (menurut kalender islam)
diantaranya adalah The great of Hajj yang lebih dikenal dengan ibadah haji
(itupun dimulai dari bulan sebelummya dan ditutup pada Idl adha pada bulan
dzulhijjah). *Sebab istimewanya (menurut Ibnu Hajar dlm kitab Fathul Baari)
terutama pada 10 hari pertama bulan dzulhijjah karena pada hari tersebut
merupakan berkumpulnya ibadah-ibadah utama yaitu sholat, shaum, shodaqoh, dan
haji, dan tidak ada selainnya waktu seperti itu.
Mungkin karena hal tersebut maka orang-orang jawa mengutamakan bulan
desember untuk melaksanakan hajatnya terutama perkawinan, karena menurut
dongeng sebelum tidur, penyebaran agama islam di jawa tidak meninggalkan budaya
dan adat jawa itu sendiri yaitu unsur kejawen yang di bawa oleh agama
sebelumnya yaitu hindu-budha, jadi adat dan budaya bawaan itu sampai sekarang
masih melekat, salah satunya perhitungan dan pencocokan nama pada pasangan
menjelang pernikahan (wadooohh...kalo g cocok g’ jadi nikah dong).
Dan bulan ini adalah bulan Desember, sudah bisa di pastikan bahwa undangan
pernikahan akan bejibun banyaknya, g’ tanggung–tanggung aku bisa menerima
sampai 10 undangan di bulan ini dari teman kantorku, teman suami, tetangga dan
keluarga. Dari keluargaku sendiri aja ada 2 orang yang menikah, adik
sepupu-anak dari tanteku pada tanggal 1 Desember dan adik kandung suamiku pada
tanggal 4 Desember. Ada 2 hal menarik yang terekam di kepalaku pada pesta
pernikahan mereka berdua.
Pertama. Pernikahan adik sepupuku, keluargaku harus menempuh jarak -+ 200
km untuk sampai ketempatnya tinggal, rumah si mbah (kakek dalam bahasa jawa),
pertama kali yang aku lihat ketika tiba disana adalah suasana rumah tampak
lengang tidak ada hiasan apapun atau suara musik yang mencerminkan akan adanya
hajat di rumah itu. Yang tampak ramai hanya dapur, dipenuhi aneka masakan,
tetap masakan has desa sambal goreng ati, bihun goreng, kering tempe, ayam
bumbu lodo, dan aku lihat adik sepupuku sedang duduk di dingklek kayu
sendiri, mengiris kentang untuk campuran sambal goreng ati katanya (whatt!! She
gonna be married... how come!!). Aku dan ibu kaget banget, besuk dia akan jadi
pengantin harusnya dia perawatan prawedding luluran kek facial kek atau apalah
yang biasa dilakukan perempuan sebelum menikah, bukannya duduk jongkok di dapur
ngupas kentang dan berkotor-kotor begini. Kata si mbah dia melakukan hampir
semua sendiri, belanja, memasak, beli minyak, mengurus ibunya (oh my
goodness... i can’t stand!), hampir aku menangis melihatnya dan keadaan ini,
ibunya cuma bisa tidur karena ketidakmampuannya melawan kanker, si mbah sudah
tua g’ mungkin melakukan pekerjaan berat, dan keuangan yang sangat minim
membuatnya g’ mungkin memakai jasa wedding organiser, welly nelly kami
keluarganya yg membantu walapun jauh dan sibuk kami sangat megusahakan datang.
“ ora enek apa-apa, gur ngijabne pokoke syah, bar ngono walimahan,
undangane gur wong 20 tangga dewe, teka keluarga lanange kira-kira mung 20,
acarane sesuk bengi” begitu kata si mbah bercerita ketika ibu bertanya tentang
jalan acaranya
Tidak ada pesta apapun undangan cuma 50 orang tetangga dekat dan keluarga
saja, setelah ijab qobul, walimah, dan selesai, dengan berbagai pertimbangan
acara di laksanakan malam hari ba’dha magrib.
Setan telah menguasai diriku ketika keesokan harinya salah satu saudara
menyuruh dia membeli kantong plastik, gula, dan kardus
“ Heh! Bocah iki arepe dadi manten. Ora usah ngongkon-ngongkon! Budal dewe
kono!!”
Kurang beberapa jam dia jadi pengantin harusnya dia mempersiapkan dirinya,
aku heran orang-orang ini ngerti keadaan g’ sih seenaknya aja, hari biasa boleh
lah nyuruh-nyuruh tapi ini hari istimewanya please ... give her a chance.
Sekali lagi hampir aku meloncat ketika adik sepupuku yang lain memberitahuku belum
ada perias pengantinnya, Astaghfirullah ... pernikahan apa ini!, “Ya udah kamu
cari perias di daerah sini nanti mbak pit yang bayar, bilang kita cuma pake
jasa riasnya aja, baju udah mbak bawain tuh kebaya putih, trus suruh dina coba bajunya
pas g?, kalo kedodoran kan masih ada waktu ngecilin, habis itu jangan balik ke
dapur lagi diem aja di dalem, ngapain gitu nonton tivi atau apa”. Persis orang
tua aku ngomel, memang aku tertua di antara yang lain (aku cucu tertua), dan
herannya g ada yang berani membantah satupun kalimatku termasuk ibu.
Begitulah sedikit gambaran persiapan Mantenan
adik sepupuku yang penuh keharuan. Malam harinya keluarlah calon pengantin
dari kamarnya dina tampak cantik walau dengan riasan dan baju sederhana- kebaya
putih gading. Alhamdulillah ... segala puji bagi Allah yang Maha Mengatur
Segala acara diberi kemudahan dan kelancaran. Setelah pengantin dinyatakan syah
sebagai suami istri, setelah mas kawin uang tunai (yang hanya) Rp. 500.000
diserahkan, dan dibacakanlah doa “Barokallahu laka
wa baaroka ?alaika wa jama?a bainakumaa fii khoir” tanpa sadar aq meneteskan
airmata dan berdoa dalam hati (semoga bahagia din, always... all the best for
you...).
Kemudian yang kedua.
Pernikahan adik kandung suamiku atau adik iparku, yang jauh dari kata
sederhana. Perias dan dekorasi pengantin, catering, dan foto & video
editing dari luar kota, tempat yang bagus menurut dia. Foto prewedding,
perawatan pra nikah (dari facial sampai spa), prosesi acara menggunakan adat
jawa (walau setengah-setengan), dari acara siraman, midodareni dimalam harinya.
Dan keesokan harinya acara akad nikah yang digelar di tenda halaman rumah yg di
tata sangat cantik, dengan busana yang mewah (menurut ukuranku), ketika
iring-iringan mempelai laki-laki tiba dengan bawaan seserahan yang tidak
sedikit, dan mas kawin seperangkat alat
sholat dan periasan emas 33 gram, itu cukup membuatku berdecak. Itu baru akad
nikah-masih ada resepsi dimalam harinya yang digelar di gedung serbaguna dengan
undangan 2 ribu orang, aku sudah membayangkan betapa WOW pesta nanti malam. Dan
benar saja ketika sore hari aku dan suami tiba digedung untuk dirias (semua
keluarga dirias dan memakai seragam) sdh ada beberapa pasang orang yg antri
untuk didandani, ada yang sebagai terima tamu, penjaga buku tamu, menjaga kotak
uang, memberikan kartu souvenir, dan memberikan souvenir. Ribet banget sih! Setelah
semua ready di tempat masing-masing kelihatanlah mewahnya acara ini, warna
merah yang menjadi nuansa semakin menambah kesan mewah, berapa puluh juta
mereka merogoh saku atau mungkin mencapai ratus juta...Ups! hampir lupa, ada
prosesi temu manten,
sungkeman, panggih besan, kemudian di akhir acara setelah
tamu pulang semua ada prosesi
kirap manten (pengantin turun dari kursi dekorasi, berjalan
menuju meja makan yg sudah dihias sedemikian rupa dan menyantap makanan yang
sudah disediakan). Masyaallah... ada apa denganku? Iri atau apa?... dari awal
hingga akhir acara tidak satupun kalimat doa terucap... mungkin karena tak
kulihat adanya sesuatu yang bernama “sakral” dan hanya terlihat mewah saja.
Astaghfirullahaladim...
Rujukan :
1,2 : Primbon dan pakuwon joyoboyo
* : Ibnu Hajar dlm kitab Fathul Baari








