Rabu, 20 Mei 2009

RINDU MENCEKIK-KU



Aku benci hatiku
terpaut pada dunia! Aku benci sedihku, harubiruku, deru rinduku disebabkan oleh
makhluk!

Barangsiapa melihat sesuatu pada sebab-sebab,
maka dia akan jadi pemuja bentuk.
Namun orang yang mampu menatap pada "Sebab
Pertama",
Maka dia akan menemukan cahaya yang memancarkan
Makna
." 1)

Sebenarnya aku malu pada Sang Pemilik Cinta. Dia telah memberikan segala cintaNya kepadaku, seorang hamba sahaya yang sedang dilanda rindu.Dia telah memberikan segala kebaikan, segala keindahan, segala kemulian, segala keleluasan, dan segalanya. Tapi aku hanya seorang hamba sahaya yang sedang di landa rindu. Malangnya! aku merindukan seorang makhluk. Suamiku. Walaupun cuma beberapa kilometer dariku, serasa melintasi kutup yang berbeda. Aku tidak mengukur kerinduan dengan galah gemerlap, tidak juga kuduga-duga keberadaannya, sebab kerinduan apabila menanggung beban melebarkan ukuran ruang dan bentangan waktu 2) . Hanya dengan mengucap kalimat-kalimatNya teredam kerinduan ini. Wahai yang Maha membolak-balikan hatiku, bawalah hatiku bersamamu dan tolonglah ia yang menanggun rindu. Maka selamatkan aku wahai Pemilik Cinta

Sang Penjaga Hati tidak akan meninggalkanmu,
baik dalam kasih sayang atau kekejaman.
Juga dalam kekafiran maupun persaksian.
Ke mana pun engkau tautkan hatimu pada sesuatu,
Keperkasaan-Nya akan merobekmu.
Wahai hati, jangan taruh dirimu di sembarang
tempat, jangan
! 3)


Hatiku telah dimiliki, tidak ada keraguan lagi, dan tak ada alasan lain untuk menoleh pada selain Dia. Tapi dengan segala kerendahanku , dan kemuliaanNya yang meninggikanku, hati ini telah diberikanNya pada seorang mahkluk. Bukan aku telah meletakkan ia sembarangan, tapi Dia yang menempatkannya. Ditempat yang menurutNya aman, disebelah hati yang mulia-seorang mahkluk yang dimuliakanNnya. Dan aku bangga Dia meletakkannya di sebelah yang mulia, dia lebih mulia dari yang orang lain tahu. Hatiku bersama suamiku, ia bersama orang yang akan memuliakannya kerika dia mencinta, dan tak akan mendzoliminya ketika dia tak lagi mencinta. Maka selamatkan kami wahai Penjaga Hati.



Merujuk :
1). Jalaluddin Rumi – Diwan (25048)
2). Khalil Gibran – Airmata dan Senyuman (.......)
3). Jalaluddin Rumi – Diwan (11949-11950)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar