Kata-katanya tak terkatakan, inginnya tak
terungkapkan, hanya saja… aku bisa memahami bahasa jiwanya. Karena cinta, ia mendengar apa yang tidak dikatakan, mengerti apa yang tidak
dijelaskan, sebab CINTA tidak datang dari bibir, lidah, atau pikiran,
melainkan...dari HATI. Entah siapa yang pernah mengatakan itu padaku, sudah
lama sekali rasanya. Dia pasti tahu
aku sedang melihatnya, dia pasti tahu aku sedang memahaminya, dia pasti tahu
aku merindukannya, dia pasti tahu sebagian nafasku adalah untuknya… dia pasti
tahu itu. Entah bagaimana caranya sebab aku sendiri tidak pernah menunjukkan
padanya dan tidak pernah mewartakan pada siapapun. Hingga waktu lelah dan
menjadi tua, sebab yang kutahu daratan yang aku pijak sekarang ini adalah lahan
yang semakin menua hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, dan
tahun demi tahun.
Tapi detik ini, aku melihat cakrawala yang
keemasan dengan gurat melengkung di angkasa yang bergelantung disana-sini menjadi
lukisan merah meronanya, dengan perahu
layar di kejauhan entah berawak atau tidak, dan barisan kawanan entah burung
camar entah burung bangau terbang kesana – kemari seperti tanpa tujuan dan
hanya berputar – putar saja disana1),
mungkin juga siluet sejoli yang sedang berasyik masyuk dibawah lambaian pohon
kelapa, terlihat di kejauhan, sebagai pelengkap lukisan merah merona itu. Dan
detik ini aku teringat padanya – Rona Merah Senja, kemanakah kau sembunyikan
dirimu?, kemanakah perginya senyum pipit itu?, kemanakah hilangnya tatap sendu
itu, kemanakah lenyapnya suara merdu itu?. Kemanakah kau membawa setengah dari
nafasku, sebagian jiwaku, sepotong hatiku…seperti sungai yang berarak – arak
mengaliri tiap senti pembuluh darahku, seperti itulah mataku meminta
melihatmu…seperti kepingan gelas yang bertalu – mendayu ketika tersentuh
partikel ubin marmer, seperti itulah suara jiwaku memanggilmu… seperti bayi –
bayi penyu yang dilepas kepantai dan dengan kaki mungilnya bergegas mencium
bibir pantai basah dengan mesra, seperti itulah rasaku meminta… dan entah
seperti ilustrasi apa lagi akan ku lukiskan.
Rupanya hujan akan turun sore ini, cakrawala
yang keemasan dengan gurat melengkung di angkasa yang bergelantung disana-sini
yang menjadi lukisan merah merona berganyi dengan awan abu – abu dan semakin
menua kemudian berubah gelap, perahu layar dari kejauhan tak terlihat lagi,
barisan kawanan yang tak kutahu entah burung camar entah burung bangau yang
tadinya terbang kesana – kemari seperti tanpa tujuan dan hanya berputar – putar
saja disana tiba – tiba lenyap seperti ditelan pekatnya langit itu, sejoli yang
sedang berasyik masyuk dibawah lambaian pohon kelapa itu pun seolah digulung
air laut yang mulai pasang. Hujan turun sore ini, basahnya tidak biasa,
basahnya seperti meresap hingga ke lapisan ke tujuh tulang sumsumku, marasuk
hingga ke kedalaman jiwaku. Biasanya ketika hujan turun seperti ini, aku akan
menangis diantaranya hingga membuat mataku rabun karenanya, dan tidak akan ada
yang tahu itu.
Rujukan :
1). “hanya berputar – putar saja disana”
sebagai ilistrasi senja, Dari Sepotong senja untuk Pacarku : Seno Gumira
Ajidarma
- Ilustrasi gambar : Seribu Sajak – Cica Juew

Tidak ada komentar:
Posting Komentar