Senin, 13 Juni 2016

SENJA ABU-ABU

Kata-katanya tak terkatakan, inginnya tak terungkapkan, hanya saja… aku bisa memahami bahasa jiwanya. Karena cinta, ia mendengar apa yang tidak dikatakan, mengerti apa yang tidak dijelaskan, sebab CINTA tidak datang dari bibir, lidah, atau pikiran, melainkan...dari HATI. Entah siapa yang pernah mengatakan itu padaku, sudah lama sekali rasanya. Dia pasti tahu aku sedang melihatnya, dia pasti tahu aku sedang memahaminya, dia pasti tahu aku merindukannya, dia pasti tahu sebagian nafasku adalah untuknya… dia pasti tahu itu. Entah bagaimana caranya sebab aku sendiri tidak pernah menunjukkan padanya dan tidak pernah mewartakan pada siapapun. Hingga waktu lelah dan menjadi tua, sebab yang kutahu daratan yang aku pijak sekarang ini adalah lahan yang semakin menua hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun. 
Tapi detik ini, aku melihat cakrawala yang keemasan dengan gurat melengkung di angkasa yang bergelantung disana-sini menjadi lukisan merah meronanya, dengan  perahu layar di kejauhan entah berawak atau tidak, dan barisan kawanan entah burung camar entah burung bangau terbang kesana – kemari seperti tanpa tujuan dan hanya berputar – putar saja disana1), mungkin juga siluet sejoli yang sedang berasyik masyuk dibawah lambaian pohon kelapa, terlihat di kejauhan, sebagai pelengkap lukisan merah merona itu. Dan detik ini aku teringat padanya – Rona Merah Senja, kemanakah kau sembunyikan dirimu?, kemanakah perginya senyum pipit itu?, kemanakah hilangnya tatap sendu itu, kemanakah lenyapnya suara merdu itu?. Kemanakah kau membawa setengah dari nafasku, sebagian jiwaku, sepotong hatiku…seperti sungai yang berarak – arak mengaliri tiap senti pembuluh darahku, seperti itulah mataku meminta melihatmu…seperti kepingan gelas yang bertalu – mendayu ketika tersentuh partikel ubin marmer, seperti itulah suara jiwaku memanggilmu… seperti bayi – bayi penyu yang dilepas kepantai dan dengan kaki mungilnya bergegas mencium bibir pantai basah dengan mesra, seperti itulah rasaku meminta… dan entah seperti ilustrasi apa lagi akan ku lukiskan.
Rupanya hujan akan turun sore ini, cakrawala yang keemasan dengan gurat melengkung di angkasa yang bergelantung disana-sini yang menjadi lukisan merah merona berganyi dengan awan abu – abu dan semakin menua kemudian berubah gelap, perahu layar dari kejauhan tak terlihat lagi, barisan kawanan yang tak kutahu entah burung camar entah burung bangau yang tadinya terbang kesana – kemari seperti tanpa tujuan dan hanya berputar – putar saja disana tiba – tiba lenyap seperti ditelan pekatnya langit itu, sejoli yang sedang berasyik masyuk dibawah lambaian pohon kelapa itu pun seolah digulung air laut yang mulai pasang. Hujan turun sore ini, basahnya tidak biasa, basahnya seperti meresap hingga ke lapisan ke tujuh tulang sumsumku, marasuk hingga ke kedalaman jiwaku. Biasanya ketika hujan turun seperti ini, aku akan menangis diantaranya hingga membuat mataku rabun karenanya, dan tidak akan ada yang tahu itu.




Rujukan :
1). “hanya berputar – putar saja disana” sebagai ilistrasi senja, Dari Sepotong senja untuk Pacarku : Seno Gumira Ajidarma
- Ilustrasi gambar : Seribu Sajak – Cica Juew

Tidak ada komentar:

Posting Komentar