Rasanya aku menjadi
patung pajangan paling jelek dari semua toko yang ada, tidak ada yang
melihatku, tidak ada yang perduli. Disebelah kiriku George mematung, namun tak akan
ada yang bisa melihat runtuhnya pilar – pilar berukir emas dikedalaman hatinya,
satu – demi satu gugur ibarat daun diaduk prahara.
George , menatap sendu
layang – layang ungu yang meliuk – liuk mengikuti alur angin yang memberinya
rasa, menukik menatap runcing dahan – dahan kering dan membumbung tinggi
membelah angkasa.
Sementara aku hanya
menelusuri bayangan pohon yang kian memanjang. Pelupuk mataku terasa hangat. Tak
ada bulir bening merayap turun.
Layang – layang ungu memang
tak lebih ungu dari “sari"ku, tapi aku telah melihat arah, melihat perih,
seperti warna sore yang berselimut hijau lapangan dan wangi rerumputan. Jingga mentari
mulai menjemput gelapnya malam, lalu kulantunkan sebuah syair,
“ kau lepas, terbang menembus matahari
Kau jatuh, menukik dan terluka
Kau memang bukan burung, layang – layang ungu”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar