Sabtu, 02 Juli 2016

Layang –layang ungu



Rasanya aku menjadi patung pajangan paling jelek dari semua toko yang ada, tidak ada yang melihatku, tidak ada yang perduli. Disebelah kiriku George mematung, namun tak akan ada yang bisa melihat runtuhnya pilar – pilar berukir emas dikedalaman hatinya, satu – demi satu gugur ibarat daun diaduk prahara.

George , menatap sendu layang – layang ungu yang meliuk – liuk mengikuti alur angin yang memberinya rasa, menukik menatap runcing dahan – dahan kering dan membumbung tinggi membelah angkasa.

Sementara aku hanya menelusuri bayangan pohon yang kian memanjang. Pelupuk mataku terasa hangat. Tak ada bulir bening merayap turun.
Layang – layang ungu memang tak lebih ungu dari “sari"ku, tapi aku telah melihat arah, melihat perih, seperti warna sore yang berselimut hijau lapangan dan wangi rerumputan. Jingga mentari mulai menjemput gelapnya malam, lalu kulantunkan sebuah syair,
“ kau lepas, terbang menembus matahari
Kau jatuh, menukik dan terluka
Kau memang bukan burung, layang – layang ungu”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar