Rabu, 21 September 2016

CINTA RWA BHINNEDA

Aku tidak pernah bermimpi mencintai seseorang yang mengabdikan dirinya pada Tuhan. Setelah sekian lama, kenapa cintaku dilabuhkan padanya? Dan laki-laki itu sangat mencintaiku dengan seluruh tubuhnya, dengan seluruh jiwanya. Laki-laki itu mencintai seorang muslim yang menutup tubuhnya dengan jilbab. Bagaimana bisa? Siapa yang bisa menjawab? Adakah penjelasan logis untuk cinta? Cinta yang tak pernah datang tepat waktu. Adakah penjelasan yang nyata tentang rasa? Rasa yang tak pernah mau berbagi.

Aku seorang muslim yang taat, yang benar-benar menjaga diriku dari hal-hal yang tidak berguna, hal-hal yang sia-sia, hal-hal yang tercela, hal-hal yang berbau dosa. Seluruh tubuhku hanya kuijinkan menyebut asmaul husna, melantunkan puji-puji kepadaNya, mengingatNya dengan dzikirku, aku haramkan tubuhku mendekati zina. Aku seorang pengajar Al-Quran, aku banyak memberi ceramah pada pengajian-pengajian, orang-orang memanggilku ustadzah. Ya aku seorang ustadzah, seorang pemuka agama.

Dia seorang kristen yang taat, yang nyaris tak tersentuh dosa, hidupnya hanya dipenuhi dengan ibadah dan doa, dia beribadah dengan hatinya dengan tingkah lakunya tidak hanya di gereja. Dia membersihkan gereja, mendekor gereja, membangun gereja, pengajar sekolah minggu dari anak-anak sampai dewasa, mengajar kitab, pemimpin doa, memimpin pujian, membawakan firman, menjadi pelayan Tuhan. Ya dia hampir menjadi Pendeta.

Dan aku mencintai laki-laki kristen itu, dengan segenap jiwaku. Aku seperti memiliki dunia beserta isinya ketika berada dekat dia, dan seperti kehilangan semuanya (bahkan nyawaku) ketika jauh dengan dia. Tapi tidak ada yang bisa kami lakukan untuk mewujudkan cinta itu. Kami (mungkin) terlalu bodoh untuk diuji soal hati, kami tidak punya pedang atau senjata untuk berperang-melawan iblis dalam diri kami, kami terlalu lemah untuk membawa masing-masing cinta kami-menuju cara yang seharusnya. Jalan ini tidak mudah untuk disatukan terlalu banyak ruas dan cabang, terlalu banyak menyuguhkan kelokan tajam dan tikungan licin, terlalu sering memberikan tambahan jurang curam atau tebing terjal atau bukit-bukit runcing yang liar.

Seperti halnya pantai dan gunung-saling melengkapi-berjalan beriringan tapi tak pernah jadi satu. Seperti Matahari dan Bulan-berputar sesuai tugasnya-mengisi kekosongan pada masing masing waktu siang dan malam tapi tak pernah bisa berdampingan. Seperti hitam dan putih. Seperti rwa dan bineda. Seperti hari ini, di persimpangan ini kami berhenti, sampai akhirnya aku melangkahkan kakiku kearah kiri dan dia kearah kanan. Aku mengambil air wudlu kemudian sholat sunnah dhuha 2 Rakaat. Dia membunyikan lonceng kemudian menuju altar melakukan pujian dan berdoa. Tidak pernah bisa bersama.

Sayup-sayup kudengar seseorang bersenandung :
1)Dibumi manakah kita dipertemukan? di Makkah Al Mukarom atau di Israel yang Mulia,
Dimanakah kita akan dipersatukan? di Masjid yang suci atau di Gereja yang damai,
Dengan cara apa kita akan disyahkan? dengan Ijab qobul atau Sakramen suci,
Pada siapa kita memintanya? didepan Mimbar Penghulu atau dihadapan Altar Pendeta.

Wahai Yang Maha Membolak-balikkan hati...
Aku memohon kepadaMu dengan segala kerendahan dan kelemahanku, selamatkanlah hati kami, cinta kami, dan tubuh kami. Haramkanlah tubuh kami dari neraka jahanamMu. Jika memang kami berjodoh maka segera jodohkanlah kami, jika kami tidak berjodoh segera pisahkan kami sejauh larinya khayalan kami. Aku tunduk sesuai kehendakMu.
Aamiin...


Catatan Kaki :
1.         1)Puisi NN
2. lustrasi gambar: http://iambeautifulfreaks.blogspot.co.id/2015/02/suci-jogja-dan-cinta-beda-agama.html











1 komentar:

  1. kok jadi inget sesuatu ya .....
    hanya saja, kisah itu terbalik.
    antara aku dan dia .....

    BalasHapus