Aku
tidak pernah bermimpi mencintai seseorang yang mengabdikan dirinya pada Tuhan. Setelah sekian lama, kenapa
cintaku dilabuhkan padanya? Dan laki-laki itu sangat mencintaiku dengan seluruh
tubuhnya, dengan seluruh jiwanya. Laki-laki itu mencintai seorang muslim yang
menutup tubuhnya dengan jilbab. Bagaimana bisa? Siapa yang bisa menjawab?
Adakah penjelasan logis untuk cinta? Cinta yang tak pernah datang tepat waktu.
Adakah penjelasan yang nyata tentang rasa? Rasa yang tak pernah mau berbagi.
Aku
seorang muslim yang taat, yang benar-benar menjaga diriku dari hal-hal yang
tidak berguna, hal-hal yang sia-sia, hal-hal yang tercela, hal-hal yang berbau
dosa. Seluruh tubuhku hanya kuijinkan menyebut asmaul husna, melantunkan
puji-puji kepadaNya, mengingatNya dengan dzikirku, aku haramkan tubuhku
mendekati zina. Aku seorang pengajar Al-Quran, aku banyak memberi ceramah pada
pengajian-pengajian, orang-orang memanggilku ustadzah. Ya aku seorang ustadzah,
seorang pemuka agama.
Dia
seorang kristen yang taat, yang nyaris tak tersentuh dosa, hidupnya hanya
dipenuhi dengan ibadah dan doa, dia beribadah dengan hatinya dengan tingkah
lakunya tidak hanya di gereja. Dia membersihkan gereja, mendekor gereja,
membangun gereja, pengajar sekolah minggu dari anak-anak sampai dewasa, mengajar
kitab, pemimpin doa, memimpin pujian, membawakan firman, menjadi pelayan Tuhan.
Ya dia hampir menjadi Pendeta.
Dan
aku mencintai laki-laki kristen itu, dengan segenap jiwaku. Aku seperti
memiliki dunia beserta isinya ketika berada dekat dia, dan seperti kehilangan
semuanya (bahkan nyawaku) ketika jauh dengan dia. Tapi tidak ada yang bisa kami
lakukan untuk mewujudkan cinta itu. Kami (mungkin) terlalu bodoh untuk diuji
soal hati, kami tidak punya pedang atau senjata untuk berperang-melawan iblis
dalam diri kami, kami terlalu lemah untuk membawa masing-masing cinta
kami-menuju cara yang seharusnya. Jalan ini tidak mudah untuk disatukan terlalu
banyak ruas dan cabang, terlalu banyak menyuguhkan kelokan tajam dan tikungan
licin, terlalu sering memberikan tambahan jurang curam atau tebing terjal atau
bukit-bukit runcing yang liar.
Seperti
halnya pantai dan gunung-saling melengkapi-berjalan beriringan tapi tak pernah
jadi satu. Seperti Matahari dan Bulan-berputar sesuai tugasnya-mengisi
kekosongan pada masing masing waktu siang dan malam tapi tak pernah bisa
berdampingan. Seperti hitam dan putih. Seperti rwa dan bineda. Seperti hari
ini, di persimpangan ini kami berhenti, sampai akhirnya aku melangkahkan kakiku
kearah kiri dan dia kearah kanan. Aku mengambil air wudlu kemudian sholat
sunnah dhuha 2 Rakaat. Dia membunyikan lonceng kemudian menuju altar melakukan
pujian dan berdoa. Tidak pernah bisa bersama.
Sayup-sayup
kudengar seseorang bersenandung :
1)Dibumi manakah
kita dipertemukan? di Makkah Al Mukarom atau di Israel yang Mulia,
Dimanakah
kita akan dipersatukan? di Masjid yang suci atau di Gereja yang damai,
Dengan
cara apa kita akan disyahkan? dengan Ijab qobul atau Sakramen suci,
Pada
siapa kita memintanya? didepan Mimbar Penghulu atau dihadapan Altar Pendeta.
Wahai
Yang Maha Membolak-balikkan hati...
Aku
memohon kepadaMu dengan segala kerendahan dan kelemahanku, selamatkanlah hati
kami, cinta kami, dan tubuh kami. Haramkanlah tubuh kami dari neraka jahanamMu.
Jika memang kami berjodoh maka segera jodohkanlah kami, jika kami tidak
berjodoh segera pisahkan kami sejauh larinya khayalan kami. Aku tunduk sesuai
kehendakMu.
Aamiin...
Catatan
Kaki :
1.
1)Puisi NN
2. lustrasi gambar: http://iambeautifulfreaks.blogspot.co.id/2015/02/suci-jogja-dan-cinta-beda-agama.html

kok jadi inget sesuatu ya .....
BalasHapushanya saja, kisah itu terbalik.
antara aku dan dia .....