Minggu, 30 Oktober 2016

Sesak Dadaku


Lalu, kau temukan diriku adalah sepasang sepatu lusuh dengan sol yg terbuka,
Atau sebuah payung yang patah jerujinya dan robek kain penutupnya,
Atau seikat mawar putih yang telah rontok kelopaknya dan menyisakan duri-duri di tangkainya,
Atau seorang pincang dengan baju hitam panjang diantara beribu manusia berbusana putih.

Dan,  tiba-tiba semua berbalik menyerangku,
Dinding-dinding, jendela, kusen kayu, daun pintu,  atap genting, bahkan ubin marmer ini,
Menjadi hidup,  bermata, bertelinga, bermulut,  dan bergerak,
Mengangkat tangannya, menghunuskan belati yang terselip diantara jemarinya,
Menancapkannya tepat di jantungku.

Apa yang kau lihat kini?
Mata teduh itu telah tumbang menyisakan nanar,
Lembut hati itu telah sirna meninggalkan lubang nganga,
Senyum sabit itu telah tenggelam bersama guratan galaxy,
Tegak langkah itu telah roboh dihantam deru gunungan ombak.

*( .... ini bukan puisi
sebab, puisi harus ditulis dengan hati, dengan nadi, dengan darah,
sedang aku...
tak mungkin menulisnya,
sebab tlah kau robek nadiku, kau sayat aortaku,
kau ambil darahku dan tak sisa lagi padaku.
Mr. Agus Sunjata)

Rujukan:
1) * Potongan Puisi Mr.  Agus Sunjata
2) ilustrasi gambar orang tenggelam Sutterstock 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar