Kamis, 15 Desember 2016

Sang Bangsawan

Aku sering mendengar kisah tentang seorang pesakitan yang menghabiskan hidupnya dibalik jeruji besi penjara tanpa tau kapan ia akan dibebaskan. Setiap orang yang kutemui baik itu yang lewat depan rumahku seperti penjual baju keliling, penjual soba keliling, dan tukang sol sepatu keliling, atau yang berpapasan denganku di jalan sebut saja tetangga dari kampung sebelah, saudara dari kawanku, dan mungkin guru dari anak-anakku, atau yang dengan sengaja mencariku entah itu paman dari teman anakku, bapak dari salah seorang muridku, atau sepupu dari ibu guru besarku, mereka selalu bercerita tentang seorang pesakitan itu yang menghabiskan hidupnya dibalik jeruji besi penjara tanpa tau kapan ia akan dibebaskan. Kadang mereka bercerita dengan mata berkaca-kaca dan kemudian lalu menangis sesenggukan seperti 1)kesedihan purba yang teramat dalam, kadang pula mereka bercerita dengan wajah yang tegang dan kemudian mengakhiri dengan nafas yang terengah-engah seperti ketakutan yang beribu abad tak terpecahkan, tak jarang pula mereka bercerita dengan kaki gemetar dan tangan menggenggam jemariku dan kemudian terdiam sesaat dengan senyuman seperti menyimpan harapan bahwa pasti ada pelangi setelah hujan.

Betapa luar biasa cerita yang mereka bawa, tidak hanya sampai ke telingaku tapi juga mataku seolah menyaksikan sendiri deritanya, jantungku berdebar setiap kali mendengar kisahnya yang pilu, dengan kesedihan purba yang teramat dalam. Sampai membulatkan tekatku untuk mengemas bekal dan membawa tubuhku menelusuri anak sungai yang meliuk, kelakar bambu, liar mangrove, cericit camar, gumpalan gemawan, deru gulungan ombak, rona merah senja, dan bulan mati. Untuk menemuinya. Ya, aku meninggalkan kampung halamanku untuk menemuinya, laki-laki pesakitan yang menghabiskan hidupnya dibalik jeruji besi penjara tanpa tau kapan ia akan dibebaskan. Sungguh aku tidak sabar ingin segera menjumpainya, memandangnya, mendengarkan kisahnya langsung dari mulutnya, karena selama ini cerita-cerita mereka hanyalah cerita dari sipir penjara saja yang kebetulan mereka melintas di depan penjara itu dan tak sengaja ngobrol dengan si sipir. Aku telah melalui tiga bulan mati, tiga samudra kering, dan 3 gundukan tanah basah hingga kakiku melepuh, sampai akhirnya aku berdiri disini didepan sebuah kastil yang sangat indah, bukan penjara seperti yang mereka ceritakan.

Aku mengetuk pintunya yang luar biasa besar dengan ornamen kepala singa, tiga kali, kemudian keluarlah seorang laki-laki paruh baya, dari gurat wajahnya masih tersisa ketampanan masa lalunya, ah... apakah ini si sipir itu?
"Ada yang bisa saya bantu, saudaraku?" si sipir itu membuka suara dan kujawab dengan sangat sopan
"Maaf, perkenalkan saya Josafat, saya dari desa pesisir, saya ingin bertemu dengan....." belum selesai aku bicara si sipir lalu memotongnya
"Tuan Williart? silahkan masuk"
"Tuan?"
Aku mengikutinya dengan tanda tanya sangat besar, Tuan?, baru kulangkahkan kakiku 5 kali aku dibuat terpana dengan isi kastil ini, patung tembikar singa pada kedua sisi tangga yang meliuk-liuk, lukisan rona merah senja dengan siluet burung camar dan liukan pohon kelapanya pada dinding sebelah kanan, lukisan 2 orang penari pada dinding sebelah kiri, di tengah ruang terdapat meja marmer bulat dengan segerombol mawar putih yang masih sangat segar - tampaknya si sipir rajin menggantinya mungkin setiap 1 minggu sekali, diatas meja menggantung lampu kristal besar sekali sangat cocok dengan ruangan yang besar ini. Si sipir mempersilahkanku duduk di sofa kulit berwarna merah maroon di sudut ruangan, dan meninggalkanku, kupikir dia akan memanggil laki-laki pesakitan itu, yang dia panggil Tuan Williart, ternyata dia kembali dengan nampan berisi teko dan 2 cangkir. Dia duduk di sofa singgel disebelahku, menuangkan air dari teko kedalam cangkir, kemudian menyodorkannya padaku
"Silahkan, anda pasti lelah setelah perjalanan jauh"
"Trimakasih, eeh... maaf dimana saya bisa berjumpa dengan Tuan anda?"
Tuan Williart masih istirahat, barangkali ada yang bisa saya bantu Tuan Josafat?"
Aku makin bingung saja, Tuan masih istirahat? semakin aneh saja disini
"Saya banyak mendengar cerita dari orang-orang tentang seorang pesakitan yang menghabiskan hidupnya dibalik jeruji besi penjara tanpa tau kapan ia akan dibebaskan, mereka bercerita dengan mata berkaca-kaca dan kemudian lalu menangis sesenggukan seperti kesedihan purba yang teramat dalam, ee... maaf...anda?"
"Panggil saja saya Demetrie. Apa yang anda dengar dari orang-orang itu mungkin berlebihan atau mungkin tidak benar"
Aku hampir menyemburkan teh jeruk dalam mulutku, mataku terbelalak, apa maksudnya dengan "mungkin itu tidak benar"
"Lebih dari 20 tahun saya mendampingi Tuan Williart. Saya tidak tahu hati seperti apa yang dimilikinya, bibirnya bisa tersenyum tapi sesungguhnya dia menangis, matanya terbuka melihat tapi sesungguhnya hanya tatapan kosong tanpa cahaya..."
Tiba-tiba dia terhenti suara keras jam ding dong yang berbunyi 10 kali, ditelingaku terdengar sangat angker saja suara jam ding dong itu, menggema di ruang yang sangat luas ini
"Saya rasa anda tahu maksud saya datang kemari, Demitrie" kataku menegaskan
"Tuan Williart hidup sangat mapan sebagai seorang bangsawan, kastil ini adalah miliknya, tp beliau hidup sebatang kara, eeh... maksud saya, Tuan Williart tidak mempunyai istri atau anak seorangpun, beliau hanya ditemani seorang perempuan untuk mengurus kebutuhan hidupnya sehari-hari. Saya hanya datang sesekali saja untuk melihat keadaannya, kadang-kadang beliau bercerita tentang cintanya pada seorang gadis bermata sipit yang tak bisa dinikahinya, kadang pula beliau mengutarakan kerinduannya pada celoteh mahluk kecil yang mungkin bisa menggaduhkan kastil ini. Keberadaannya di kastil ini adalah sebuah jebakan, Tuan Williart dijebak dengan sebuah tipu daya yang dahyat dan sangat halus, beliau merasa menjadi laki-laki terbodoh di seluruh jagad raya ini....."
Si sipir itu berhenti bercerita, tangannya menyeka matanya yang basah. Demitrie menangis? Dia pasti sangat mencintai tuannya sehingga simpati untuk tuannya begitu dalam.
"Tuan Williart pernah berkata kepada saya bahwa, beliau akan memenjarakan dirinya disini sampai ajal mengangkatnya, hanya ajal yang bisa mengeluarkannya dari kastil ini... Maaf Tuan Josafat, sudah sangat larut, anda pasti lelah, mari saya antar ke kamar anda"
Kata si sipir itu kemudian dan berdiri berjalan membelakangiku, aku berjalan mengikutinya menuju lorong yang panjang, penuh dengan lampu tempel dan lukisan di kanan kiri dindingnya, kemudian dia membuka sebuah pintu yang berada di ujung lorong dan mempersilahkanku masuk dan meninggalkanku dalam kamar yang besar kuno antik.

Aku seperti berada di kamar seorang bangsawan atau pangeran atau keluarga kerajaan. Kasurnya yang besar sangat empuk dan hangat kurasakan, berbeda dengan kasur yang selama ini aku tiduri, tipis, keras dan dingin, kadang ku tambah dengan jerami kering di bawahnya agar terasa sedikit empuk dan hangat. Aku berjalan mengelilingi kamar yang mewah ini, ada rak buku kecil di sisi kanannya dengan sofa empuk warna maroon dan lampu yang menyerupai lilin pada meja kecil samping sofa, Williart pasti suka membaca. Puas menikmati kamar ini, dan mataku tidak kunjung mengantuk, aku keluar kamar dan berjalan-jalan dilorong melihat berbagai lukisan, kuikuti lorong yang berbelok kekiri, lorong yang gelap tanpa lampu tapi diujung sana terdapat sebuah lukisan laki-laki bangsawan berkumis tipis, aku segera mendekatinya kuperhatikan raut wajahnya, seperti wajah si sipir tadi, tapi mengenakan baju bangsawan dan terlihat lebih gagah, dibawah lukisan terdapat tulisan:
2)"Kesedihan adalah takdirku, penderitaan telah menghabiskan masa mudaku. Aku duduk dalam kegelapan, berselimut debu, dan telah kuucapkan selamat tinggal pada smua kenikmatan dunia yang menggoda"
-Duke Demetrius leroy Williart

"Ya Tuhan... "
Aku terduduk lemas membaca tulisan itu. Si sipir dan Williart adalah orang yang sama, dan seorang pesakitan itu adalah seorang bangsawan, pemilik kastil mewah ini
"Ya Tuhanku..."
Mataku basah, airnya berlinang deras, bibirku bergetar, jantungku berdetak tak beraturan, aku bersimpuh didepan lukisan bangsawan itu
"Ya Tuhanku..."


Rujukan:
1) Dari “Sepotong Senja Untuk Pacarku”, Seno Gumira Ajidharma
2) Dari "Lala Majnun", Syaikh Nizami, hal 62, Navila:2005
Illustrasi gambar : Sir Thomas Stamford Bingley Raffles, Pendiri Singapura

Tidak ada komentar:

Posting Komentar