Plak, plak, plak
Tamparan bertubi-tubi mendarat di muka gadis kecil itu, rambutnya yang
panjang berponi dijambak sampai kepala dan tubuh kurusnya ikut terangkat,
pahanya dicubit sampai lebam. Gadis kecil itu hanya bisa menangis kesakitan,
tangannya digosok-gosokkan ke pahanya yang membiru, bibir mungilnya gemetar
“ampun mami, sakit”
Perempuan yang dipanggil mami itu membanting buku ulangan hariannya yang
mendapat nilai 70 ke mukanya,
“Bodoh kamu ya, masak ulangan matematika cuma dapat 70! Tuh lihat siska
anaknya Bu. Martono, ulangan apapun pasti dapat 95. Mami malu punya anak kamu.
Dasar anak tidak pernah membanggakan orang tua!”
Perempuan itu memegang tangan mungilnya, menyeretnya masuk gudang dan
menguncinya dari luar, di dalam gudang gadis kecil itu berteriak-teriak,
memukul-mukul daun pintu, memohon ampun untuk dikeluarkan dari sana, dan
berjanji untuk belajar lebih giat lagi. Tapi perempuan itu hanya berteriak dari
luar “kamu disini sampai besuk pagi, dan kamu tidak dapat makan malam” kemudian
pergi.
Gadis kecil itu menangis tanpa henti sampai lemas, kemudian dengan suara
pelan dan terbata dia berkata “A bbey ta kut, A bbey la par…”
Sampai keesokan pagi Sabrina terbangun karena seember air dingin yang disiramkan
ke tubuhnya, dan teriakan perempuan itu untuk sekolah. Disekolah Sabrina
bersama 3 orang temannya dihukum karena tidak mengerjakan PR, yang harusnya
dikerjakan semalam. Ibu guru itu mencubit kecil di lengannya. Sabrina hanya
meringis sedangkan 3 orang temannya menangis kesakitan. Sepulang sekolah ibu
guru itu memanggil Sabrina dan bertanya kenapa dia tidak menangis ketika
dicubit, sedangkan teman-temannya menangis smua. “cubitan Bu Lis tidak sakit,
masih sakit cubitan dan pukulan mami” Sabrina menjawab dengan tenang dan
tersenyum. Ibu guru itu terbelalak dan segera memeluk Sabrina dan minta maaf
dengan berurai airmata. “Sebagai gantinya, Sabrina boleh minta apa aja” mata
gadis kecil itu mulai basah, dia memandang ibu guru itu lama sekali, “Bu Lis, kalau
boleh Abbey minta makan, Abbey lapar, dari kemarin belum makan” Lagi-lagi ibu
guru itu terbelalak dan memeluk Sabrina, kali ini pelukannya lebih erat dari
sebelumnya.
Sabrina diam lama sekali, berdiri didepan poster film fenomenal tahun
ini yang berjudul Angeline, matanya
basah.
“Oh Angeline, aku tahu penderitaanmu, aku pernah menjadi sepertimu 25
tahun yang lalu, hanya saja aku lebih beruntung masih hidup sampai hari ini.
Harusnya hidupku difilmkan dan akan lebih menarik daripada kisahmu”
Sabrina menyeka matanya, dan berjalan berkililing Cineplax melihat
poster kira-kira film apa yang akan ditontonnya. Sabrina kembali berhenti
didepan poster film Me vs Mom
Sabrina pulang dengan membawa kebanggaan, juara 1 speech contest tingkat SMP dan memberikan piala itu pada maminya.
Tapi belum sempat dia membuka suara, sudah disambut dengan lemparan baju kotor
ke mukanya
“Heh anak setan! matamu buta ya. Mami congkel sekalian biar keluar. Berapa
kali mami bilang cuci baju sendiri. Kamu pikir mami ini pembantumu!”
“Ya mi, Abbey cuci sekarang” jawabnya dengan lunglai. Niatnya untuk
menunjukkan prestasinya gagal.
Sabrina mencuci dengan terus menunduk dan menahan tangisnya, maminya
tetap saja mengeluarkan kata-kata kotor tanpa henti
“Kamu ini bisanya cuma jadi beban mami aja. Dasar anak setan! Kamu tahu,
papimu itu PKI. Malapetaka buat mami punya anak seperti kamu. Gak pernah bisa
nyenengin mami. Mami lebih seneng kalau kamu mati aja. Nih, sprei dan baju mami
cuciin sekalian. Kamu boleh makan setelah semua selesai”
Dan Sabrina hanya bisa menangis pelan terbata dia berkata “Pi, A bbey ca
pek, A bbey la par. Papi dimana?”
“Waktu itu aku belum tahu kalau papi dan mami bercerai, aku terlalu
kecil untuk memahami kehidupan orang dewasa. Hubunganku dengan mami tidak
pernah akur, dan semakin tidak akur sejak waktu itu…..sampai sekarang”
Sabrina menyedot strawberry milkshake
ditangannya, dan menggeser kakinya kearah kiri. Sabrina kembali berhenti di
depan poster film Pride and Prajudise.
Pas banget! Pikirnya
“Bilang sama temen-temen kamu, jangan bicara keras-keras, jangan tetawa
keras-keras seperti anak jalanan, atau mami usir dari rumah ini.” Hardik
perempuan itu
‘Ya mi, maaf” jawab Sabrina tertunduk.
Dan rupanya teman-temannya mendengar kata-kata perempuan itu dan segera
memutuskan untuk pergi saja setelah berpamitan dengan perempuan itu
“Kamu itu jadi anak bodoh sekali ya. Cari temen itu jangan anak-anak
bodoh. Kampong, dan miskin seperti itu. Lihat tuh Bella, anaknya Bu.Aan, semua
teman-temannya bawa mobil, dandanan rapi, pastinya harum, dan sebagian dari
mereka sudah bekerja, setiap datang pasti bawa oleh-oleh. Lhaa kamu, berteman
sama kacung-kacung begitu. Mikir dong brin! Atau kamu memang gak punya otak”
Sabrina hanya diam tertunduk. Dia tidak akan bilang pada perempuan itu
bahwa dia beberapi kali melihat Bella masuk hotel dengan laki-laki
berbeda-laki-laki yang membawa mobil, dengan dandanan rapid an mungkin wangi,
bahkan sering kali dia melihat Bella bersama om-om. Sabrina tidak akan bilang
itu. Dan teman-temannya yang kacung itu adalah kebanggaan sekolah, juara-juara
olimpiade tingkat nasional bersamanya. Itu tidak cukup bisa membuat maminya
bangga.
Bahkan ketika 3 tahun Sabrina di perguruan tinggi selalu mendapat
beasiswa dan Sabrina menjadi wisudawan termuda waktu itu, tidak cukup untuk
membuat maminya merendahkannya.
“Kamu mending hidup sendiri aja di hutan sana, yang tidak ada manusia.
Bicara saja sama binatang. Perempuan kok diam saja tidak mau bergaul. Apa
nunggu dipukul kepalamu baru kamu mau bersuara. Tidak akan ada laki-laki yang
suka sama kamu, suka sama perempuan bisu seperti kamu. Tidak akan laki-laki
yang mencintamu sampai kapanpun. Kamu tidak pernah bisa membanggakan mami. Mami
nyesel punya anak kamu. Kalau mami bisa memilih, mami lebih suka punya anak
seperti inneke, anak Om Yudi. Cantik, ramah, murah senyum, anggun, lemah
gemulai. Tidak seperti kamu yang….”
Perempuan itu menggantungkan kalimatnya dan hendak pergi meninggalkan
Sabrina
‘Yang apa mi? kenapa berhenti, tidak seperti aku yang apa? Yang piala-pialaku
mami buang karena tidak berguna buat mami? Yang kuliah tidak pernah bayar
karena selalu mendapat beasiswa? Yang bisa lulus tiga tahun? Yang menjadi
wisudawan termuda? Yang bisa cari duit sendiri selama kuliah?” untuk pertama
kalinya Sabrina berani menanggapi perkataan perempuan itu. “Mami tahu? Seminggu
yang lalu Om Yudi telp Abbey, Inneke berhenti kuliah, dia tidak bisa
melanjutkan kuliahnya, Om Yudi minta tolong Abbey untuk ngurus pernikahannya.
Anak seperti itu yang mami mau, anak yang selalu mami banggakan, hamil diluar
nikah!”
Sabrina meninggalkan perempuan itu yang terduduk di sofa dan menuju
kamarnya, membanting pintu, mengunci diri berhari-hari dalam gelap.
Sabrina menarik nafas panjang, sesak rasanya. Dia keluar dari bioskop
dan melangkahkan kakinya menuju Monumen Kapal Selam disamping Plaza tempatnya
menghabiskan waktu 2 jam ini. Dia duduk di kafe ditepi sungai yang airnya
berkilauan karena pantulan cahaya malam. Memesan pisang bakar keju dan
strawberry milkshake kesukaannya. “My
last dinner” gumamnya. Lamunnya kembali menggelayut pada kejadian seminggu yang
lalu. Makan malam yang sempurna, yang selalu dia impikan lebih dari 35 tahun.
Dengan laki-laki pujaanya, laki-laki yang dicintanya, laki-laki yang ada dalam
doa-doanya siang malam. Cintanya begitu sempurna pada laki-laki itu. Nyaris
tanpa syarat. Tapi kejadian apa yang membuat laki-laki itu pergi dengan seluruh
barang bawaannya. Matanya basah, kemudian dia mengambil botol kecil berisi
cairan dari dalam tasnya, menuangnya kedalam gelas berisi strawberry milkshake didepannya. Apa yang kau tuang
brin? Sabrina segera menghabiskan satu gelas milkshakenya, dan air bening mengalir dari sudut matanya. Sabrina
beranjak dari tempat duduknya, berjalan perlahan ke pembatas sunga,
mencondongkan tubuhnya kedepan sampai melewati pagar pembatas yang hanya setinggi
pinggangnya, kemudian… Byuurr! tubuhnya jatuh dalam dingin malam.
(“Aku bisa tahan dengan semua sikap mami, tapi aku bisa mati ketika kau tinggalkan
aku. Ah, mami….. kenapa dulu mami berkata bahwa tidak ada laki-laki yang akan
mencintaiku dan menginginkanku….. bukankah ucapan adalah doa mi? kenapa mami
mendoakanku yang buruk….. dan Kau Tuhan, kenapa mengabulkan doa buruk mami?
bukankan cinta dalam hati Hans adalah dariMu? Kenapa secepat ini Kau
mencabutnya?. Aku mencintainya Tuhan, apakah berlebihan?. Mulai malam ini Abbey
akan menjadi anak kebanggaan mami”)
* Ilustrasi gambar :
Tarian Kolosal Malam Hari Di Sungai Ji Liang. Gui Lin. Tiongkok.
http://alginting.blogspot.co.id/2014_05_01_archive.html

Tidak ada komentar:
Posting Komentar