Nyatanya kilauku tak mampu menyilaukan matamu
Yang hanya sejengkal tangan tertuju padaku
Dan dayaku tak sekalipun mampu menjadikanmu
Tertawan dalam perang tak berkesudahan
Haruskah aku mengubahnya menjadi karya sastra purba para punjangga?
Hingga mengerakkan daun telinga bututmu untuk sekedar mendengar suaraku
Atau menjadikannya sebuah lukisan bak mahakarya DAVINCI?
Hingga menancapkan mengalihkan jiwa sukmamu berpadu sayu
Haruskah aku menjadi 1)siut ketika mencintai angin?
Apakah menjadi ombak untuk bisa meluruhkan batu karang?
Atau menjadi benalu untuk bisa menempel pada pohon jati?
Atau menjadi belenggu untuk bisa mengikat kedua kakimu?
Ketika semua mata tertutup katup dan bumi terlelap senyap
Ketika rembulan bermain petak umpet dengan gemintang layang
Maka lihatlah diantara awan berayun mendengkur rimbun
Dengarlah diantara suara burung hantu yang mendayu peredu
Akulah siut …
Akulah ombak …
Akulah benalu …
Akulah belenggu …
Untuk anakku Arslan Zain Sirhantara Hendriyanto, tetaplah berkilau dimanapun tempatmu... 2)you are Diamond, you know you're glow up
Catatan Kaki:
1) Dari quote Sapardji Djoko Damono: Sajak Kecil Tentang Cinta Mencintai angin harus menjadi siut

Tidak ada komentar:
Posting Komentar