Tampilkan postingan dengan label Surabaya (terispirasi dari Zahiya-kafe yang kosong:Najib Mahfudz). Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Surabaya (terispirasi dari Zahiya-kafe yang kosong:Najib Mahfudz). Tampilkan semua postingan

Senin, 14 Desember 2009

Sebuah kisah



Aku mendengar bunyi lembut sedu – sedan seorang gadis perawan, yang didalamnya mengalir kehangatan cinta dan kegetiran penyesalan. Saat itu aku duduk dibawah kamboja ditemani galau mendung, dan jemari keharuan menarikku memandang mahkluk yang menakjubksn itu. Ia berseru saat menjatuhkan tubuhnya diatas tanah basah. Terlentang dalam keletihan yang sangat, dengan tangan kanan menggenggam setangkai anggrek tanah.

Aku mendengar ia mengucap sesuatu ;
“ Tak bisa kujangkau walau kau hanya sejengkal tangan dariku. Aku sedang tinggi memujamu ketika kau meninggalkanku”. Ia tenggelam dalam isakan, berjuang dengan air matanya sendiri. Gadis perawan itu menutup matanya, pada lingkaran yang hanya terdapat sederet bulu mata yang jarang.
“ Demi kasih Tuhan Yang Maha Luas ........., Demi kedekatan dengan Rajamu Yang Agung. Oh ...........Syambaani kekasih hatiku, kupuja engkau ”.

Ingin aku menghiburnya dengan cerita-cerita usang atau roman-roman picisan, tetapi mata lelahnya dengan tangisan syahdunya benar – benar terlihat sangat sedih. Pipinya yang merah, dan hidungnya yang berbintik berkilat – kilat karena air mata. Cinta telah menyatukan mereka, lalu siapa yang mencerai berai mereka?. Ia telah direnggutnya, lalu siapa yang membawanya kembali?.

Untuk ukuran umurnya dia termasuk berada dalam keadaan menyedihkan. Kurus, permukaan wajahnya telah semuanya tertutup oleh kerut – kerut, sementara tulang – tulangnya menonjol dengan tajam seperti tengkorak. Dikedalaman matanya tersembunyi sebuah tatapan, dibalik tudung pucat yang memantulkan segala masalah kehidupan.

Gadis perawan itu masih disini, masih dibawah pohon kamboja. Tidak lagi bersama galau mendung, burung hantu bermata kelam yang buta akan siangnya hari yang menemaninya. Ia tidak bisa menyikapi misteri akan dirinya, ia menunduk semakin dalam, ia berseru sambil tangannya menggenggam tanah basah dihadapannya.
“ Lihatlah Syambaani, angin sedang berhenti bernafas, bulan gundah, dan bintang gelisah. Datanglah padaku duhai bibir yang tak pernah merasakan ciuman seorang perempuan, pun tak pernah merasakan belaian seorang kekasih. Datanglah dan peluklah aku. Datanglah padaku Syambaani ...........!”.

Gadis perawan itu berseru. Tapi, sepenggal nafas tak mampu membawa seucap suara pada setengah bumi. Gadis perawan itu mengais – ngais tanah basah di hadapannya, ia menepuk – nepuk, menggali dengan kedua tangannya. Dan tangkai anggrek tanah itu tertancap!.
“ kafe ini kosong Syambaani, kafe ini kosong ........!”.