Rabu, 15 Juni 2016

You are not alone



Seperti biasa, ve pulang dengan menaiki sebuah bis dengan jarak tempuh kurang lebih 1 jam dari kantor ke rumahnya, terdengar nada beep dari ponselnya, ve mengeluarkannya dari dalam tas dan membacanya… pesan whatsapp dari will
  
Will  : OTW…. Alone and exhausted
Ve    : No. you are not alone. You know… the time you feel lonely is the time you most need to be by yourself. Life is cruelest irony. And your exhausted will be your way to increase your life point. Insyaallah
Will  : Thanks. Later on. You’ll know the reason why I’m really alone, not just lips service. Really… really alone! I can’t get rid off it…I’ve been passing it through for more than 20 years…
Ve    : I really know how that loneliness will, I do passing it through for more 20 years. Aku sangat tau itu, hanya orang introvert yang bisa merasakan itu, it’s not just lips service, you know
Will  : Really?
Ve    : I am the only child, the one and only, on my 11 th years old I have to face my parents divorse. There is no brother or sister even a friend just to lay down my head or dry my tears…. I just walk alone all along the dawn…. through the night just with myself
Will  : But you survive so far? That’s a miracle cause God loves you… and give you a family to live with…You lost your happiness the past to get the happiness a head… in the future…I’m happy to know that, I’m happy because the real you now! You are still breathing, aren’t you? You can tell anything to me, anything. I like to  be your dustbin. A shoulder to cry on…

Almaqhvira Azmya Raesha dan William Mosses bertemu secara tidak sengaja pada suatu acara gathering, mereka menjadi dekat karena persamaan, mereka mempunyai masalah yang sama, saling bercerita, saling menguatkan, saling memberi dukungan. Ve merasa hidupnya lebih bermakna dengan hadirnya will, dengan mendengar keluh kesah will. Dan will begitu bahagia menemukan seseorang untuk mendengarkan ceritanya, kesepiannya, dan deritanya. Kemudian hari – hari mereka diisi dengan obrolan melalui Whats applikasi
Will  : I’ll tell you something… about my loneliness… my lost for the future…My past full of happiness…Full of hope and I could grab it My future? Nothing! No hope! Like a tree rooted up off the ground… dead…. More than dead….I don’t know for what I’m living now. Like a zombie
Ve    : About children…. Sorry
Will  : Yeah… we’ve tried to do everything, medical checkup the doctor say nothing wrong, we’re OK…, just a matter of time (he said it 20 years ago), and now?
   It’s not just a matter of time. A lot of friend giving us advise…we do it… except going to paranormal!. We still have faith in God…and we don’t want to lose our faith, although I looked with my eyes that it works.
Do my work…. My wife do her work… I know she likes to work and maybe she needs it more than me… she works in a little private bank… you know the work time of a bank… go home after 5 o’clock… mostly over time… and I’ve to enjoy my loneliness ( I think it’s the same thing with my wife).
            That’s why I read a lot, that’s why I watch film every day, that’s why I drown myself into the IT world, building my pc… make and took of the peripherals and put them again… and again and again and again… until I realize one more morning has  come again, 20 years isn’t enough? I don’t want to give up. I don’t want to cry, but I cry… (deep down on the bottom of my heart)
Ve    : Oh my Goodness willy…
Ve berkaca-kaca membaca tulisan will, tak terasa airmatanya meleleh, dan darah keluar dari hidungnya, tp ve tidak perduli, dia hanya menghapusnya dengan tisyu dan melanjutkan membaca
Will  : for 20 years… I like crying in the rain… cause nobody will know whether it’s from my tears or because of the rain… Hhhkkk…
Ve berhenti membaca dan bergumam
(kamu tidak tahu will, aq melakukan hal yang sama lebih dari 20 tahun ini, aku suka menangis diantara hujan, agar tak terlihat orang lain bahwa aku sedang menangis, bahwa yang jatuh di wajahku adalah airmataku…)
Sementara darah yang keluar dari hidungnya semakin deras, ve masih saja tidak perduli, ve hanya mengusapnya dengan tisyu dan melanjutkan membaca lagi
Will  : I think I’ve to stop it ve…
Ve    : it’s OK will… go on
Will  : OK. I think feel better… like throwing my burden for a moment… and bring it again until the end of the world. Please don’t tell anybody about all of this. I’ve lost everything, but  I don’t want to loose someone like you… who know how paintfull a loneliness… someone I can talk to. Let the people think that I’m a happy man… telling jokes everywhere. Making other people smile that’s I suppose to do. Thanks ve, hope you’ll be my truly close friend… if you don’t mind
Ve    : I do will… yes I do. I’m so sorry to hear that! You can take everything I am, I am here for you whenever you need, remember that will
Will  : No, dear ve, nothing to be sorry. I’m OK. I’m alright! Thanks so much ve
Dan ve tidak mampu lagi menahan berat badannya, darahnya, air matanya, seperti sebelum-sebelumnya, seperti biasa (itu yang slalu dia bilang) hampir dua jam ve jatuh pingsan. Ketika sadar dari pingsan ve bergumam
(this is warning ve… You have to transfusion!)

         Keesokan harinya ve beraktifitas seperti biasa, berangkat ngantor, sibuk, lupa makan dan obat, pulang gelap dan mengabaikan jadwal tranfusinya. Ya itulah ve, seorang pengidap Thalasemia dengan seabrek kesibukan kantor, “aku cuma ingin hidup normal sama seperti orang lain… kerja, sibuk, jalan2, hang out sama temen2, dan berharap Thalasemiaku bisa sembuh” itu yang selalu dia gumamkan ketika sedang tranfusi. Tidak hanya itu, beberapa bulan yang lalu ve menjalani oprasi ginjalnya yang bocor karena kurang minum, terlalu banyak duduk, dan akhirnya kelelahan, mengakibatkan kerusakan fungsi ginjalnya. Dan beberapa tahun yang lalu selama 2 tahun ve mondar-mandir keluar masuk Rumah Sakit untuk terapi pembengkakan pada otaknya, karena terlalu sering berfikir dengan keras dan kurang istirahat, sebelumnya ve mengalami sakit kepala yang sangat hebat selama berbulan-bulan, sampai suatu ketika ve muntah darah dan dokter menyarankan utk ceck lap, melakukan CT Scan dan MRI, dan begitulah hasilnya. Ve merebahkan tubuhnya di kamar, memejamkan matanya sejenak sebelum terdengar bunyi beep pada ponsel pintarnya, pesan dari will
Will  : hey there…
Ve   : hi will, How’s today, everything is good?
Will : so… far, so… good. Thanks honey. Where are you now?
Ve    : Home.
Will  : I really want to have home, not just a house
Ve    : wiiill… please…
Will  : Yes ve, I really want to have someone to talk to, sameone to listen me-my heart-my word-my sold-my sore-my misery- my everything. I need you ve, more than what you know, you are really know how this painfull
Ve    : (aku tidak tahu Will, apakah aku bisa menemanimu kapanpun kau butuhkan, ada sesuatu yang kau tidak tau) I’m here will, whenever you need me
Will  : aku cuma punya kamu ve… yang bisa mengertiku
Dan obrolan demi obrolan dilewati hingga kadang mereka tidak sadar sudah lewat tengah malam, tidak jarang pula di tambah bumbu penyedap, beda persepsi disana sini, atau salah paham, sehingga membuat mereka jengah beberapa saat. Ketika sat itu dating will akan merangkai katanya menjadi sesuatu yang luar biasa. Pernah suatu ketika will mengirimkan puisinya untuk ve lewat applikasi pintarnya, karena sebuah kesalah-pahaman saja

           (I don’t know much about what woman think… how she feel)
            I think I know her; The fack is i know nothing about her
            She ask me to tell everything,
            I tell everything
            And it annoy her
            She ask me to tell every thing, and
            Promised me to accept
            Whatever I say
            And it hurts her
            I think I now who she is;
            However I know nothing about her,
           (I don’t know much about what woman think… what she thinks… how she feel…)
            I talk talk talk
            And she feels inferior
            I think I knor her; The fack is i know nothing about her
            (I don’t know much about what woman think… how she feel…)
            She tells me to tell her anything
            And she thinks I’m show off
            She ask me to tell whatever;
            And she said please stop it
            and forget it
            I think I knor her; The fack is i know nothing about her
            (I don’t know much about what woman think… how she feels…)

Ve    : Will…, I never annoy your story, I feel inferior because of…. I don’t know… I have no nothing will since I was a child, you have happy family, brother and sister, you have everything…. Me. No! I just have nothing. I just feel jealous…sorry will.
Ve mengahiri percakapan, menutup ponselnya dan menangis sejadi-jadinya. “ kamu terlalu sempurna will”, gumamnya
         Waktu terus berjalan pada rotasinya, beberapa hari ini ve merasa tubuhnya sangat tidak nyaman, ve sering merasa pusing bahkan sakit yang luar biasa pada tekuknya, badannya lemas, beberapa kali dia hampir kehilangan kesadaranya, akhirnya ve memaksa dirinya untuk menemui orang yang paling dibencinya, dokter.
dr     : kenapa bisa seperti ini bu? Seharusnya seminggu yang lalu anda menemui saya
Ve    : ada apa dok? Saya g kenapa-napa kan?
dr    : bu Almaqhvira, anda harus dirawat. Ini harus
ve     : dok, tp saya.....
dr     : tolong bu, jangan membantah.
Dengan sangat terpaksa ve membiarkan dirinya dipasang alat yang entah itu apa, ve sendiri tidak tahu, kemudian suster mendorongnya yang terbaring di ranjang menuju kamar inap. Tiba-tiba ve teringat will, separuh jiwanya, setengah dari nafasnya, motivasinya, dan alasan kenapa ve bertahan sammpai sejauh ini. “aku merindukanmu will” gumamnya, “ bagaimana aku mengatakan semua ini padamu” lanjutnya. Ve mengambil ponsel pintarnya, dan mulai menulis
Ve    : will... are you there?
Tidak butuh waktu lama ve menunggu balsan dari will
Will  : yes dear... how’s your day?
Ve    : will, i want to see you. Right now. Can you?
Will : ve? What’s going on? Are you ok?. Sayang, denger deh aq buat puisi nih... buat kamu... hold on i write it
Ve    : will! I don’t need your poem ok!. I JUST NEED YOU! Here. Right now. Now willy
Will  : ok ok. I’ll come. Where are you
Ve    : Rumah Sakit Sejahtera
Will  : Whatt???

“Terakhir kali aku melihatmu…. Darah itu mengucur hebat dari hidung dan mulutmu, my little girl, the only friend – the one and only I have, leave me, she is really leave me”
Will tertunduk pasrah di depan gundukan tanah basah, dia teringat kalimat terakhir yang keluar dari mulut ve, sebelum semua hilang, benar-benar hilang. “ you are not alone will, I’ll be by your side forever. You are not alone”. 


 

Senin, 13 Juni 2016

SENJA ABU-ABU

Kata-katanya tak terkatakan, inginnya tak terungkapkan, hanya saja… aku bisa memahami bahasa jiwanya. Karena cinta, ia mendengar apa yang tidak dikatakan, mengerti apa yang tidak dijelaskan, sebab CINTA tidak datang dari bibir, lidah, atau pikiran, melainkan...dari HATI. Entah siapa yang pernah mengatakan itu padaku, sudah lama sekali rasanya. Dia pasti tahu aku sedang melihatnya, dia pasti tahu aku sedang memahaminya, dia pasti tahu aku merindukannya, dia pasti tahu sebagian nafasku adalah untuknya… dia pasti tahu itu. Entah bagaimana caranya sebab aku sendiri tidak pernah menunjukkan padanya dan tidak pernah mewartakan pada siapapun. Hingga waktu lelah dan menjadi tua, sebab yang kutahu daratan yang aku pijak sekarang ini adalah lahan yang semakin menua hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun. 
Tapi detik ini, aku melihat cakrawala yang keemasan dengan gurat melengkung di angkasa yang bergelantung disana-sini menjadi lukisan merah meronanya, dengan  perahu layar di kejauhan entah berawak atau tidak, dan barisan kawanan entah burung camar entah burung bangau terbang kesana – kemari seperti tanpa tujuan dan hanya berputar – putar saja disana1), mungkin juga siluet sejoli yang sedang berasyik masyuk dibawah lambaian pohon kelapa, terlihat di kejauhan, sebagai pelengkap lukisan merah merona itu. Dan detik ini aku teringat padanya – Rona Merah Senja, kemanakah kau sembunyikan dirimu?, kemanakah perginya senyum pipit itu?, kemanakah hilangnya tatap sendu itu, kemanakah lenyapnya suara merdu itu?. Kemanakah kau membawa setengah dari nafasku, sebagian jiwaku, sepotong hatiku…seperti sungai yang berarak – arak mengaliri tiap senti pembuluh darahku, seperti itulah mataku meminta melihatmu…seperti kepingan gelas yang bertalu – mendayu ketika tersentuh partikel ubin marmer, seperti itulah suara jiwaku memanggilmu… seperti bayi – bayi penyu yang dilepas kepantai dan dengan kaki mungilnya bergegas mencium bibir pantai basah dengan mesra, seperti itulah rasaku meminta… dan entah seperti ilustrasi apa lagi akan ku lukiskan.
Rupanya hujan akan turun sore ini, cakrawala yang keemasan dengan gurat melengkung di angkasa yang bergelantung disana-sini yang menjadi lukisan merah merona berganyi dengan awan abu – abu dan semakin menua kemudian berubah gelap, perahu layar dari kejauhan tak terlihat lagi, barisan kawanan yang tak kutahu entah burung camar entah burung bangau yang tadinya terbang kesana – kemari seperti tanpa tujuan dan hanya berputar – putar saja disana tiba – tiba lenyap seperti ditelan pekatnya langit itu, sejoli yang sedang berasyik masyuk dibawah lambaian pohon kelapa itu pun seolah digulung air laut yang mulai pasang. Hujan turun sore ini, basahnya tidak biasa, basahnya seperti meresap hingga ke lapisan ke tujuh tulang sumsumku, marasuk hingga ke kedalaman jiwaku. Biasanya ketika hujan turun seperti ini, aku akan menangis diantaranya hingga membuat mataku rabun karenanya, dan tidak akan ada yang tahu itu.




Rujukan :
1). “hanya berputar – putar saja disana” sebagai ilistrasi senja, Dari Sepotong senja untuk Pacarku : Seno Gumira Ajidarma
- Ilustrasi gambar : Seribu Sajak – Cica Juew

Jumat, 10 April 2015

Sebelum Hatiku Membeku



Sebelum Hatiku Membeku






Sebuah ungkapan jiwa.....bahasa hati, bahasa yang tak pernah terucapkan oleh bibir beku, dan mata sendu.....ketika hanya ada pekat dalam hati..... tanpa anggur merah, tanpa dentum mendayu, tanpa gempita laya, tanpa apa-apa. Bahkan cupid pun seolah enggan mengarahkan busur cintanya, dia berlalu tanpa ragu perlahan dan sayu.  

Bintang malam mengeluarkan suaranya:
 “Apakah kau lupa bahwa pesonaku adalah kelemahanku? cantikku adalah lukaku
Apakah kau lupa bahwa disetiap urat nadi itu mengalir darah, dan jika tertusuk jarum akan mengalir keluar darahnya? Apakah kau lupa bahwa semua warna jika dilebur menjadi satu akan menjadi warna hitam? Apakah kau melupakan itu?..... Bayangan Hitam! Aku pernah menulis ini..... 1" cafe ini kosong, tak berpenghuni, " dan sepertinya cafe itu akan dibiarkan kosong saja tak berpenghuni. Akhirnya..... kau menyuruhku kembali pada senja dan menari bersamanya..... menenggelamkanku di dasar laut hingga kedalaman yang tak terhingga....Tapi jangan kawatir, aku tidak akan berteriak..... aku akan diam saja..... tidak akan ada yang tau bahwa senja itu telah tertusuk ilalang.....
kau tau? diamku adalah tangisan terkerasku”

Bayangan hitam tertunduk dalam desahnya:
" Jangan pernah kau biarkan rasa sakit, letih, gundah dan sedih itu menderamu lalu membuatmu lumpuh karenanya...
Karena...Pada sejatinya kau tidaklah serapuh itu...
Senja itu takkan pernah pudar, rona merahnya akan tetap merekah sebagai penghias semesta dikala petang yang akan hadir dan membuka tangan-tangan sang malam, sebagai penawar bagi hati yang terluka, penyejuk bagi mata yang memandang. Mewakili suasana jiwa yang merindukan seribu tanya, merindukan seribu jawaban dan merindukan seribu bahasa yang tak pernah terucap, namun dapat dimengerti bahasa kiasnya...
Kau begitu kuat, kau begitu hebat, kau tak serapuh itu dan kau tak mudah terjatuh...
Apa yang kau genggam dengan tanganmu, sama seperti apa yang pernah kau lepaskan karenanya...
Tinggalkanlah sejenak lalumu dan berilah sedikit waktu untuk mengokohkan semuanya, membangkitkan semuanya dan meyakinkan semuanya... "

Bayangkan, bagaimana dua sosok yang bertemu, tapi hati mereka tidak pernah bisa bertemu. Aku tahu betul apa itu CINTA, ia mendengar apa yang tidak dikatakan, mengerti apa yang tidak dijelaskan, sebab CINTA tidak datang dari bibir, lidah, atau pikiran, melainkan...HATI. Lalu bagaimana dengan hatiku yang lelah, begitu lama aku menanti, begitu lama aku mengalah, begitu lama aku berhenti-diam tak memperdulikan kanan kiri depan belakang atas bawah, aku takut “ia” akan membeku karena terlalu lama tak difungsikan.

Jadi tolonglah.....dengan segenap jiwa aku memohon kepadaMu ..... selamatkanlah hatiku, angkatlah hatiku, peluklah hatiku, hangatkanlah hatiku..... Sebelum Hatiku Membeku.....


Rujukan 
1. Kafe yang kosong ; Najuib Mahfudz



Rabu, 21 November 2012

BULAN BESAR



Bulan ini adalah bulan baik (menurut hitungan jawa) bagi pasangan yang akan menikah, Menurut primbon jawa bulan ini termasuk / bernama bulan “besar”. 1). Wataknnya bulan untuk : perkawinan: baik, kaya, mendapatkan kebahagiaan. Mendirikan apapun : baik, banyak rejeki dan mendapatkan “ supangate” Nabi Muhammad SAW. Menanam: Baik. Pindah rumah: baik, disayang sesamanya. 2). Tempat Naga: -Bulan: Barat, -Tahun : Utara, Jatingarang: Utara. Jangan menuju ketempat Naga dan Jatingarang. Itu menurut primbon jawa, kalo aku sendiri g’ ngerti sama sekali hal-hal seperti itu, tepatnya sebelum menikah-karena ketika akan menikah ada pihak yang membicarakan hal itu dan pernikahanku berdasarkan hal yang sangat “tidak penting” (come on, we are mosleem ...).

Sebenarnya pada kalender islam bulan besar (jawa) sama dengan/termasuk bulan Dzulhijjah, keistimewaan dari bulan ini (menurut kalender islam) diantaranya adalah The great of Hajj yang lebih dikenal dengan ibadah haji (itupun dimulai dari bulan sebelummya dan ditutup pada Idl adha pada bulan dzulhijjah). *Sebab istimewanya (menurut Ibnu Hajar dlm kitab Fathul Baari) terutama pada 10 hari pertama bulan dzulhijjah karena pada hari tersebut merupakan berkumpulnya ibadah-ibadah utama yaitu sholat, shaum, shodaqoh, dan haji, dan tidak ada selainnya waktu seperti itu.

Mungkin karena hal tersebut maka orang-orang jawa mengutamakan bulan desember untuk melaksanakan hajatnya terutama perkawinan, karena menurut dongeng sebelum tidur, penyebaran agama islam di jawa tidak meninggalkan budaya dan adat jawa itu sendiri yaitu unsur kejawen yang di bawa oleh agama sebelumnya yaitu hindu-budha, jadi adat dan budaya bawaan itu sampai sekarang masih melekat, salah satunya perhitungan dan pencocokan nama pada pasangan menjelang pernikahan (wadooohh...kalo g cocok g’ jadi nikah dong).

Dan bulan ini adalah bulan Desember, sudah bisa di pastikan bahwa undangan pernikahan akan bejibun banyaknya, g’ tanggung–tanggung aku bisa menerima sampai 10 undangan di bulan ini dari teman kantorku, teman suami, tetangga dan keluarga. Dari keluargaku sendiri aja ada 2 orang yang menikah, adik sepupu-anak dari tanteku pada tanggal 1 Desember dan adik kandung suamiku pada tanggal 4 Desember. Ada 2 hal menarik yang terekam di kepalaku pada pesta pernikahan mereka berdua.

Pertama. Pernikahan adik sepupuku, keluargaku harus menempuh jarak -+ 200 km untuk sampai ketempatnya tinggal, rumah si mbah (kakek dalam bahasa jawa), pertama kali yang aku lihat ketika tiba disana adalah suasana rumah tampak lengang tidak ada hiasan apapun atau suara musik yang mencerminkan akan adanya hajat di rumah itu. Yang tampak ramai hanya dapur, dipenuhi aneka masakan, tetap masakan has desa sambal goreng ati, bihun goreng, kering tempe, ayam bumbu lodo, dan aku lihat adik sepupuku sedang duduk di dingklek kayu sendiri, mengiris kentang untuk campuran sambal goreng ati katanya (whatt!! She gonna be married... how come!!). Aku dan ibu kaget banget, besuk dia akan jadi pengantin harusnya dia perawatan prawedding luluran kek facial kek atau apalah yang biasa dilakukan perempuan sebelum menikah, bukannya duduk jongkok di dapur ngupas kentang dan berkotor-kotor begini. Kata si mbah dia melakukan hampir semua sendiri, belanja, memasak, beli minyak, mengurus ibunya (oh my goodness... i can’t stand!), hampir aku menangis melihatnya dan keadaan ini, ibunya cuma bisa tidur karena ketidakmampuannya melawan kanker, si mbah sudah tua g’ mungkin melakukan pekerjaan berat, dan keuangan yang sangat minim membuatnya g’ mungkin memakai jasa wedding organiser, welly nelly kami keluarganya yg membantu walapun jauh dan sibuk kami sangat megusahakan datang.
“ ora enek apa-apa, gur ngijabne pokoke syah, bar ngono walimahan, undangane gur wong 20 tangga dewe, teka keluarga lanange kira-kira mung 20, acarane sesuk bengi” begitu kata si mbah bercerita ketika ibu bertanya tentang jalan acaranya
Tidak ada pesta apapun undangan cuma 50 orang tetangga dekat dan keluarga saja, setelah ijab qobul, walimah, dan selesai, dengan berbagai pertimbangan acara di laksanakan malam hari ba’dha magrib. 
Setan telah menguasai diriku ketika keesokan harinya salah satu saudara menyuruh dia membeli kantong plastik, gula, dan kardus
“ Heh! Bocah iki arepe dadi manten. Ora usah ngongkon-ngongkon! Budal dewe kono!!”
Kurang beberapa jam dia jadi pengantin harusnya dia mempersiapkan dirinya, aku heran orang-orang ini ngerti keadaan g’ sih seenaknya aja, hari biasa boleh lah nyuruh-nyuruh tapi ini hari istimewanya please ... give her a chance. Sekali lagi hampir aku meloncat ketika adik sepupuku yang lain memberitahuku belum ada perias pengantinnya, Astaghfirullah ... pernikahan apa ini!, “Ya udah kamu cari perias di daerah sini nanti mbak pit yang bayar, bilang kita cuma pake jasa riasnya aja, baju udah mbak bawain tuh kebaya putih, trus suruh dina coba bajunya pas g?, kalo kedodoran kan masih ada waktu ngecilin, habis itu jangan balik ke dapur lagi diem aja di dalem, ngapain gitu nonton tivi atau apa”. Persis orang tua aku ngomel, memang aku tertua di antara yang lain (aku cucu tertua), dan herannya g ada yang berani membantah satupun kalimatku termasuk ibu.
Begitulah sedikit gambaran persiapan Mantenan adik sepupuku yang penuh keharuan. Malam harinya keluarlah calon pengantin dari kamarnya dina tampak cantik walau dengan riasan dan baju sederhana- kebaya putih gading. Alhamdulillah ... segala puji bagi Allah yang Maha Mengatur Segala acara diberi kemudahan dan kelancaran. Setelah pengantin dinyatakan syah sebagai suami istri, setelah mas kawin uang tunai (yang hanya) Rp. 500.000 diserahkan, dan dibacakanlah doa “Barokallahu laka wa baaroka ?alaika wa jama?a bainakumaa fii khoir tanpa sadar aq meneteskan airmata dan berdoa dalam hati (semoga bahagia din, always... all the best for you...).

Kemudian yang kedua. Pernikahan adik kandung suamiku atau adik iparku, yang jauh dari kata sederhana. Perias dan dekorasi pengantin, catering, dan foto & video editing dari luar kota, tempat yang bagus menurut dia. Foto prewedding, perawatan pra nikah (dari facial sampai spa), prosesi acara menggunakan adat jawa (walau setengah-setengan), dari acara siraman, midodareni dimalam harinya. Dan keesokan harinya acara akad nikah yang digelar di tenda halaman rumah yg di tata sangat cantik, dengan busana yang mewah (menurut ukuranku), ketika iring-iringan mempelai laki-laki tiba dengan bawaan seserahan yang tidak sedikit, dan  mas kawin seperangkat alat sholat dan periasan emas 33 gram, itu cukup membuatku berdecak. Itu baru akad nikah-masih ada resepsi dimalam harinya yang digelar di gedung serbaguna dengan undangan 2 ribu orang, aku sudah membayangkan betapa WOW pesta nanti malam. Dan benar saja ketika sore hari aku dan suami tiba digedung untuk dirias (semua keluarga dirias dan memakai seragam) sdh ada beberapa pasang orang yg antri untuk didandani, ada yang sebagai terima tamu, penjaga buku tamu, menjaga kotak uang, memberikan kartu souvenir, dan memberikan souvenir. Ribet banget sih! Setelah semua ready di tempat masing-masing kelihatanlah mewahnya acara ini, warna merah yang menjadi nuansa semakin menambah kesan mewah, berapa puluh juta mereka merogoh saku atau mungkin mencapai ratus juta...Ups! hampir lupa, ada prosesi temu manten, sungkeman, panggih besan, kemudian di akhir acara setelah tamu pulang semua ada prosesi kirap manten (pengantin turun dari kursi dekorasi, berjalan menuju meja makan yg sudah dihias sedemikian rupa dan menyantap makanan yang sudah disediakan). Masyaallah... ada apa denganku? Iri atau apa?... dari awal hingga akhir acara tidak satupun kalimat doa terucap... mungkin karena tak kulihat adanya sesuatu yang bernama “sakral” dan hanya terlihat mewah saja. Astaghfirullahaladim... 

 Rujukan :
1,2 :  Primbon dan pakuwon joyoboyo
*    : Ibnu Hajar dlm kitab Fathul Baari