“Everything is OK?”
“Everything is OK. What do you meant?”
Oh, jantungku, tetaplah berdetak karena itu
adalah tugasmu, jangan lupa untuk berdetak. Tetaplah berdetak. Dia hanya
menyapaku, itu saja. Sadarlah ve. Sadarlah!
“ Ooh I just want to see you… are you OK?
“ I… I’m OK. Thank You….. sir”
-2013-
“Ada yang bisa saya bantu?” Tiba-tiba sebuah
suara mengejutkanku, ketika aku memandang suara itu berasal yang aku lihat nama
dadanya Arthur Khan dan jantungku berhenti
berdetak, tidak ia berdetak melebihi kapasitasnya, iramanya tidak teratur,
dadaku sesak, aku sulit bernafas, aku butuh dokter.
“Bisa saya bantu?” dia mengulang pertanyaanya dan
mengembalikan kesadaranku setelah hilang beberapa saat
“Ss sayya menunggu Direktur Keuangan, apa
beliau sudah ditempat? Saya dari kantor cabang, ada dokumen yang harus saya serahkan”
jawabku terbata karena gugup
“Oh, saya dengar Bapak Dirut sedang dinas luar
sampai tiga hari kedepan, anda bisa
kembali empat hari lagi, eee… ruangan saya disebelah Divisi keuangan” jelasnya
sambil menunjuk ruang yang hanya terlihat temboknya. Kemudian dia mengulurkan
tangan ke arahku sambil berkata
“ada lagi yang bias dibantu? Mmm by the way… saya Arthur”
dan ….. astagaa…. Kenapa dia tersenyum siih bisa mati berdiri aku yang rasanya
tubuhku semakin kaku membatu, tanpa dia menyebut nama pun semua orang pasti tau
namanya dari nametag didadanya. “Hello there… I’m still here” ucapnya lagi
beberapa saat membuatku semakin kikuk.
“Valerie” jawabku pendek.
Dia berlalu setelah aku mengucapkan
terimakasih. Suara langkah kakinya membangunkanku dan jantungku kembali
berdetak, tapi baru beberapa langkah dia berhenti dan menoleh ke arahku "nice to meet you Valerie Aurora" ucapnya sambil tersenyum. Astagaa... dia pasti membaca nametag didadaku. Aku mengangguk dan tersenyum, ada ya laki-laki seperti itu, perangainya santun, suaranya merdu,
wajahnya rupawan, Oh mataku berbahagialah kau. Jauh-jauh aku kemari dengan
tidak sia-sia, dan kembali ke kantor dengan hati bahagia.
“Ruang apa yang berada disebelah Divisi
Keuangan…..” Aku terus bergumam tanpa sadar, sampai tak tahan aku bertanya pada
senior di meja sebelah, “ Ruang Humas deh kayaknya ve”. Well Done ve.
Congratulation, You got him. Dan semakin melebar saja sudut bibirku mendengar
jawabannya.
Beberapa bulan kemudian aku kembali,
tapi tidak untuk menemui Direktur keuangan, melainkan menemuinya…… ya aku akan
ke bagian Humas meyerahkan proposal acara tahunan. Dengan perasaan yang tidak
menentu dan berjuta harapan aku menuju kantor pusat. Sepanjang perjalanan aku
tidak bisa berhenti tersenyum, sudut bibirku terus saja menarik kearah
berlawanan, mataku berbinar, dan kau jantung tugasmu adalah berdetak. Setiba di
depan ruangannya aku menata nafasku agar lebih teratur, menata jantungku agar
lebih stabil iramanya, tidak lupa menata senyumku agar tampak natural “Good
luck ve” suara hatiku menyemangati
“Maaf, saya dari kantor cabang, saya mau
menyerahkan proposal acara tahunan, kepada siapa ya?” sapaku pada salah satu
pegawai diruangan itu
“Ooh… dari kantor cabang, kebetulan saya yang
menangani” dia merima proposal yang kusodorkan padanya dan membacanya, “OK.
Akan saya serahkan pada Bapak Kabag untuk ditindak lanjuti” lanjutnya. Aku
membalasnya dgn senyum dan sedikit memperlihatkan gigi kelinciku.
“Ada lagi yang bisa dibantu?’ tanyanya lagi,
mungkin karena dia melihatku masih duduk didepannya
“Eeee….. maaf, bisa bertemu dengan Bapak Arthur
Khan?” tanyaku dengan sangat hati-hati, memberanikan diri
“Aaa….. iya benar. Bapak Arthur dipromosikan
sebulan yang lalu menjadi Kepala Cabang, tepatnya dicabang mana saya kurang
jelas
“Ooh, begitu…”
Ada banyak anak cabang perusahaaan kami yang
tersebar di seluruh negeri ini, dibelahan nusantara bagian mana dia ditempatkan?
Bagaimana aku menemukannya?
Setelah
hari itu, seperti biasa aku melalui hari- hariku, seperti biasa. Bahkan aku
tidak menyelipkan bayangannya didalam tasku, tasku hanya berisi notes bersampul
kupu-kupu, ballpoint, ponsel,
lipstick, tisyu, sebutir apel, dan yogurt, tanpa ada bayangnya. Everything is
OK and peacefull, 1)aku seperti naik kereta Argobromo menuju Jakarta – pelan,
tidak terburu-buru tapi pasti sampai juga keesokan harinya. Ada banyak hal
menarik yang kulalui dalam semalam yang tidak terburu-buru itu, ada kalanya kereta
melewati pematang sawah yang menghijau sejauh mata memandang dan diakhiri
lukisan gunung yang menjulang hingga langit biru dari kejauhan, tidak lama
kemudian kereta melintasi sekawanan kerbau dan biri-biri di padang rumput yang luas
sedang (mungkin) bercengkrama atau berdiskusi tentang bagaimana cara menjadi
langsing tanpa perlu mengurangi porsi makan rumput, kemudian kereta berada di
jalur curam sebelah kanan belantara jati yang pasti luas dan lebat sedangkan
sebelah kiri jurang terjal dengan sungai didasarnya…. Aku melongok ke kaca jendela kereta berada di atas sungai yang entah
berapa dalammya sehingga terdengar suara laju kereta melambat, ahkirnya sampailah
kereta mensejajari bulatan orange merona merah diantara batas cakrawala dengan
siluet kawanan burung diantaranya, setelah itu tidak tampak apa-apa lagi diluar
kecuali hanya gelap. But everything is
OK
-2020-
Meeting tahunan kali ini di Hotel
Anyelir – tempat yang indah , kakiku rindu menyentuh batu koral, pasir kasar yang
hangat, buih air laut di pinggiran pantainya, mataku rindu memandang telur
ceplok berwarna oranye dengan merona merah di angkasa, kawanan siluet burung,
pohon kelapa yang menari bersama angin, deretan bakau dikejauhan menambah
syahdu landscape, jangan lupakan angin
kering yang selalu membutuhkan sunblock
untuk kulitku. Jadi tujuanku adalah Sembilan puluh lima persen semua itu
sedangkan lima persen meeting, that’s all. Bahkan ketika di ruang meeting pun aku tidak bias
focus, tubuhku di sini, diruang ini, tapi pikiranku sudah terbang bersama camar
yang menungguku di tepi pantai tadi, karena tidak ada hal seru disini, tema
pembahasan pun sama tiap tahunnya, hanya seputar capaian selama setahun dan project setahun kedepan, topik klise. Sampai
tiba waktu pengumuman rolling karyawan, promosi dan penghargaan karyawan
terbaik, ketika pembawa acara mengumumkan branch
managerku harus dipindahkan ke cabang lain dan digantikan dengan….. siapa…..
maaf siapa?..... tiba-tiba jantungku berhenti berdetak, mataku setengah melotot,
mungkin mulut sudah menganga, tanpa sadar aku sudah berdiri sementara semua
orang bertepuk tangan. Arthur Khan kah itu? It’s really you? It is not real, Lebih
tidak mungkin lagi dia menjadi branch manager di kantorku.
“ve, what’s wrong with you?” aku tersedak
ketika tanganku disentuh jeroemiah dan menarikku untuk duduk kembali. “Are you
OK?” ulangnya
“I’m fine jer… it’s OK” kataku, tersenyum berusaha
tenang
Dan benar saja, ketika dia berkeliling di
rombongan kantorku aku menjadi kaku dan membatu. Satu persatu menjabat
tangannya dan memperkenalkan diri, sedangkan aku sendiri ribut dengan diriku
sendiri memperdebatkan tentang… dia masih ingat atau tidak denganku, ah tidak
mungkin dia ingat, it has been seven years ago, come on. Yup his here, in front
of me, right now. Lagi-lagi jeroemiah menyikutku
yang membuatku sadar “kamu kenapa sih ve?” bisiknya, sedangkan bapak branch manager didepanku mengulurkan tangannya sambil tersenyum “Hi there… I’m still here”
aku meraih tangannya, belum sempat aku menjawab
dia melanjutkan “ Nice to meet you… Valerie Aurora”
aku mengangguk dan berusaha tersenyum “Nice to
meet you Bapak Arthur”
dan semua orang terbelalak dengan mulut
setengah terbuka, aku dengar jeroemiah berbisik ditelingaku dengan mengarahkan
kepalanya dibelakangku “how he know you? Mmm no no… how you know him… bagaimana
kalian….”
Belum selesai dia berbicara aku sudah menginjak
kakinya sampai dia mengeluarkan suara “Ouch ve….! buset dah!”
-This
morning-
Aku
sedang asyik dengan laptopku dimeja kerjaku ketika tiba-tiba satu ruangan
menjadi gaduh, ve yang asik sendiri benar-benar tidak perduli apa yang terjadi
pada mereka, dan seperti biasa jeroemiah mengetok mejaku dan ketika aku menoleh
dia membuat isyarat dengan mukanya yg lucu bahwa ada seseorang berdiri di depan
mejaku, dan ketika aku menengadah… Oh my God… he is here, dan segera aku
berdiri walaupun masih di belakang mejaku
“Everything is OK?” tanyanya
“Everything is OK. What do you meant?” jawabku
Oh, jantungku, tetaplah berdetak karena itu
adalah tugasmu, jangan lupa untuk berdetak. Tetaplah berdetak. Dia hanya
menyapaku, itu saja. Sadarlah ve. Sadarlah!
“Ooh I just want to see you… are you OK?
“I… I’m OK. Thank You….. sir”
Kemudian dia melangkahkan kakinya menuju pintu,
tiba-tiba berhenti dan menoleh kembali kepadaku
“I’m here Valerie…. I’m still here” ucapnya sambil
tersenyum
Dan aku bersiap membeli tiket wahana 2)rollercoaster...
Catatan kaki :
1). "gue seperti naik kereta" adalah kata-kata boy dalam serial Catatan Si Boy NetTV, ketika boy mengingat hubungannya dengan Nuke yang berjalan tenang dan damai
2). "Rollercoaster" potongan kalimat Boy ketika memutuskan membuka hatinya untuk Vera, "dan gue seperti naik rollercoaster, entah kenapa gue g mau udahan..." .