Ketahuilah bahwa hati, dalam setiap keadaan, akan senantiasa menyertai orang yang dicintainya. Hati tidak akan merobohkan rumah, tidak akan takut kepada para penyamun, dan tidak membutuhkan pelana kuda. Tubuh yang buruklah yang terikat pada semua itu.
Dimanapun kau
berada dan apapun yang terjadi, berusahalah untuk selalu menjadi seorang
pecinta dan perindu. Ketika cinta sudah menjadi milikmu, maka selamanya kau
akan menjadi seorang pecinta dimanapun kau berada; di dalam kubur, di padang
masyar, di syurga, dan disegala tempat. Seperti benih gandum yang kau tanam,
maka ia akan tumbuh menjadi gandum, di gudang tetap menjadi gandum, dan di
tungku perapian juga tetap menjadi gandum.
*)Seperti Majnun
yang hendak menulis surat pada layla. Ia memegang pena lalu menulis berikut:
" Khayalanmu di mataku, namamu di mulutku, ingatanmu di hatiku, lalu
kemana lagi aku bisa menulis?... Khayalanmu bersemayam di hatiku, namun tak
pernah lepas dari lidahku, dan ingatanmu memenuhi lubuk jiwaku, lalu kemana
harus kukirim surat ini padahal kau selalu berputar-putar di segala
tempat?" Majnun kemudian mematahkan pena dan merobek kertasnya.
Bila layla
adalah taman melati di musim semi, maka majnun padang rumput di musim gugur.
Bila dari balik rambutnya layla memikat dunia dengan sekali kerlingan, maka
majnun menjadi pengembara yang menari dalam kegilaan. Layla memegang secawan
anggur, majnun mabuk oleh aromanya-bahkan sebelum mencecap isinya. Layla
menamam serumpun mawar, majnun menyiraminya dengan air mata.
Dan untukku, kemana kau akan meletakkan hati dan cintaku? Hatiku dipenuhi kalimat-kalimat semacam manusia yang sedang dimabuk cinta, hanya saja aku tidak bisa mengungkapkannya dengan rangkaian lafal-lafal penyejuk. Bila kau tau hakikat seorang pecinta, kau pasti menyadari, cinta akan meleburkan jiwamu kedalam jiwa kekasihmu.
**)Meninggalkanmu.
Seperti sakit yang akan merenggut kesehatanku untuk tidak setia kepadaku.
Seperti dunia yang fana ini, cepat atau lambat akan membuatnya kehilangan
ibumu, ayahmu, dan keluargamu. Akan datang pula hari dimana engkau tidak bisa
menatap lagi wajah orang-orang yang engkau cinta, orang-orang yang engkau pilih
menjadi belahan jiwamu. Hijau dedaunan pada musim semi akan digantikan dengan
datangnya musim gugur yang merubah dedaunan jadi menguning.
Demikianlah kita
diciptakan untuk dilebur kembali.
Sungguh, betapa
pedihnya hatiku. Seperti berada pada sebuah gerbang yang aku sendiri enggan
melewatinya, tapi sang penjaga telah mengayuhkan pedangnya pada leherku untuk
ku tetap melangkah. Dan aku harus menggerakkan kakiku dan meninggalkan segala
kesenangan dan airmata bersamamu, walaupun aku tidak tau kemana arah langkahku.
Diriku adalah guratan dalam goresan pena takdir, seperti sebuah sumur
perpisahan yang dalam, seperti sungai yang menghanyutkan dan seperti
puing-puing yang terhempas oleh terpaan angin kencang. Dan cintaku bertepi
disini.
Aku. Kau. Tumbang.
Rujukan:
*) Dari layla dan majnun oleh Nizami Ganjavi
**) Dari "Hajar" rahasia hati sang ratu zam zam oleh Sibel Eraslan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar