Selasa, 03 Januari 2017

Cintaku bertepi disini


Ketahuilah bahwa hati, dalam setiap keadaan, akan senantiasa menyertai orang yang dicintainya. Hati tidak akan merobohkan rumah, tidak akan takut kepada para penyamun, dan tidak membutuhkan pelana kuda. Tubuh yang buruklah yang terikat pada semua itu.
Dimanapun kau berada dan apapun yang terjadi, berusahalah untuk selalu menjadi seorang pecinta dan perindu. Ketika cinta sudah menjadi milikmu, maka selamanya kau akan menjadi seorang pecinta dimanapun kau berada; di dalam kubur, di padang masyar, di syurga, dan disegala tempat. Seperti benih gandum yang kau tanam, maka ia akan tumbuh menjadi gandum, di gudang tetap menjadi gandum, dan di tungku perapian juga tetap menjadi gandum.

*)Seperti Majnun yang hendak menulis surat pada layla. Ia memegang pena lalu menulis berikut: " Khayalanmu di mataku, namamu di mulutku, ingatanmu di hatiku, lalu kemana lagi aku bisa menulis?... Khayalanmu bersemayam di hatiku, namun tak pernah lepas dari lidahku, dan ingatanmu memenuhi lubuk jiwaku, lalu kemana harus kukirim surat ini padahal kau selalu berputar-putar di segala tempat?" Majnun kemudian mematahkan pena dan merobek kertasnya.
Bila layla adalah taman melati di musim semi, maka majnun padang rumput di musim gugur. Bila dari balik rambutnya layla memikat dunia dengan sekali kerlingan, maka majnun menjadi pengembara yang menari dalam kegilaan. Layla memegang secawan anggur, majnun mabuk oleh aromanya-bahkan sebelum mencecap isinya. Layla menamam serumpun mawar, majnun menyiraminya dengan air mata.

Dan untukku, kemana kau akan meletakkan hati dan cintaku? Hatiku dipenuhi kalimat-kalimat semacam manusia yang sedang dimabuk cinta, hanya saja aku tidak bisa mengungkapkannya dengan rangkaian lafal-lafal penyejuk. Bila kau tau hakikat seorang pecinta, kau pasti menyadari, cinta akan meleburkan jiwamu kedalam jiwa kekasihmu.
**)Meninggalkanmu. Seperti sakit yang akan merenggut kesehatanku untuk tidak setia kepadaku. Seperti dunia yang fana ini, cepat atau lambat akan membuatnya kehilangan ibumu, ayahmu, dan keluargamu. Akan datang pula hari dimana engkau tidak bisa menatap lagi wajah orang-orang yang engkau cinta, orang-orang yang engkau pilih menjadi belahan jiwamu. Hijau dedaunan pada musim semi akan digantikan dengan datangnya musim gugur yang merubah dedaunan jadi menguning.
Demikianlah kita diciptakan untuk dilebur kembali.

Sungguh, betapa pedihnya hatiku. Seperti berada pada sebuah gerbang yang aku sendiri enggan melewatinya, tapi sang penjaga telah mengayuhkan pedangnya pada leherku untuk ku tetap melangkah. Dan aku harus menggerakkan kakiku dan meninggalkan segala kesenangan dan airmata bersamamu, walaupun aku tidak tau kemana arah langkahku. Diriku adalah guratan dalam goresan pena takdir, seperti sebuah sumur perpisahan yang dalam, seperti sungai yang menghanyutkan dan seperti puing-puing yang terhempas oleh terpaan angin kencang. Dan cintaku bertepi disini.
Aku. Kau. Tumbang.


Rujukan: 
*)  Dari layla dan majnun oleh Nizami Ganjavi
**)  Dari "Hajar" rahasia hati sang ratu zam zam  oleh Sibel Eraslan



Tidak ada komentar:

Posting Komentar