Rabu, 01 April 2020

Perempuan berpayung rindu


Masih kudengar tiap detik denting tetesnya
Masih kurasa dingin hembusnya menyergap
Masihkah kau dengar gemuruh parau suaraku dibawah payung rindu ini?
Hai Neptunus….
Tidakkah lautmu menjadi keruh, karena riak dibawah kakiku?

Aku selalu mendengar syair itu ketika hujan turun. Senandung perempuan bersuara sendu yang tersembunyi kerinduan teramat sangat di dalamnya, nadanya melengking tertahan seolah biji salak tersangkut di tenggorokannya, lantunan iramanya beraturan mengikuti derai hujan – kadang ia kencang disertai hembusan angin dan daun yang berterbangan disana-sini, terkadang mendayu-dayu lesu lunglai letih tak terperi yang diikuti erangan burung hantu bermata kelam dan cemani yang terseok-seok mencari butir jagung. Aku selalu mendengar perempuan itu bernyayi ketika hujan turun, seperti hari ini, ketika hujan pertama kali menginjakkan kakinya di bumi ini, di negeri yang dikenal dengan sebutan gemah ripah loh jinawi ini lagi-lagi aku mendengar senandung itu. Senandung perempuan itu menari-nari ditelingaku, kemudian masuk meresap ke dalam kalbuku – membuat gerakan tarian “Odette” melompat, meliuk, melambung, mengguling, menelungkup didalam relungnya menimbulkan getaran yang aneh.
            Orang-orang di seluruh negeri ini selalu ramai setiap kali turun hujan, bukan karena senang atau bahagia karena hujan akhirnya turun setelah musim panas yang panjang, tapi lebih karena nyanyian legendaris yang selalu terdengar setiap turun hujan. Perempuan dengan nyanyian sendu itu berhasil membangunkan semua mata, melebarkan semua telinga, memanjangkan semua kaki, dan menggetarkan setiap jantung yang berdetak,  sosoknya bahkan lebih membuat siapa saja penasaran daripada gossip artis terlaris abad ini, lebih tenar daripada artis papan atas sekalipun.  Banyak orang mencari tahu siapa sosok perempuan itu, laki-laki, perempuan, remaja sampai orang tua, pemuka agama, politikus, dokter, insinyur, tukang batu, pedagang kaki lima, para pencari berita baik itu dari surat kabar atau televisi berjuang sekuat tenaga mencari keberadaan perempuan penyenandung lagu dengan suara merdu itu.
Mereka berbondong-bondong menunggunya di tebing menjorok tepi pantai, karena ada seseorang yang bersaksi pernah melihat perempuan yang memakai payung sedang bernyanyi ditempat itu, jadi seseorang itu berkeyakinan dialah sumber dari suara yang mendayu-dayu itu. Ketika yang lain bertanya “apakah melihat bagaimana raut wajahnya, cantik ataukah rupawan?” seseorang itu menjawab “perempuan itu benyanyi menghadap kearah laut, aku berdiri 9 meter dibelakangnya, yang kulihat dia memakai baju panjang berlengan panjang berwarna hitam, payungnya juga hitam, kepalanya ditutup semacam kain panjang yang melebihi panjang tangannya tergerai tertiup angin, meskipun begitu dia terlihat begitu bercahaya dan begitu cantik tapi juga begitu muram, rasanya aku telah jatuh cinta padanya, dan ingin sekali memeluknya”. Sedangkan seseorang yang lain memberi kesaksian “malam itu ketika aku menjala ikan, aku melihat seseorang berdiri ditepi tebing yang menjorok itu, dia diatas sana, dari perawakannya aku sangat yakin dia seorang perempuan, bajunya panjang tergerai dibawa angin, dia bernyanyi dengan sangat merdu, suaranya terdengar sampai ketempatku menjala ikan, aku tidak bisa melihat jelas rupanya karena hari gelap, tapi perasaanku mengatakan bahwa dia sangat cantik, sampai-sampai jantungku berdetak sangat cepat, dan tiba-tiba hujan turun, aku menepikan perahuku ke tebing untuk mengejarnya tapi kemudian dia berjalan menjauh, dan menghilang”.
Dan aku adalah penduduk negeri ini, yang sama seperti penduduk yang lain, aku berjalan mengikuti kakiku untuk menemukannya. Rupanya kakiku punya rute sendiri, ia berjalan kearah selatan menyusuri padang rumput dengan pepohonan disana-sini yang hijau subur dan segar seolah bersyukur akan hujan, ada banyak ternak yang menjadi penghuni padang rumput itu sapi, biri-biri, kerbau, kuda, dan gembalanya duduk dibawah pohon memainkan seruling Krisna. Kemudian ia berbelok kearah barat menuju danau ungu, danau ini cantik, warna ungunya ternyata terpantul dari Aurora menakjubkan diatasnya, berupa cahaya yang menyala-nyala pada lapisan langitnya. Ada yang bilang tempat ini dulu kering kerontang, seorang laki-laki nelayan paruh baya mencabut pohon plum yang menjalar disekitarnya yang telah layu dan hampir mati, dia melukis menggunakan buah plum pada dinding-dinding tanah yang telah dikeruknya menjadi ceruk, anak perempuannya sangat menyukai buah plum, ketika lukisannya hampir selesai turunlah hujan dan seketika air yang memenuhi ceruk itu merubahnya menjadi danau dan menenggelamkan laki-laki paruh baya itu, warna ungu danau ini berasal dari buah plum dan airnya yang meluber merupakan genangan air mata anak perempuan yang meratapi ayah yang dicintainya. Aku memetik beberapa tangkai dahan plum yang berbuah yang menjalar disekitar danau ungu, dan tiba-tiba saja aku sudah berada di tepi pantai.
Disini. Kenapa disini kakiku berhenti? Ditempat dimana aku hanya bisa melihat air sejauh mata memandang, hanya air….. tapi kenapa perasaanku jadi muram? Pantai ini….. tidak ada pohon kelapa yang romantis disini, tidak ada kawanan burung camar yg biasanya terbang rendah, tidak ada pasir putih yang seperti merica, tidak ada rona merah. Seperti ada burung gagak yang bernyanyi didasar hatiku, tiba-tiba saja langit menjadi muram, matahari yang lelah terhalau mendung setengahnya, angin dingin berbisik bahwa akan terjadi sesuatu, leherku kaku lidahku kelu, tiba-tiba saja hujan turun. Kudengar lagi nyanyian perempuan bersuara sendu yang tersembunyi kerinduan teramat sangat di dalamnya, nadanya melengking tertahan seolah biji salak tersangkut di tenggorokannya, lantunan iramanya beraturan mengikuti derai gelombang hujan.  Aku membalikkan badanku melangkah meninggalkan pantai yang menjadi suram, tiga meter dibelakangku menunggu seorang perempuan memakai gaun lengan panjang berwarna putih, rambutnya tertutup kain yang lebih panjang dari tangannya berwarna putih, menutup tubuhnya dengan payung juga berwarna putih, putih dan bukan hitam seperti yang disaksikan mereka. Dan ya, dia sangat cantik, tubuhnya bercahaya dan dia tersenyum padaku. Tangan kirinya terjulur seperti meminta sesuatu dan matanya seolah berkata “berikan padaku”,  lalu kuberikan saja tangkai plum dan buahnya yang kupetik di sekitar danau ungu, dia menerimanya dengan senyuman dan mata berbinar, matanya berkilau seperti berlian lalu kemudian berubah menjadi seperti genangan danau ungu, kemudian bibirnya bergerak-gerak membunyikan suara “Trimakasih ayah, aku mencintaimu…..”. Hatiku terasa seperti diiris-iris mendengar suaranya, seperti mendengar luka teramat dalam dan kesakitan panjang. Tapi dia tersenyum ketika berlalu meninggalkanku sambil bersenandung
Masih kudengar tiap detik denting tetesnya
Masih kurasa dingin hembusnya menyergap
Masihkah kau dengar gemuruh parau suaraku dibawah payung rindu ini?
Hai Neptunus….
Tidakkah lautmu menjadi keruh, karena riak dibawah kakiku?

                       




























Untuk laki-laki dengan tangan kasar, tangan yang menutup luka-lukaku. Ayah.....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar