Jam ini aku biasa menunggu bis itu disini, didepan Plaza Atrium Senin, lewat didepanku, membawa bidadari ku didalamnya. Aku bisa melihatnya, dia selalu duduk dikursi dekat jendela baris ke tiga dibelakang supir, membiarkan rambutnya tergerai pada bahunya berterbangan tertiup angin jendela, Hey cantik, aku suka melihat wajahmu, matamu yang lebar, senyummu yang indah menawan. Aku sangat suka dan bahagia menikmatinya, seperti memandang danau dengan pepohonan disekitarnya, Ikan-ikan yang sesekali melompat keluar danau seperti memberi salam padaku, damai, itulah dirimu. Udara Jakarta yang sejak tadi panas penuh asap dan berdebu berubah menjadi sejuk dan segar, serasa paru-paruku menjadi baru kembali seperti baru dicuci, tubuhku terasa ringan, kakiku seperti tidak menapak dibumi-melayang... Ah, tapi aku tidak tahu siapa namamu... Aku bahkan tidak mengenalmu. Aku hanya mengagumimu dari jauh, setiap hari, ketika kau lewat disini pukul tujuh lebih tiga puluh lima menit, di dalam bis itu.
Seringkali keadaan mencoba menghalangiku untuk sekedar melihat senyumanmu. Asap knalpot yang menghitam yang tiba-tiba menyalipku atau memang berada didepanku, memaksaku untuk menutup mataku, hidungku, mulutku, bahkan seluruh wajahku. Dan sering pula aku mengutuki diriku kenapa tidak kupakai masker saja tadi, bersamaan keluarlah kalimat ajaib dari mulutku "...sial, kampret, babi..." dan teman-temannya...hahahahahahahahaha... Tapi itu semua tidak bisa menghalangiku untuk mencurimu, cantikmu lebih mampu menarik perhatianku, menarikku dan duniaku, kau mampu membunuh semua kampret-kampret dan babi-babi itu. Pasti banyak yang memberitahumu bahwa kau itu sangat cantik bahkan teramat cantik, tahukah kau? Jantungku seperti berhenti berdetak, ketika kau beberapa saat menoleh ke luar jendela bis dan tersenyum, hey bahkan tertawa dan menunjukkan deret gigimu yg lucu seperti kelinci. Entah apa yang ada dipikiranmu saat itu, dan apa yang kau lihat sehingga membuatmu tertawa.
Hey nona, apa kau tidak punya teman? Atau mungkin kau tipe orang yang tidak mudah bergaul, tidak suka berbasa-basi dengan orang baru? Aku memperhatikanmu kau selalu duduk sendiri, kau tak pernah ngobrol dengan orang lain, dua hal yang selalu ada pada dirimu: hand set dan buku. Kau selalu mendengarkan musik? musik apa yang kau dengarkan sampai kadang kepalamu manggut-manggut dan berayun-ayun, dan buku itu, sebegitu menariknya kah? sampai kau selalu memandanginya? ah siapa juga yang tahu bahwa kau membacanya bibirmu bahkan tidak komat-kamit tanda kau membacanya. Whatever you are. Kau adalah mood-booster untukku setiap hari, ketika hariku lelah aku hanya akan mengingat senyum menawanmu, mata jelitamu, dan dirimu yang cantik, maka dalam sekejap gairahku akan kembali lagi. Kau lah alasanku untuk bangun pagi, rela berlomba dengan ayam jantan mengejar waktu agar aku bisa melihatmu disini, walau hanya beberapa saat saja.
Kadang aku berharap, tiba-tiba bis yang kau naiki bannya meletus, kemudian bis oleng tak terkendali, sang supir Malang menabrakkan bis ke jalur Pedestrian, dan terjadilah kecelakaan kecil (saja), semua penumpang terpaksa turun termasuk kau. Naah, disitulah saya merasa bahagia hahahaha… datang kepadamu sebagai pahlawan yang menyelamatmu, no no no itu terlalu drama. 30 detik, hanya 30 detik aku bisa memandangmu, sebelum lampu merah berubah hijau, sebelum bis yang kau naiki melaju dengan mungkin hanya kecepatan 40 km/jam karena harus berebut jalan dengan kendaraan lain. 30 detik itu mampu membawa hatiku bersamamu, membawa jiwaku hanya bersimpuh diujung bayangmu. Sampai bertemu besok Kembali nona… pukul tujuh lewat tiga puluh lima menit, tetaplah di tempatmu, di kursi sebelah jendela baris ke tiga dibelakang supir.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar