Sebelum Hatiku Membeku
Sebuah ungkapan jiwa.....bahasa hati, bahasa yang tak pernah terucapkan
oleh bibir beku, dan mata sendu.....ketika hanya ada pekat dalam hati..... tanpa
anggur merah, tanpa dentum mendayu, tanpa gempita laya, tanpa apa-apa. Bahkan cupid pun seolah enggan mengarahkan
busur cintanya, dia berlalu tanpa ragu perlahan dan sayu.
Bintang malam
mengeluarkan suaranya:
“Apakah kau lupa bahwa pesonaku adalah
kelemahanku? cantikku adalah lukaku
Apakah kau lupa bahwa disetiap urat nadi itu mengalir darah, dan jika tertusuk jarum akan mengalir keluar darahnya? Apakah kau lupa bahwa semua warna jika dilebur menjadi satu akan menjadi warna hitam? Apakah kau melupakan itu?..... Bayangan Hitam! Aku pernah menulis ini..... 1" cafe ini kosong, tak berpenghuni, " dan sepertinya cafe itu akan dibiarkan kosong saja tak berpenghuni. Akhirnya..... kau menyuruhku kembali pada senja dan menari bersamanya..... menenggelamkanku di dasar laut hingga kedalaman yang tak terhingga....Tapi jangan kawatir, aku tidak akan berteriak..... aku akan diam saja..... tidak akan ada yang tau bahwa senja itu telah tertusuk ilalang.....
kau tau? diamku adalah tangisan terkerasku”
Apakah kau lupa bahwa disetiap urat nadi itu mengalir darah, dan jika tertusuk jarum akan mengalir keluar darahnya? Apakah kau lupa bahwa semua warna jika dilebur menjadi satu akan menjadi warna hitam? Apakah kau melupakan itu?..... Bayangan Hitam! Aku pernah menulis ini..... 1" cafe ini kosong, tak berpenghuni, " dan sepertinya cafe itu akan dibiarkan kosong saja tak berpenghuni. Akhirnya..... kau menyuruhku kembali pada senja dan menari bersamanya..... menenggelamkanku di dasar laut hingga kedalaman yang tak terhingga....Tapi jangan kawatir, aku tidak akan berteriak..... aku akan diam saja..... tidak akan ada yang tau bahwa senja itu telah tertusuk ilalang.....
kau tau? diamku adalah tangisan terkerasku”
Bayangan hitam
tertunduk dalam desahnya:
" Jangan
pernah kau biarkan rasa sakit, letih, gundah dan sedih itu menderamu lalu
membuatmu lumpuh karenanya...
Karena...Pada sejatinya kau tidaklah serapuh itu...
Senja itu takkan pernah pudar, rona merahnya akan tetap merekah sebagai penghias semesta dikala petang yang akan hadir dan membuka tangan-tangan sang malam, sebagai penawar bagi hati yang terluka, penyejuk bagi mata yang memandang. Mewakili suasana jiwa yang merindukan seribu tanya, merindukan seribu jawaban dan merindukan seribu bahasa yang tak pernah terucap, namun dapat dimengerti bahasa kiasnya...
Kau begitu kuat, kau begitu hebat, kau tak serapuh itu dan kau tak mudah terjatuh...
Apa yang kau genggam dengan tanganmu, sama seperti apa yang pernah kau lepaskan karenanya...
Tinggalkanlah sejenak lalumu dan berilah sedikit waktu untuk mengokohkan semuanya, membangkitkan semuanya dan meyakinkan semuanya... "
Karena...Pada sejatinya kau tidaklah serapuh itu...
Senja itu takkan pernah pudar, rona merahnya akan tetap merekah sebagai penghias semesta dikala petang yang akan hadir dan membuka tangan-tangan sang malam, sebagai penawar bagi hati yang terluka, penyejuk bagi mata yang memandang. Mewakili suasana jiwa yang merindukan seribu tanya, merindukan seribu jawaban dan merindukan seribu bahasa yang tak pernah terucap, namun dapat dimengerti bahasa kiasnya...
Kau begitu kuat, kau begitu hebat, kau tak serapuh itu dan kau tak mudah terjatuh...
Apa yang kau genggam dengan tanganmu, sama seperti apa yang pernah kau lepaskan karenanya...
Tinggalkanlah sejenak lalumu dan berilah sedikit waktu untuk mengokohkan semuanya, membangkitkan semuanya dan meyakinkan semuanya... "
Bayangkan,
bagaimana dua sosok yang bertemu, tapi hati mereka tidak pernah bisa bertemu. Aku
tahu betul apa itu CINTA, ia mendengar apa yang tidak dikatakan, mengerti apa
yang tidak dijelaskan, sebab CINTA tidak datang dari bibir, lidah, atau
pikiran, melainkan...HATI. Lalu bagaimana dengan hatiku yang lelah, begitu lama
aku menanti, begitu lama aku mengalah, begitu lama aku berhenti-diam tak
memperdulikan kanan kiri depan belakang atas bawah, aku takut “ia” akan membeku
karena terlalu lama tak difungsikan.
Jadi tolonglah.....dengan segenap jiwa aku
memohon kepadaMu ..... selamatkanlah hatiku, angkatlah hatiku, peluklah hatiku,
hangatkanlah hatiku..... Sebelum Hatiku Membeku.....
Rujukan
1. Kafe yang
kosong ; Najuib Mahfudz











