Mari Kemari, datang... Datanglah Mari Kemari Datanglah
Siapa Pun Dirimu. Pengelana, Peragu, dan Pecinta
Mari... Kemari Datanglah Tak Penting Kau Percaya atau
Tidak… Mari, kemari … Datanglah Kami Bukanlah Caravan
Yang Patah Hati... Atau Pintu-Pin tu dari Keputus- asaan,
Mari Kemari Datanglah... Meski Kau Telah Jatuh Ribuan
Kali, Meski Kau Telah Patahkan Ribuan Janji, Mari
Kemari… Datang. . . Datanglah Sekali Lagi…
( Mawlana Jalaludin Rumi )
Kata-katanya tak terkatakan, inginnya tak
terungkapkan, hanya saja… aku bisa memahami bahasa jiwanya. Karena cinta, ia mendengar apa yang tidak dikatakan, mengerti apa yang tidak
dijelaskan, sebab CINTA tidak datang dari bibir, lidah, atau pikiran,
melainkan...dari HATI. Entah siapa yang pernah mengatakan itu padaku, sudah
lama sekali rasanya. Dia pasti tahu
aku sedang melihatnya, dia pasti tahu aku sedang memahaminya, dia pasti tahu
aku merindukannya, dia pasti tahu sebagian nafasku adalah untuknya… dia pasti
tahu itu. Entah bagaimana caranya sebab aku sendiri tidak pernah menunjukkan
padanya dan tidak pernah mewartakan pada siapapun. Hingga waktu lelah dan
menjadi tua, sebab yang kutahu daratan yang aku pijak sekarang ini adalah lahan
yang semakin menua hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, dan
tahun demi tahun.
Tapi detik ini, aku melihat cakrawala yang
keemasan dengan gurat melengkung di angkasa yang bergelantung disana-sini menjadi
lukisan merah meronanya, denganperahu
layar di kejauhan entah berawak atau tidak, dan barisan kawanan entah burung
camar entah burung bangau terbang kesana – kemari seperti tanpa tujuan dan
hanya berputar – putar saja disana1),
mungkin juga siluet sejoli yang sedang berasyik masyuk dibawah lambaian pohon
kelapa, terlihat di kejauhan, sebagai pelengkap lukisan merah merona itu. Dan
detik ini aku teringat padanya – Rona Merah Senja, kemanakah kau sembunyikan
dirimu?, kemanakah perginya senyum pipit itu?, kemanakah hilangnya tatap sendu
itu, kemanakah lenyapnya suara merdu itu?. Kemanakah kau membawa setengah dari
nafasku, sebagian jiwaku, sepotong hatiku…seperti sungai yang berarak – arak
mengaliri tiap senti pembuluh darahku, seperti itulah mataku meminta
melihatmu…seperti kepingan gelas yang bertalu – mendayu ketika tersentuh
partikel ubin marmer, seperti itulah suara jiwaku memanggilmu… seperti bayi –
bayi penyu yang dilepas kepantai dan dengan kaki mungilnya bergegas mencium
bibir pantai basah dengan mesra, seperti itulah rasaku meminta… dan entah
seperti ilustrasi apa lagi akan ku lukiskan.
Rupanya hujan akan turun sore ini, cakrawala
yang keemasan dengan gurat melengkung di angkasa yang bergelantung disana-sini
yang menjadi lukisan merah merona berganyi dengan awan abu – abu dan semakin
menua kemudian berubah gelap, perahu layar dari kejauhan tak terlihat lagi,
barisan kawanan yang tak kutahu entah burung camar entah burung bangau yang
tadinya terbang kesana – kemari seperti tanpa tujuan dan hanya berputar – putar
saja disana tiba – tiba lenyap seperti ditelan pekatnya langit itu, sejoli yang
sedang berasyik masyuk dibawah lambaian pohon kelapa itu pun seolah digulung
air laut yang mulai pasang. Hujan turun sore ini, basahnya tidak biasa,
basahnya seperti meresap hingga ke lapisan ke tujuh tulang sumsumku, marasuk
hingga ke kedalaman jiwaku. Biasanya ketika hujan turun seperti ini, aku akan
menangis diantaranya hingga membuat mataku rabun karenanya, dan tidak akan ada
yang tahu itu.
Rujukan :
1). “hanya berputar – putar saja disana”
sebagai ilistrasi senja, Dari Sepotong senja untuk Pacarku : Seno Gumira
Ajidarma
Sebuah ungkapan jiwa.....bahasa hati, bahasa yang tak pernah terucapkan
oleh bibir beku, dan mata sendu.....ketika hanya ada pekat dalam hati..... tanpa
anggur merah, tanpa dentum mendayu, tanpa gempita laya, tanpa apa-apa. Bahkan cupid pun seolah enggan mengarahkan
busur cintanya, dia berlalu tanpa ragu perlahan dan sayu.
Bintang malam
mengeluarkan suaranya:
“Apakah kau lupa bahwa pesonaku adalah
kelemahanku? cantikku adalah lukaku Apakah kau lupa bahwa disetiap urat nadi itu mengalir
darah, dan jika tertusuk jarum akan mengalir keluar darahnya? Apakah kau lupa bahwa semua warna jika dilebur
menjadi satu akan menjadi warna hitam? Apakah kau melupakan itu?..... Bayangan
Hitam! Aku pernah menulis ini..... 1" cafe ini kosong, tak
berpenghuni, " dan sepertinya cafe itu akan dibiarkan kosong saja tak
berpenghuni. Akhirnya..... kau menyuruhku kembali pada senja dan menari
bersamanya..... menenggelamkanku di dasar laut hingga kedalaman yang tak
terhingga....Tapi jangan kawatir, aku tidak akan berteriak..... aku akan diam
saja..... tidak akan ada yang tau bahwa senja itu telah tertusuk ilalang..... kau tau? diamku adalah tangisan terkerasku”
Bayangan hitam
tertunduk dalam desahnya:
" Jangan
pernah kau biarkan rasa sakit, letih, gundah dan sedih itu menderamu lalu
membuatmu lumpuh karenanya... Karena...Pada sejatinya kau tidaklah serapuh itu... Senja itu takkan pernah pudar, rona merahnya akan tetap
merekah sebagai penghias semesta dikala
petang yang akan hadir dan membuka tangan-tangan sang malam, sebagai penawar
bagi hati yang terluka, penyejuk bagi mata yang memandang. Mewakili suasana
jiwa yang merindukan seribu tanya, merindukan seribu jawaban dan merindukan
seribu bahasa yang tak pernah terucap, namun dapat dimengerti bahasa kiasnya... Kau begitu kuat, kau begitu hebat, kau tak serapuh
itu dan kau tak mudah terjatuh... Apa yang kau genggam dengan tanganmu, sama seperti
apa yang pernah kau lepaskan karenanya... Tinggalkanlah sejenak lalumu dan berilah sedikit
waktu untuk mengokohkan semuanya, membangkitkan semuanya dan meyakinkan
semuanya... "
Bayangkan,
bagaimana dua sosok yang bertemu, tapi hati mereka tidak pernah bisa bertemu. Aku
tahu betul apa itu CINTA, ia mendengar apa yang tidak dikatakan, mengerti apa
yang tidak dijelaskan, sebab CINTA tidak datang dari bibir, lidah, atau
pikiran, melainkan...HATI. Lalu bagaimana dengan hatiku yang lelah, begitu lama
aku menanti, begitu lama aku mengalah, begitu lama aku berhenti-diam tak
memperdulikan kanan kiri depan belakang atas bawah, aku takut “ia” akan membeku
karena terlalu lama tak difungsikan.
Jadi tolonglah.....dengan segenap jiwa aku
memohon kepadaMu ..... selamatkanlah hatiku, angkatlah hatiku, peluklah hatiku,
hangatkanlah hatiku..... Sebelum Hatiku Membeku.....
Bulan ini adalah bulan baik (menurut hitungan jawa) bagi pasangan yang akan
menikah, Menurut primbon jawa bulan ini termasuk / bernama bulan “besar”. 1).
Wataknnya bulan untuk : perkawinan: baik, kaya, mendapatkan kebahagiaan.
Mendirikan apapun : baik, banyak rejeki dan mendapatkan “ supangate” Nabi
Muhammad SAW. Menanam: Baik. Pindah rumah: baik, disayang sesamanya. 2). Tempat
Naga: -Bulan: Barat, -Tahun : Utara, Jatingarang: Utara. Jangan menuju ketempat
Naga dan Jatingarang. Itu menurut primbon jawa, kalo aku sendiri g’ ngerti sama
sekali hal-hal seperti itu, tepatnya sebelum menikah-karena ketika akan menikah
ada pihak yang membicarakan hal itu dan pernikahanku berdasarkan hal yang
sangat “tidak penting” (come on, we are mosleem ...).
Sebenarnya pada kalender islam bulan besar (jawa) sama dengan/termasuk
bulan Dzulhijjah, keistimewaan dari bulan ini (menurut kalender islam)
diantaranya adalah The great of Hajj yang lebih dikenal dengan ibadah haji
(itupun dimulai dari bulan sebelummya dan ditutup pada Idl adha pada bulan
dzulhijjah). *Sebab istimewanya (menurut Ibnu Hajar dlm kitab Fathul Baari)
terutama pada 10 hari pertama bulan dzulhijjah karena pada hari tersebut
merupakan berkumpulnya ibadah-ibadah utama yaitu sholat, shaum, shodaqoh, dan
haji, dan tidak ada selainnya waktu seperti itu.
Mungkin karena hal tersebut maka orang-orang jawa mengutamakan bulan
desember untuk melaksanakan hajatnya terutama perkawinan, karena menurut
dongeng sebelum tidur, penyebaran agama islam di jawa tidak meninggalkan budaya
dan adat jawa itu sendiri yaitu unsur kejawen yang di bawa oleh agama
sebelumnya yaitu hindu-budha, jadi adat dan budaya bawaan itu sampai sekarang
masih melekat, salah satunya perhitungan dan pencocokan nama pada pasangan
menjelang pernikahan (wadooohh...kalo g cocok g’ jadi nikah dong).
Dan bulan ini adalah bulan Desember, sudah bisa di pastikan bahwa undangan
pernikahan akan bejibun banyaknya, g’ tanggung–tanggung aku bisa menerima
sampai 10 undangan di bulan ini dari teman kantorku, teman suami, tetangga dan
keluarga. Dari keluargaku sendiri aja ada 2 orang yang menikah, adik
sepupu-anak dari tanteku pada tanggal 1 Desember dan adik kandung suamiku pada
tanggal 4 Desember. Ada 2 hal menarik yang terekam di kepalaku pada pesta
pernikahan mereka berdua.
Pertama. Pernikahan adik sepupuku, keluargaku harus menempuh jarak -+ 200
km untuk sampai ketempatnya tinggal, rumah si mbah (kakek dalam bahasa jawa),
pertama kali yang aku lihat ketika tiba disana adalah suasana rumah tampak
lengang tidak ada hiasan apapun atau suara musik yang mencerminkan akan adanya
hajat di rumah itu. Yang tampak ramai hanya dapur, dipenuhi aneka masakan,
tetap masakan has desa sambal goreng ati, bihun goreng, kering tempe, ayam
bumbu lodo, dan aku lihat adik sepupuku sedang duduk di dingklek kayu
sendiri, mengiris kentang untuk campuran sambal goreng ati katanya (whatt!! She
gonna be married... how come!!). Aku dan ibu kaget banget, besuk dia akan jadi
pengantin harusnya dia perawatan prawedding luluran kek facial kek atau apalah
yang biasa dilakukan perempuan sebelum menikah, bukannya duduk jongkok di dapur
ngupas kentang dan berkotor-kotor begini. Kata si mbah dia melakukan hampir
semua sendiri, belanja, memasak, beli minyak, mengurus ibunya (oh my
goodness... i can’t stand!), hampir aku menangis melihatnya dan keadaan ini,
ibunya cuma bisa tidur karena ketidakmampuannya melawan kanker, si mbah sudah
tua g’ mungkin melakukan pekerjaan berat, dan keuangan yang sangat minim
membuatnya g’ mungkin memakai jasa wedding organiser, welly nelly kami
keluarganya yg membantu walapun jauh dan sibuk kami sangat megusahakan datang.
“ ora enek apa-apa, gur ngijabne pokoke syah, bar ngono walimahan,
undangane gur wong 20 tangga dewe, teka keluarga lanange kira-kira mung 20,
acarane sesuk bengi” begitu kata si mbah bercerita ketika ibu bertanya tentang
jalan acaranya
Tidak ada pesta apapun undangan cuma 50 orang tetangga dekat dan keluarga
saja, setelah ijab qobul, walimah, dan selesai, dengan berbagai pertimbangan
acara di laksanakan malam hari ba’dha magrib.
Setan telah menguasai diriku ketika keesokan harinya salah satu saudara
menyuruh dia membeli kantong plastik, gula, dan kardus
“ Heh! Bocah iki arepe dadi manten. Ora usah ngongkon-ngongkon! Budal dewe
kono!!”
Kurang beberapa jam dia jadi pengantin harusnya dia mempersiapkan dirinya,
aku heran orang-orang ini ngerti keadaan g’ sih seenaknya aja, hari biasa boleh
lah nyuruh-nyuruh tapi ini hari istimewanya please ... give her a chance.
Sekali lagi hampir aku meloncat ketika adik sepupuku yang lain memberitahuku belum
ada perias pengantinnya, Astaghfirullah ... pernikahan apa ini!, “Ya udah kamu
cari perias di daerah sini nanti mbak pit yang bayar, bilang kita cuma pake
jasa riasnya aja, baju udah mbak bawain tuh kebaya putih, trus suruh dina coba bajunya
pas g?, kalo kedodoran kan masih ada waktu ngecilin, habis itu jangan balik ke
dapur lagi diem aja di dalem, ngapain gitu nonton tivi atau apa”. Persis orang
tua aku ngomel, memang aku tertua di antara yang lain (aku cucu tertua), dan
herannya g ada yang berani membantah satupun kalimatku termasuk ibu.
Begitulah sedikit gambaran persiapan Mantenan
adik sepupuku yang penuh keharuan. Malam harinya keluarlah calon pengantin
dari kamarnya dina tampak cantik walau dengan riasan dan baju sederhana- kebaya
putih gading. Alhamdulillah ... segala puji bagi Allah yang Maha Mengatur
Segala acara diberi kemudahan dan kelancaran. Setelah pengantin dinyatakan syah
sebagai suami istri, setelah mas kawin uang tunai (yang hanya) Rp. 500.000
diserahkan, dan dibacakanlah doa “Barokallahu laka
wa baaroka ?alaika wa jama?a bainakumaa fii khoir” tanpa sadar aq meneteskan
airmata dan berdoa dalam hati (semoga bahagia din, always... all the best for
you...).
Kemudian yang kedua.
Pernikahan adik kandung suamiku atau adik iparku, yang jauh dari kata
sederhana. Perias dan dekorasi pengantin, catering, dan foto & video
editing dari luar kota, tempat yang bagus menurut dia. Foto prewedding,
perawatan pra nikah (dari facial sampai spa), prosesi acara menggunakan adat
jawa (walau setengah-setengan), dari acara siraman, midodareni dimalam harinya.
Dan keesokan harinya acara akad nikah yang digelar di tenda halaman rumah yg di
tata sangat cantik, dengan busana yang mewah (menurut ukuranku), ketika
iring-iringan mempelai laki-laki tiba dengan bawaan seserahan yang tidak
sedikit, danmas kawin seperangkat alat
sholat dan periasan emas 33 gram, itu cukup membuatku berdecak. Itu baru akad
nikah-masih ada resepsi dimalam harinya yang digelar di gedung serbaguna dengan
undangan 2 ribu orang, aku sudah membayangkan betapa WOW pesta nanti malam. Dan
benar saja ketika sore hari aku dan suami tiba digedung untuk dirias (semua
keluarga dirias dan memakai seragam) sdh ada beberapa pasang orang yg antri
untuk didandani, ada yang sebagai terima tamu, penjaga buku tamu, menjaga kotak
uang, memberikan kartu souvenir, dan memberikan souvenir. Ribet banget sih! Setelah
semua ready di tempat masing-masing kelihatanlah mewahnya acara ini, warna
merah yang menjadi nuansa semakin menambah kesan mewah, berapa puluh juta
mereka merogoh saku atau mungkin mencapai ratus juta...Ups! hampir lupa, ada
prosesi temu manten,
sungkeman, panggih besan, kemudian di akhir acara setelah
tamu pulang semua ada prosesi
kirap manten (pengantin turun dari kursi dekorasi, berjalan
menuju meja makan yg sudah dihias sedemikian rupa dan menyantap makanan yang
sudah disediakan). Masyaallah... ada apa denganku? Iri atau apa?... dari awal
hingga akhir acara tidak satupun kalimat doa terucap... mungkin karena tak
kulihat adanya sesuatu yang bernama “sakral” dan hanya terlihat mewah saja.
Astaghfirullahaladim...
Dia bukan siapa-siapa dan
tidak memiliki apa-apa, dia hanya musafir buta dengan cinta sebagai
satu-satunya barang bawaan. Dia menjelajah ke negeri timur dan barat, mencari
sebentuk tubuh yang mengerti bahsa jiwanya-mencari tempat untuk meletakkan
kepalanya. Dia memeluk banyak tubuh dan mencium banyak bibir, tanpa disadari
bahwa pisau-pisau y ang terselip diantara sayap-sayapnya menyakiti dan cemeti
yang tersembunyi dibalik lidahnya melukai. Dia berpikir, ternyata tidak semua
kebaikan tersampaikan dan diterima dengan baik pula.
Dia adalah icon sebuah
perubahan:
Dari seekor ulat yang
menjijikkan dan dibenci semua orang, seekor perusak yang harus dimusnahkan dan
tak diterima dimanapun dia berada.
Kemudian dia memaksa
dirinya, menuntut hidupnya untuk berkepompong beberapa lama dalam kesakitan
yang berkepanjangan dan regangan nyawa untuk sebuah perubahan.
Dan akhirnya memekarkan
sayap-sayap cantiknya, menebarkan kecantikan dimana-mana-pun dia harus terbang
kesana-kemari menghindari banyak orang yang memburunya untuk diawetkansebagai
hiasaan.
Bahwasanya air mata tidak
memilih tempat dimana ia akan jatuh dan tidak memilih waktu kapan ia turun. Dia
tidak pernah mewartakan kapan dia terluka dan berduka, ketika itu terjadi dia
hanya akan berlari menemui senja dan meleburkan diri bersamanya, atau
membenamkan diri di laut, atau menari bersama bintang.
Seperti bintang yang
menghias malam dengan kilaunya, dia berharap bisa berkilau dikegelapan, menjadi
tinta diatas kertas putih.
Dan tentang cinta,
ternyata hanya Tuhanlah yang pantas. Hanya Tuhan dan Rasul-Nya yang pantas
mendapat cintanya.
Jika kau rasakan semilir
angin, ingatlah dia yang menginginkan sentuhannya sesejuk angin semilir,
Jika kau temukan anggrek
tanah, ingatlah dia yang menginginkan hidupnya seindah anggrek tanah,
Jika kau lihat kupu,
ingatlah dia yang ingin dirinya secantik kupu-kupu,
Jika kau pandang senja,
ingatlah dia yang slalu menginginkan tenggelam bersamanya dilaut,
Jika kau menengadah
bintang, ingatlah dia yang ingin kehadirannya seterang bintang sekalipun
dimalam pekat,
Jika kau muak dengan
hitam, ingatlah dia yang slalu menginginkan menjadi putih diatas hitam.
She loves, like there is
no tomorrow...
* di dedikasi untuk ukhti anggun, seorang perempuan yg berjuang untuk cinta...
Maka nikmat ALLAH yang mana yang kau dustakan?(PS Ar-Rahman 13).
Masyallah, seperti di tampar ketika membaca ayat itu, sungguh jika aku menghitung nikmat-NYA tak akan sanggup, tak ada satupun nikmat-NYA yang bisa di tukar dengan apapun. Malu rasanya ketika akan menghitung apa yang telah "melekat" pada diri ini, sangat tak tau diri...
Cukupkan diri dengan Alhamdulillah... pada setiap apa yang diterima, maka ALLAH akan semakin menambah nikmat-NYA
Arslan akan menjadi raja disini, raja kecil di hati, sang pembawa nikmat, dan penyebar nikmat...
Nikmat yang tak terhingga... memiliki amanah bernama Arslan "Sang Raja"
Kerana cinta duri menjadi mawar
kerana cinta cuka menjelma anggur segar
Kerana cinta keuntungan menjadi mahkota penawar
Kerana cinta kemalangan menjelma keberuntungan
Kerana cinta rumah penjara tampak bagaikan kedai mawar
Kerana cinta tompokan debu kelihatan seperti taman
Kerana cinta api yang berkobar-kobar
Jadi cahaya yang menyenangkan
Kerana cinta syaitan berubah menjadi bidadari
Kerana cinta batu yang keras
menjadi lembut bagaikan mentega
Kerana cinta duka menjadi riang gembira
Kerana cinta hantu berubah menjadi malaikat
Kerana cinta singa tak menakutkan seperti tikus
Kerana cinta sakit jadi sihat
Kerana cinta amarah berubah
menjadi keramah-ramahan
(Rumi : Kasidah Cinta)
06 Oktober 2011, 22:45 WIB.
Karena cinta, anakku, bunda melahirkanmu. Dengan cinta pula ayah dan bunda akan membesarkanmu. Selamat datang anakku. Arslan Zain Sirhanthara...hadapi dunia ini dengan cinta
Aku melewati lagi jalan ini, jalan bercabang banyak, yang mengharuskanku memilih satu di antaranya. Sebuah pilihan yang akhirnya menjadikanku seperti sekarang. Seorang pegawai biasa di suatu instansi yang juga seorang dosen di sebuah universitas swasta di kota kecil tempat aku tumbuh. Banyak yang terjadi di jalan ini, tapi tidak aku lupa sama sekali satu halpun, memoriku masih dengan jelas menggambarkan semuanya. Aku membuka sebuah amplop yang berisi kenangan 4 tahun silam, ketika aku merangkak lunglai menyusuri deret angka dalam tidak lebih dari dua kali tigapuluh hari. Tercengang otakku yang stagnan oleh sosok tegap dua lembar kalender mengisinya dengan tulisan dan hiasan, dan semuanya tinta biru.
Dengaan penuh kehati-hatian, kewaspadaan, dan nyaris seluruh kesadaran, kami membangun sebuah tempat berteduh yang sama sekali tidak permanen, meskipun indah dan nyaman tapi itu hanyalah sebuah tempat untuk berteduh tempat meletakkan lelah dan letih. Kenapa hanya tempat berteduh dan bukan rumah? Bukankah rumah adalah tempat berteduh yang sempurna (setidaknya sempurna untuk ukuran manusia), dan dapat menampung lebih banyak hal, tidak hanya lelah dan letih, tapi juga cinta, sayang, amarah, amanah, angan, cita-cita, suka, luka dan benda-benda lain yang membutuhkan tempat peletakan. Tapi hanya tempat berteduh yang kami bangun, mungkin karena bangunannya yang semi permanen bisa dirobah atau ditinggal setiap saat dan sekehendaknya.
Kenapa begitu? Bukankah kami menanti cukup lama dan melewati banyak hal untuk sampai ke tempat itu, apakah penantian yang lama itu akan ditelantarkan dan ditinggal setiap saat kala bosan? Kami benar-benar tidak tahu, aku hanyalah seorang gadis belia dan dia adalah pria muda, kami berdua masih sangat muda ketika itu. Tapi aku tetap menunggu hari esok untuk menjadikan tempat berteduh itu sebuah istana , aku tetap berdo’a untuk lelaki muda itu (dengan sisa keteguhan) “ tetaplah menjadi bintang dilangit ............”. Bayangan beku dan kaku berseliweran dalam setiap ronga jiwaku, yang wangi dan daya tariknya sempat tertinggal dan teramat kuat, hingga mematahkan setiap penyangga tubuhku. Dan setiap malam terucap salamku “ selamat malam wahai Ahki 1) ...... damai dalam tidurmu ....... ciptakan keindahan esok hari dengan jemarimu, seindah rona merah senja, dan perempuan ini ingin menjadi indah diatasnya walau tak sempurna .........”.Tapi begitu sempurna inginku kala itu, begitu sempurnanya hingga menyiksaku, mencekikku, menggorok leherku, dan menggigit lidahku, hampir-hampir membunuhku. Aku baru tersadar bahwa aku telah menghampiri lelaki yang keras hati, yang tiada nyenyak tidur walau sesekali, tak perlu mengingkari perang karena aku telah tertawan. Di tenggorokanku ada tulang dan di dalam diriku ada kedukaan.
Tulisan akan terbaca dengan sendirinya, jalan akan terlewati dengan sepenuhnya. Tak perlu merubah peta sekedar untuk mengulang kenangan, karena akan ada banyak pemandangan lain yang bisa diabadikan dalam bingkai atau diatas tembok. Yang terpenting adalah kesiapan memberi dan mendapatkan, menerima dan kehilangan, dan pertanggungjawaban atas keputusan. Dan hari ini, sejak 283 hari yang lalu aku telah berusaha mempertanggungjawabkan keputusanku, keputusan atas seorang laki-laki yang sangat pantas mendapatkan cintaku. Kami benar-benar berusaha membangun sebuah istana terbaik di dunia bukan sekedar tempat berteduh. Istana kami ada di sebuah tempat yang tak seorangpun tahu, tempat yang paling indah dihadapan Rabb kami yaitu HATI kami. Bukan hanya sebuah istana, dia bahkan telah menyiapkan Surga untukku diujung langkahnya dengan segala kemudahan. Laki-laki sempurna yang mencintaiku dengan sempurna, begitu sempurnanya hingga tak ada kata yang bisa menerangkannya, laki-laki terindah yang menberiku banyak keindahan, begitu indahnya hingga aku tak mampu melukiskannya. Hingga terucap salam dalam setiap malam dalam doa untuk menjadikanku perhiasan terindah di dunia disisi laki-laki mulia itu “ jangan berhenti mencintaiku wahai lelaki yang dicintai Allah ........, Suamiku
Kubungkus Surabaya dalam saputangan. Mungkin akan kucium bila dingin menyengat. Pukul satu dini hari nanti. Mungkin diantara mimpi, mungkin diantara hingar bingar, mungkin diantara kau dan aku.
catatan kaki:
1) Akhi : sebutan untuk laki-laki muslim