Senin, 13 Juni 2016

SENJA ABU-ABU

Kata-katanya tak terkatakan, inginnya tak terungkapkan, hanya saja… aku bisa memahami bahasa jiwanya. Karena cinta, ia mendengar apa yang tidak dikatakan, mengerti apa yang tidak dijelaskan, sebab CINTA tidak datang dari bibir, lidah, atau pikiran, melainkan...dari HATI. Entah siapa yang pernah mengatakan itu padaku, sudah lama sekali rasanya. Dia pasti tahu aku sedang melihatnya, dia pasti tahu aku sedang memahaminya, dia pasti tahu aku merindukannya, dia pasti tahu sebagian nafasku adalah untuknya… dia pasti tahu itu. Entah bagaimana caranya sebab aku sendiri tidak pernah menunjukkan padanya dan tidak pernah mewartakan pada siapapun. Hingga waktu lelah dan menjadi tua, sebab yang kutahu daratan yang aku pijak sekarang ini adalah lahan yang semakin menua hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, dan tahun demi tahun. 
Tapi detik ini, aku melihat cakrawala yang keemasan dengan gurat melengkung di angkasa yang bergelantung disana-sini menjadi lukisan merah meronanya, dengan  perahu layar di kejauhan entah berawak atau tidak, dan barisan kawanan entah burung camar entah burung bangau terbang kesana – kemari seperti tanpa tujuan dan hanya berputar – putar saja disana1), mungkin juga siluet sejoli yang sedang berasyik masyuk dibawah lambaian pohon kelapa, terlihat di kejauhan, sebagai pelengkap lukisan merah merona itu. Dan detik ini aku teringat padanya – Rona Merah Senja, kemanakah kau sembunyikan dirimu?, kemanakah perginya senyum pipit itu?, kemanakah hilangnya tatap sendu itu, kemanakah lenyapnya suara merdu itu?. Kemanakah kau membawa setengah dari nafasku, sebagian jiwaku, sepotong hatiku…seperti sungai yang berarak – arak mengaliri tiap senti pembuluh darahku, seperti itulah mataku meminta melihatmu…seperti kepingan gelas yang bertalu – mendayu ketika tersentuh partikel ubin marmer, seperti itulah suara jiwaku memanggilmu… seperti bayi – bayi penyu yang dilepas kepantai dan dengan kaki mungilnya bergegas mencium bibir pantai basah dengan mesra, seperti itulah rasaku meminta… dan entah seperti ilustrasi apa lagi akan ku lukiskan.
Rupanya hujan akan turun sore ini, cakrawala yang keemasan dengan gurat melengkung di angkasa yang bergelantung disana-sini yang menjadi lukisan merah merona berganyi dengan awan abu – abu dan semakin menua kemudian berubah gelap, perahu layar dari kejauhan tak terlihat lagi, barisan kawanan yang tak kutahu entah burung camar entah burung bangau yang tadinya terbang kesana – kemari seperti tanpa tujuan dan hanya berputar – putar saja disana tiba – tiba lenyap seperti ditelan pekatnya langit itu, sejoli yang sedang berasyik masyuk dibawah lambaian pohon kelapa itu pun seolah digulung air laut yang mulai pasang. Hujan turun sore ini, basahnya tidak biasa, basahnya seperti meresap hingga ke lapisan ke tujuh tulang sumsumku, marasuk hingga ke kedalaman jiwaku. Biasanya ketika hujan turun seperti ini, aku akan menangis diantaranya hingga membuat mataku rabun karenanya, dan tidak akan ada yang tahu itu.




Rujukan :
1). “hanya berputar – putar saja disana” sebagai ilistrasi senja, Dari Sepotong senja untuk Pacarku : Seno Gumira Ajidarma
- Ilustrasi gambar : Seribu Sajak – Cica Juew

Jumat, 10 April 2015

Sebelum Hatiku Membeku



Sebelum Hatiku Membeku






Sebuah ungkapan jiwa.....bahasa hati, bahasa yang tak pernah terucapkan oleh bibir beku, dan mata sendu.....ketika hanya ada pekat dalam hati..... tanpa anggur merah, tanpa dentum mendayu, tanpa gempita laya, tanpa apa-apa. Bahkan cupid pun seolah enggan mengarahkan busur cintanya, dia berlalu tanpa ragu perlahan dan sayu.  

Bintang malam mengeluarkan suaranya:
 “Apakah kau lupa bahwa pesonaku adalah kelemahanku? cantikku adalah lukaku
Apakah kau lupa bahwa disetiap urat nadi itu mengalir darah, dan jika tertusuk jarum akan mengalir keluar darahnya? Apakah kau lupa bahwa semua warna jika dilebur menjadi satu akan menjadi warna hitam? Apakah kau melupakan itu?..... Bayangan Hitam! Aku pernah menulis ini..... 1" cafe ini kosong, tak berpenghuni, " dan sepertinya cafe itu akan dibiarkan kosong saja tak berpenghuni. Akhirnya..... kau menyuruhku kembali pada senja dan menari bersamanya..... menenggelamkanku di dasar laut hingga kedalaman yang tak terhingga....Tapi jangan kawatir, aku tidak akan berteriak..... aku akan diam saja..... tidak akan ada yang tau bahwa senja itu telah tertusuk ilalang.....
kau tau? diamku adalah tangisan terkerasku”

Bayangan hitam tertunduk dalam desahnya:
" Jangan pernah kau biarkan rasa sakit, letih, gundah dan sedih itu menderamu lalu membuatmu lumpuh karenanya...
Karena...Pada sejatinya kau tidaklah serapuh itu...
Senja itu takkan pernah pudar, rona merahnya akan tetap merekah sebagai penghias semesta dikala petang yang akan hadir dan membuka tangan-tangan sang malam, sebagai penawar bagi hati yang terluka, penyejuk bagi mata yang memandang. Mewakili suasana jiwa yang merindukan seribu tanya, merindukan seribu jawaban dan merindukan seribu bahasa yang tak pernah terucap, namun dapat dimengerti bahasa kiasnya...
Kau begitu kuat, kau begitu hebat, kau tak serapuh itu dan kau tak mudah terjatuh...
Apa yang kau genggam dengan tanganmu, sama seperti apa yang pernah kau lepaskan karenanya...
Tinggalkanlah sejenak lalumu dan berilah sedikit waktu untuk mengokohkan semuanya, membangkitkan semuanya dan meyakinkan semuanya... "

Bayangkan, bagaimana dua sosok yang bertemu, tapi hati mereka tidak pernah bisa bertemu. Aku tahu betul apa itu CINTA, ia mendengar apa yang tidak dikatakan, mengerti apa yang tidak dijelaskan, sebab CINTA tidak datang dari bibir, lidah, atau pikiran, melainkan...HATI. Lalu bagaimana dengan hatiku yang lelah, begitu lama aku menanti, begitu lama aku mengalah, begitu lama aku berhenti-diam tak memperdulikan kanan kiri depan belakang atas bawah, aku takut “ia” akan membeku karena terlalu lama tak difungsikan.

Jadi tolonglah.....dengan segenap jiwa aku memohon kepadaMu ..... selamatkanlah hatiku, angkatlah hatiku, peluklah hatiku, hangatkanlah hatiku..... Sebelum Hatiku Membeku.....


Rujukan 
1. Kafe yang kosong ; Najuib Mahfudz



Rabu, 21 November 2012

BULAN BESAR



Bulan ini adalah bulan baik (menurut hitungan jawa) bagi pasangan yang akan menikah, Menurut primbon jawa bulan ini termasuk / bernama bulan “besar”. 1). Wataknnya bulan untuk : perkawinan: baik, kaya, mendapatkan kebahagiaan. Mendirikan apapun : baik, banyak rejeki dan mendapatkan “ supangate” Nabi Muhammad SAW. Menanam: Baik. Pindah rumah: baik, disayang sesamanya. 2). Tempat Naga: -Bulan: Barat, -Tahun : Utara, Jatingarang: Utara. Jangan menuju ketempat Naga dan Jatingarang. Itu menurut primbon jawa, kalo aku sendiri g’ ngerti sama sekali hal-hal seperti itu, tepatnya sebelum menikah-karena ketika akan menikah ada pihak yang membicarakan hal itu dan pernikahanku berdasarkan hal yang sangat “tidak penting” (come on, we are mosleem ...).

Sebenarnya pada kalender islam bulan besar (jawa) sama dengan/termasuk bulan Dzulhijjah, keistimewaan dari bulan ini (menurut kalender islam) diantaranya adalah The great of Hajj yang lebih dikenal dengan ibadah haji (itupun dimulai dari bulan sebelummya dan ditutup pada Idl adha pada bulan dzulhijjah). *Sebab istimewanya (menurut Ibnu Hajar dlm kitab Fathul Baari) terutama pada 10 hari pertama bulan dzulhijjah karena pada hari tersebut merupakan berkumpulnya ibadah-ibadah utama yaitu sholat, shaum, shodaqoh, dan haji, dan tidak ada selainnya waktu seperti itu.

Mungkin karena hal tersebut maka orang-orang jawa mengutamakan bulan desember untuk melaksanakan hajatnya terutama perkawinan, karena menurut dongeng sebelum tidur, penyebaran agama islam di jawa tidak meninggalkan budaya dan adat jawa itu sendiri yaitu unsur kejawen yang di bawa oleh agama sebelumnya yaitu hindu-budha, jadi adat dan budaya bawaan itu sampai sekarang masih melekat, salah satunya perhitungan dan pencocokan nama pada pasangan menjelang pernikahan (wadooohh...kalo g cocok g’ jadi nikah dong).

Dan bulan ini adalah bulan Desember, sudah bisa di pastikan bahwa undangan pernikahan akan bejibun banyaknya, g’ tanggung–tanggung aku bisa menerima sampai 10 undangan di bulan ini dari teman kantorku, teman suami, tetangga dan keluarga. Dari keluargaku sendiri aja ada 2 orang yang menikah, adik sepupu-anak dari tanteku pada tanggal 1 Desember dan adik kandung suamiku pada tanggal 4 Desember. Ada 2 hal menarik yang terekam di kepalaku pada pesta pernikahan mereka berdua.

Pertama. Pernikahan adik sepupuku, keluargaku harus menempuh jarak -+ 200 km untuk sampai ketempatnya tinggal, rumah si mbah (kakek dalam bahasa jawa), pertama kali yang aku lihat ketika tiba disana adalah suasana rumah tampak lengang tidak ada hiasan apapun atau suara musik yang mencerminkan akan adanya hajat di rumah itu. Yang tampak ramai hanya dapur, dipenuhi aneka masakan, tetap masakan has desa sambal goreng ati, bihun goreng, kering tempe, ayam bumbu lodo, dan aku lihat adik sepupuku sedang duduk di dingklek kayu sendiri, mengiris kentang untuk campuran sambal goreng ati katanya (whatt!! She gonna be married... how come!!). Aku dan ibu kaget banget, besuk dia akan jadi pengantin harusnya dia perawatan prawedding luluran kek facial kek atau apalah yang biasa dilakukan perempuan sebelum menikah, bukannya duduk jongkok di dapur ngupas kentang dan berkotor-kotor begini. Kata si mbah dia melakukan hampir semua sendiri, belanja, memasak, beli minyak, mengurus ibunya (oh my goodness... i can’t stand!), hampir aku menangis melihatnya dan keadaan ini, ibunya cuma bisa tidur karena ketidakmampuannya melawan kanker, si mbah sudah tua g’ mungkin melakukan pekerjaan berat, dan keuangan yang sangat minim membuatnya g’ mungkin memakai jasa wedding organiser, welly nelly kami keluarganya yg membantu walapun jauh dan sibuk kami sangat megusahakan datang.
“ ora enek apa-apa, gur ngijabne pokoke syah, bar ngono walimahan, undangane gur wong 20 tangga dewe, teka keluarga lanange kira-kira mung 20, acarane sesuk bengi” begitu kata si mbah bercerita ketika ibu bertanya tentang jalan acaranya
Tidak ada pesta apapun undangan cuma 50 orang tetangga dekat dan keluarga saja, setelah ijab qobul, walimah, dan selesai, dengan berbagai pertimbangan acara di laksanakan malam hari ba’dha magrib. 
Setan telah menguasai diriku ketika keesokan harinya salah satu saudara menyuruh dia membeli kantong plastik, gula, dan kardus
“ Heh! Bocah iki arepe dadi manten. Ora usah ngongkon-ngongkon! Budal dewe kono!!”
Kurang beberapa jam dia jadi pengantin harusnya dia mempersiapkan dirinya, aku heran orang-orang ini ngerti keadaan g’ sih seenaknya aja, hari biasa boleh lah nyuruh-nyuruh tapi ini hari istimewanya please ... give her a chance. Sekali lagi hampir aku meloncat ketika adik sepupuku yang lain memberitahuku belum ada perias pengantinnya, Astaghfirullah ... pernikahan apa ini!, “Ya udah kamu cari perias di daerah sini nanti mbak pit yang bayar, bilang kita cuma pake jasa riasnya aja, baju udah mbak bawain tuh kebaya putih, trus suruh dina coba bajunya pas g?, kalo kedodoran kan masih ada waktu ngecilin, habis itu jangan balik ke dapur lagi diem aja di dalem, ngapain gitu nonton tivi atau apa”. Persis orang tua aku ngomel, memang aku tertua di antara yang lain (aku cucu tertua), dan herannya g ada yang berani membantah satupun kalimatku termasuk ibu.
Begitulah sedikit gambaran persiapan Mantenan adik sepupuku yang penuh keharuan. Malam harinya keluarlah calon pengantin dari kamarnya dina tampak cantik walau dengan riasan dan baju sederhana- kebaya putih gading. Alhamdulillah ... segala puji bagi Allah yang Maha Mengatur Segala acara diberi kemudahan dan kelancaran. Setelah pengantin dinyatakan syah sebagai suami istri, setelah mas kawin uang tunai (yang hanya) Rp. 500.000 diserahkan, dan dibacakanlah doa “Barokallahu laka wa baaroka ?alaika wa jama?a bainakumaa fii khoir tanpa sadar aq meneteskan airmata dan berdoa dalam hati (semoga bahagia din, always... all the best for you...).

Kemudian yang kedua. Pernikahan adik kandung suamiku atau adik iparku, yang jauh dari kata sederhana. Perias dan dekorasi pengantin, catering, dan foto & video editing dari luar kota, tempat yang bagus menurut dia. Foto prewedding, perawatan pra nikah (dari facial sampai spa), prosesi acara menggunakan adat jawa (walau setengah-setengan), dari acara siraman, midodareni dimalam harinya. Dan keesokan harinya acara akad nikah yang digelar di tenda halaman rumah yg di tata sangat cantik, dengan busana yang mewah (menurut ukuranku), ketika iring-iringan mempelai laki-laki tiba dengan bawaan seserahan yang tidak sedikit, dan  mas kawin seperangkat alat sholat dan periasan emas 33 gram, itu cukup membuatku berdecak. Itu baru akad nikah-masih ada resepsi dimalam harinya yang digelar di gedung serbaguna dengan undangan 2 ribu orang, aku sudah membayangkan betapa WOW pesta nanti malam. Dan benar saja ketika sore hari aku dan suami tiba digedung untuk dirias (semua keluarga dirias dan memakai seragam) sdh ada beberapa pasang orang yg antri untuk didandani, ada yang sebagai terima tamu, penjaga buku tamu, menjaga kotak uang, memberikan kartu souvenir, dan memberikan souvenir. Ribet banget sih! Setelah semua ready di tempat masing-masing kelihatanlah mewahnya acara ini, warna merah yang menjadi nuansa semakin menambah kesan mewah, berapa puluh juta mereka merogoh saku atau mungkin mencapai ratus juta...Ups! hampir lupa, ada prosesi temu manten, sungkeman, panggih besan, kemudian di akhir acara setelah tamu pulang semua ada prosesi kirap manten (pengantin turun dari kursi dekorasi, berjalan menuju meja makan yg sudah dihias sedemikian rupa dan menyantap makanan yang sudah disediakan). Masyaallah... ada apa denganku? Iri atau apa?... dari awal hingga akhir acara tidak satupun kalimat doa terucap... mungkin karena tak kulihat adanya sesuatu yang bernama “sakral” dan hanya terlihat mewah saja. Astaghfirullahaladim... 

 Rujukan :
1,2 :  Primbon dan pakuwon joyoboyo
*    : Ibnu Hajar dlm kitab Fathul Baari

Selasa, 25 September 2012

TENTANG DIA


Dia bukan siapa-siapa dan tidak memiliki apa-apa, dia hanya musafir buta dengan cinta sebagai satu-satunya barang bawaan. Dia menjelajah ke negeri timur dan barat, mencari sebentuk tubuh yang mengerti bahsa jiwanya-mencari tempat untuk meletakkan kepalanya. Dia memeluk banyak tubuh dan mencium banyak bibir, tanpa disadari bahwa pisau-pisau y ang terselip diantara sayap-sayapnya menyakiti dan cemeti yang tersembunyi dibalik lidahnya melukai. Dia berpikir, ternyata tidak semua kebaikan tersampaikan dan diterima dengan baik pula.

Dia adalah icon sebuah perubahan:
Dari seekor ulat yang menjijikkan dan dibenci semua orang, seekor perusak yang harus dimusnahkan dan tak diterima dimanapun dia berada.
Kemudian dia memaksa dirinya, menuntut hidupnya untuk berkepompong beberapa lama dalam kesakitan yang berkepanjangan dan regangan nyawa untuk sebuah perubahan.
Dan akhirnya memekarkan sayap-sayap cantiknya, menebarkan kecantikan dimana-mana-pun dia harus terbang kesana-kemari menghindari banyak orang yang memburunya untuk diawetkansebagai hiasaan.

Bahwasanya air mata tidak memilih tempat dimana ia akan jatuh dan tidak memilih waktu kapan ia turun. Dia tidak pernah mewartakan kapan dia terluka dan berduka, ketika itu terjadi dia hanya akan berlari menemui senja dan meleburkan diri bersamanya, atau membenamkan diri di laut, atau menari bersama bintang.
Seperti bintang yang menghias malam dengan kilaunya, dia berharap bisa berkilau dikegelapan, menjadi tinta diatas kertas putih.

Dan tentang cinta, ternyata hanya Tuhanlah yang pantas. Hanya Tuhan dan Rasul-Nya yang pantas mendapat cintanya.

Jika kau rasakan semilir angin, ingatlah dia yang menginginkan sentuhannya sesejuk angin semilir,
Jika kau temukan anggrek tanah, ingatlah dia yang menginginkan hidupnya seindah anggrek tanah,
Jika kau lihat kupu, ingatlah dia yang ingin dirinya secantik kupu-kupu,
Jika kau pandang senja, ingatlah dia yang slalu menginginkan tenggelam bersamanya dilaut,
Jika kau menengadah bintang, ingatlah dia yang ingin kehadirannya seterang bintang sekalipun dimalam pekat,
Jika kau muak dengan hitam, ingatlah dia yang slalu menginginkan menjadi putih diatas hitam.

She loves, like there is no tomorrow...




* di dedikasi untuk ukhti anggun, seorang perempuan yg berjuang untuk cinta...

Kamis, 10 Mei 2012

NIKMAT ALLAH...



Maka nikmat ALLAH yang mana yang kau dustakan?(PS Ar-Rahman 13).
Masyallah, seperti di tampar ketika membaca ayat itu, sungguh jika aku menghitung nikmat-NYA tak akan sanggup, tak ada satupun nikmat-NYA yang bisa di tukar dengan apapun. Malu rasanya ketika akan menghitung apa yang telah "melekat" pada diri ini, sangat tak tau diri... Cukupkan diri dengan Alhamdulillah... pada setiap apa yang diterima, maka ALLAH akan semakin menambah nikmat-NYA


Arslan akan menjadi raja disini, raja kecil di hati, sang pembawa nikmat, dan penyebar nikmat...

Nikmat yang tak terhingga... memiliki amanah bernama Arslan "Sang Raja"

..... maka nikmat ALLAH manakah yang ku dustakan?

Selasa, 13 Maret 2012

KERANA CINTA





Kerana cinta duri menjadi mawar
kerana cinta cuka menjelma anggur segar
Kerana cinta keuntungan menjadi mahkota penawar
Kerana cinta kemalangan menjelma keberuntungan
Kerana cinta rumah penjara tampak bagaikan kedai mawar
Kerana cinta tompokan debu kelihatan seperti taman
Kerana cinta api yang berkobar-kobar
Jadi cahaya yang menyenangkan
Kerana cinta syaitan berubah menjadi bidadari
Kerana cinta batu yang keras
menjadi lembut bagaikan mentega
Kerana cinta duka menjadi riang gembira
Kerana cinta hantu berubah menjadi malaikat
Kerana cinta singa tak menakutkan seperti tikus
Kerana cinta sakit jadi sihat
Kerana cinta amarah berubah
menjadi keramah-ramahan
(Rumi : Kasidah Cinta)

06 Oktober 2011, 22:45 WIB.
Karena cinta, anakku, bunda melahirkanmu. Dengan cinta pula ayah dan bunda akan membesarkanmu. Selamat datang anakku. Arslan Zain Sirhanthara...hadapi dunia ini dengan cinta

Rabu, 20 Januari 2010

14 Nopember 2009

Aku melewati lagi jalan ini, jalan bercabang banyak, yang mengharuskanku memilih satu di antaranya. Sebuah pilihan yang akhirnya menjadikanku seperti sekarang. Seorang pegawai biasa di suatu instansi yang juga seorang dosen di sebuah universitas swasta di kota kecil tempat aku tumbuh. Banyak yang terjadi di jalan ini, tapi tidak aku lupa sama sekali satu halpun, memoriku masih dengan jelas menggambarkan semuanya. Aku membuka sebuah amplop yang berisi kenangan 4 tahun silam, ketika aku merangkak lunglai menyusuri deret angka dalam tidak lebih dari dua kali tigapuluh hari. Tercengang otakku yang stagnan oleh sosok tegap dua lembar kalender mengisinya dengan tulisan dan hiasan, dan semuanya tinta biru.

Dengaan penuh kehati-hatian, kewaspadaan, dan nyaris seluruh kesadaran, kami membangun sebuah tempat berteduh yang sama sekali tidak permanen, meskipun indah dan nyaman tapi itu hanyalah sebuah tempat untuk berteduh tempat meletakkan lelah dan letih. Kenapa hanya tempat berteduh dan bukan rumah? Bukankah rumah adalah tempat berteduh yang sempurna (setidaknya sempurna untuk ukuran manusia), dan dapat menampung lebih banyak hal, tidak hanya lelah dan letih, tapi juga cinta, sayang, amarah, amanah, angan, cita-cita, suka, luka dan benda-benda lain yang membutuhkan tempat peletakan. Tapi hanya tempat berteduh yang kami bangun, mungkin karena bangunannya yang semi permanen bisa dirobah atau ditinggal setiap saat dan sekehendaknya.

Kenapa begitu? Bukankah kami menanti cukup lama dan melewati banyak hal untuk sampai ke tempat itu, apakah penantian yang lama itu akan ditelantarkan dan ditinggal setiap saat kala bosan? Kami benar-benar tidak tahu, aku hanyalah seorang gadis belia dan dia adalah pria muda, kami berdua masih sangat muda ketika itu. Tapi aku tetap menunggu hari esok untuk menjadikan tempat berteduh itu sebuah istana , aku tetap berdo’a untuk lelaki muda itu (dengan sisa keteguhan) “ tetaplah menjadi bintang dilangit ............”. Bayangan beku dan kaku berseliweran dalam setiap ronga jiwaku, yang wangi dan daya tariknya sempat tertinggal dan teramat kuat, hingga mematahkan setiap penyangga tubuhku. Dan setiap malam terucap salamku “ selamat malam wahai Ahki 1) ...... damai dalam tidurmu ....... ciptakan keindahan esok hari dengan jemarimu, seindah rona merah senja, dan perempuan ini ingin menjadi indah diatasnya walau tak sempurna .........”.Tapi begitu sempurna inginku kala itu, begitu sempurnanya hingga menyiksaku, mencekikku, menggorok leherku, dan menggigit lidahku, hampir-hampir membunuhku. Aku baru tersadar bahwa aku telah menghampiri lelaki yang keras hati, yang tiada nyenyak tidur walau sesekali, tak perlu mengingkari perang karena aku telah tertawan. Di tenggorokanku ada tulang dan di dalam diriku ada kedukaan.

Tulisan akan terbaca dengan sendirinya, jalan akan terlewati dengan sepenuhnya. Tak perlu merubah peta sekedar untuk mengulang kenangan, karena akan ada banyak pemandangan lain yang bisa diabadikan dalam bingkai atau diatas tembok. Yang terpenting adalah kesiapan memberi dan mendapatkan, menerima dan kehilangan, dan pertanggungjawaban atas keputusan. Dan hari ini, sejak 283 hari yang lalu aku telah berusaha mempertanggungjawabkan keputusanku, keputusan atas seorang laki-laki yang sangat pantas mendapatkan cintaku. Kami benar-benar berusaha membangun sebuah istana terbaik di dunia bukan sekedar tempat berteduh. Istana kami ada di sebuah tempat yang tak seorangpun tahu, tempat yang paling indah dihadapan Rabb kami yaitu HATI kami. Bukan hanya sebuah istana, dia bahkan telah menyiapkan Surga untukku diujung langkahnya dengan segala kemudahan. Laki-laki sempurna yang mencintaiku dengan sempurna, begitu sempurnanya hingga tak ada kata yang bisa menerangkannya, laki-laki terindah yang menberiku banyak keindahan, begitu indahnya hingga aku tak mampu melukiskannya. Hingga terucap salam dalam setiap malam dalam doa untuk menjadikanku perhiasan terindah di dunia disisi laki-laki mulia itu “ jangan berhenti mencintaiku wahai lelaki yang dicintai Allah ........, Suamiku







Kubungkus Surabaya dalam saputangan. Mungkin akan kucium bila dingin menyengat. Pukul satu dini hari nanti. Mungkin diantara mimpi, mungkin diantara hingar bingar, mungkin diantara kau dan aku.





catatan kaki:
1) Akhi : sebutan untuk laki-laki muslim