Senin, 10 Oktober 2016

Samudra Mengering



Sore ini ditaman yang riuh ini, diatara cyber yang berhamburan, dan sport line yang berserakan, aku berdiri di antara dua cantik 1)dendrobium phalaenopsis dan 2)phalaenopsis amabilis menjulang menempel pada pohon akasia disudut taman. Aku melihat sebuah bangku panjang penuh dengan daun berwarna kuning kecoklatan dan seorang laki-laki paruh baya berkacamata minus sedang membaca (mungkin) novel duduk di bangku itu. T shirt putihnya, celana panjangnya, jam tangannya dan sepatu sneakersnya terlihat begitu rapi dan serasi, sepertinya (kelihatannya) hidupnya juga sangat rapi. Aku melangkah menghampirinya.
"George, sudah lama menunggu?" Sapaku.
Laki-laki paruh baya itu menghentikan membacanya, menoleh kepadaku dan...
"Kate, 15 minutes, where have you been so long? I can't wait to meet you".
Aku tersenyum saja, mendekat, mencium keningnya, dan duduk disamping kirinya. Aku mengambil buku yg dibacanya, kututup-kuletakkan disampingku, kuraih tangan kirinya-kugenggam dan kucium. Matanya berbinar, bibirnya menyunggingkan senyuman, tangan kanannya meraih tanganku dan menggenggamnya, sebelumnya memegang kepalaku dan mencium keningku.
"Kamu selalu bisa melumerkan hatiku kate, dalam suasana apapun" ucapnya lembut dan kubalas dengan kalimat sapu jagat
"aku mencintaimu george, dalam suasana apapun" dan kemudian dia memelukku erat, erat sekali seperti tak mau lagi dilepaskan.

Laki-laki itu menghabiskan setengah dari hidupnya berkubang dalam lumpur deritanya, sendiri, tanpa harapan, tanpa cinta, satu-satunya sandaran dan pegangan hidupnyapun telah dihancurkan. Sampai-sampai dia lupa bagaimana rasanya cinta, bagaimana rasanya dicintai dan mencintai, yang dia lakukan hanyalah memenuhi kebutuhan saja: ketika lapar dia akan makan, ketika haus dia akan minum, ketika mengantuk dia akan tidur, dan begitu setiap hari. Dia terbiasa makan makanan busuk dan menjijikkan, dia terbiasa minum air comberan, dia terbiasa tidur di kandang babi yang kotor, dia terbiasa melumuri tubuhnya dengan kotoran, bercengkrama dengan bangkai-yang seringkali di makannya juga. Hidup dalam gorong-gorong yang entah dimana ujungnya, tanpa cahaya, sedikit udara, dan bau lembab yang amis. Hidup tanpa jiwa, tanpa roh, seperti mayat hidup. Bagaimana kau atau kalian akan menjalani hidup seperti dia, tanpa harapan dan cinta? tanpa sandaran dan pegangan hidup?.

"Beruntung aku menemukanmu kate, you light up my life kate, you give me light to guide me not stumbling, it helps me to passing through my darkness world" itu kalimat yang slalu dia ucapkan, lebih tepatnya jawaban tanpa pertanyaan.
"George, kalau aku harus mengulang hidupku lagi, aku pasti memilihmu, untuk mendampingimu menghabiskan hidupku bersamamu, melahirkan anak-anakmu, membesarkan mereka, melihat mereka tumbuh"
George memandangku lama sekali, matanya berkaca-kaca, kemudian titik-titik bening jatuh dari matanya yang lelah, kemudian dia mmemelukku erat, erat sekali
"Aku bahagia kate, sangat bahagia. Aku tidak pernah berphikir akan menemukan cinta sejatiku disini, disaat genangan lumpur ini mencapai leherku, hampir benar-benar menenggelamkanku. Jika Tuhan harus mengambil nyawaku sekarang aku iklas, setidaknya aku bisa merasakan bagaimana cinta itu, cinta yang sesungguhnya, cintamu. Aku akan mati dengan senyuman, dalam pelukanmu, dalam mata teduhmu, diantara damai senyummu. Tapi aku bahagia".
Samudra saja tidak mampu menampung banyaknya air mata dari pecinta yang merana meregang nyawa, yang kehilangan segalanya, demi cinta. Langit pun tak sanggup menanggung duka nestapa para pelaku cinta yang tulang-belulangnya kehilangan tonggak penyangga jiwanya. Bahkan bumipun tak kuasa menahan gelora asmara para deritawan-deritawan cinta yang hatinya, jantungnya, dan jiwanya tertancap ujung tombak, hancur, dan terrenggut atasnya, hingga menyisakan lubang nanar dengan warna merah yang sangat khas berbau anyir. Darah.

Pembuktian atas apa yang yang KAU minta? Apakah kami harus membalikkan bumiMu ini? Apakah kami harus mengeringkan samudraMu ini? Apakah kami harus membelah Matahari dan BulanMu menjadi berkeping-keping?. Lihatlah dua fakhir yang menderita atas anugerahMu yang tak terhingga, yang tak sanggup menanggungnya. Duhai... Jangan memberikan apa-apa yang tidak sanggup kami menanggungnya...

Catatan Kaki :
1.      1) dendrobium phalaenopsis: Nama latin Anggrek Larat (berwarna ungu) termasuk satu dari 12 spesies anggrek langka yang dilindungi di Indonesia. Anggrek Larat (Dendrobium phalaenopsis) juga ditetapkan sebagai flora identitas provinsi Maluku.
Selengkapnya : http://www.tipsrawatrumah.com/2015/05/dendrobium-phalaenopsis-anggrek-larat.html
2.         2)phalaenopsis amabilis: Nama latin Anggrek Bulan Bunga Nasional Indonesia.
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/wardhanahendra/kenali-lebih-dekat-phalaenopsis-amabilis-bunga-nasional-indonesia_55107cec813311ca35bc6712
3.   Ilustrasi gambar : http://archive.kaskus.co.id/thread/16550784/0/subhanallah-air-laut-membeku-   di-pakistangan

Jumat, 30 September 2016

Feel the Love



Pernahkah merasakan, menunggu sapa Good morning dengan deg-degan setiap pagi?
Pernahkah merasakan, kalimat I Love You menjadi obat dari segala luka dan duka?
Pernahkah merasakan, ucapan Good night menjadi pelukan terhangat setiap malam?
Pernahkah merasakan, kata Take care begitu menentramkan hati dan membuat selalu menjaga diri?

Semuanya seperti candu, yang ketika tidak terdengar sehari saja seperti serasa sakau.

Pernahkah merasakan, genggaman lunglai yang meluruhkan urat syaraf dengan seketika, dan tiang penopang tubuh ambruk secara bersamaan?
Pernahkah merasakan, sentuhan yang memacu detak jantung dengan resonansi melampaui 80 kali tiap menit dalam hukum pacu?
Pernahkah merasakan, ciuman yang menyumbat aliran darah, serasa tak ada lagi guna setiap kali transfusi pada jenis darah apapun?
Pernahkan merasakan, pelukan yang menghentikan rotasi bumi, bahkan semburat magma dan gulungan tsunami pun tampak anggun dalam diamnya?

Semuanya seperti candu, yang ketika tidak terasa sehari saja seperti sesak nafas.

Suara paraunya
mata teduhnya
bibir lembutnya
tangan mesranya
bahu lapangnya
dan tubuh hangatnya

Ah... Menyerah sajalah
Menyerah pada cinta yang dasyat itu, yang keberadaannya sanggup merubah Neraka menjadi sepotong Syurga
Bahwa ketika bersama, adalah jam yang seharusnya berhenti berdetak, melewati jembatan panjang diatas awan sementara yang lain mematung
Bahwa semua hal tentangnya adalah diatas segalanya yang mampu menyisihkan sekian kontestan rasa, keinginan, dan kebutuhan dari yang sebelumnya ada
Karenanya sebuah halaman kosong menjadi penuh isi hingga akhir dan mencapai anti klimaknya pada titik terakhir.


Ah... Menyerah sajalah
Rasakan saja cinta itu



Rabu, 21 September 2016

CINTA RWA BHINNEDA

Aku tidak pernah bermimpi mencintai seseorang yang mengabdikan dirinya pada Tuhan. Setelah sekian lama, kenapa cintaku dilabuhkan padanya? Dan laki-laki itu sangat mencintaiku dengan seluruh tubuhnya, dengan seluruh jiwanya. Laki-laki itu mencintai seorang muslim yang menutup tubuhnya dengan jilbab. Bagaimana bisa? Siapa yang bisa menjawab? Adakah penjelasan logis untuk cinta? Cinta yang tak pernah datang tepat waktu. Adakah penjelasan yang nyata tentang rasa? Rasa yang tak pernah mau berbagi.

Aku seorang muslim yang taat, yang benar-benar menjaga diriku dari hal-hal yang tidak berguna, hal-hal yang sia-sia, hal-hal yang tercela, hal-hal yang berbau dosa. Seluruh tubuhku hanya kuijinkan menyebut asmaul husna, melantunkan puji-puji kepadaNya, mengingatNya dengan dzikirku, aku haramkan tubuhku mendekati zina. Aku seorang pengajar Al-Quran, aku banyak memberi ceramah pada pengajian-pengajian, orang-orang memanggilku ustadzah. Ya aku seorang ustadzah, seorang pemuka agama.

Dia seorang kristen yang taat, yang nyaris tak tersentuh dosa, hidupnya hanya dipenuhi dengan ibadah dan doa, dia beribadah dengan hatinya dengan tingkah lakunya tidak hanya di gereja. Dia membersihkan gereja, mendekor gereja, membangun gereja, pengajar sekolah minggu dari anak-anak sampai dewasa, mengajar kitab, pemimpin doa, memimpin pujian, membawakan firman, menjadi pelayan Tuhan. Ya dia hampir menjadi Pendeta.

Dan aku mencintai laki-laki kristen itu, dengan segenap jiwaku. Aku seperti memiliki dunia beserta isinya ketika berada dekat dia, dan seperti kehilangan semuanya (bahkan nyawaku) ketika jauh dengan dia. Tapi tidak ada yang bisa kami lakukan untuk mewujudkan cinta itu. Kami (mungkin) terlalu bodoh untuk diuji soal hati, kami tidak punya pedang atau senjata untuk berperang-melawan iblis dalam diri kami, kami terlalu lemah untuk membawa masing-masing cinta kami-menuju cara yang seharusnya. Jalan ini tidak mudah untuk disatukan terlalu banyak ruas dan cabang, terlalu banyak menyuguhkan kelokan tajam dan tikungan licin, terlalu sering memberikan tambahan jurang curam atau tebing terjal atau bukit-bukit runcing yang liar.

Seperti halnya pantai dan gunung-saling melengkapi-berjalan beriringan tapi tak pernah jadi satu. Seperti Matahari dan Bulan-berputar sesuai tugasnya-mengisi kekosongan pada masing masing waktu siang dan malam tapi tak pernah bisa berdampingan. Seperti hitam dan putih. Seperti rwa dan bineda. Seperti hari ini, di persimpangan ini kami berhenti, sampai akhirnya aku melangkahkan kakiku kearah kiri dan dia kearah kanan. Aku mengambil air wudlu kemudian sholat sunnah dhuha 2 Rakaat. Dia membunyikan lonceng kemudian menuju altar melakukan pujian dan berdoa. Tidak pernah bisa bersama.

Sayup-sayup kudengar seseorang bersenandung :
1)Dibumi manakah kita dipertemukan? di Makkah Al Mukarom atau di Israel yang Mulia,
Dimanakah kita akan dipersatukan? di Masjid yang suci atau di Gereja yang damai,
Dengan cara apa kita akan disyahkan? dengan Ijab qobul atau Sakramen suci,
Pada siapa kita memintanya? didepan Mimbar Penghulu atau dihadapan Altar Pendeta.

Wahai Yang Maha Membolak-balikkan hati...
Aku memohon kepadaMu dengan segala kerendahan dan kelemahanku, selamatkanlah hati kami, cinta kami, dan tubuh kami. Haramkanlah tubuh kami dari neraka jahanamMu. Jika memang kami berjodoh maka segera jodohkanlah kami, jika kami tidak berjodoh segera pisahkan kami sejauh larinya khayalan kami. Aku tunduk sesuai kehendakMu.
Aamiin...


Catatan Kaki :
1.         1)Puisi NN
2. lustrasi gambar: http://iambeautifulfreaks.blogspot.co.id/2015/02/suci-jogja-dan-cinta-beda-agama.html











Rabu, 27 Juli 2016

LEBUR JADI SATU



Bagaimana aku menggambarkan semua ini.
Dia datang ketika aku lebur dalam isak dan gulita, dia menyadarkanku bahwa dunia ini berwarna seindah pelangi, seindah tamansari penuh bunga. Dia adalah perwujudan Malaikat, dia bisa menjadi Malaikat Jibril yang menyampaikan pesan cinta untukku, dia bisa menjadi Malaikat Ridwan yang menjaga syurga untuk jiwaku dan aku bisa masuk dari pintu manapun yang kumau, dia bisa menjadi Malaikat Isrofil yang meniupkan sangkakala untuk kehancuran dan kematianku, dia bahkan bisa menjadi Malaikat Izrail yang siap mencabut nyawaku kapan saja. Dia menggenggam tanganku dengan damai –genggamannya sanggup melumerkan bongkah es dalam hatiku dan mengikis karang dalam kepalaku, dia berbicara dengan lembut – tutur katanya seperti gelombang elektromagnetik yang sanggup membuat jantungku beresonansi sekian ribu detak dalam satu menit. Dia menatapku dengan teduh – keteduhan yang selalu aku ingin tinggal didalamnya. Dia sangat mencintaiku dengan seluruh jiwanya, seluruh hidupnya, dan matinya. CINTAnya sangat sempurna, teramat sempurna. Karena aku adalah hatinya – sebuah hati yang telah hancur pada ribuan tahun silam bahkan sebelum kami diciptakan, dia menghabiskan lebih dari separuh hidupnya untuk mencarinya, dan sekarang dia menemukannya kembali. Hatinya. Aku adalah Hatinya.

Dan aku, aku begitu memujanya dengan seluruh hatiku, jantungku, jiwaku, hidupku, dan matiku, seperti itu aku mencintainya.  Duniaku berhenti ditangannya, hidupku berhenti di teduh matanya, dan matiku berhenti dilangkahnya - artinya aku bisa mati jika dia meninggalkanku. Bagaimana aku tidak mencintainya jika dia melalukan semuanya hanya untukku, apapun yang aku mau akan dilakukannya. 

10.000 tahun sebelum masehi, Tuhan menciptakan sebuah tubuh tanpa hati, dan memecahnya menjadi dua. Tubuh tak berhati itu terlempar ke ujung dunia, satu kebarat satu ketimur. Dengan rantai di kakinya, luka di dadanya, nanar di matanya, dan beku di bibirnya, dua tubuh itu mencari hatinya yang belum diciptakan. Dua tubuh itu mengembara dari timur kebarat, dari barat ke timur – tanpa tujuan, tanpa kepastian, dan mungkin tanpa akhir. Lukanya semakin parah, kakinya berdarah dan bernanah, mata nanarnya semakin mengkristal, bibir bekunya menjadi kering dan pecah, betapa berat beban yang harus dipikul tubuh itu, tubuh tanpa hati.
Ketika bumi mengerucut, dihari ketujuh ciptaanNya yang sempurna, dengan Aurora ungu tanpa cela dan galaxy berpendar pada cangkangnya. Didasar laut yang membeku dengan suhu dibawah 6 derajat celcius, di antara pepohonan pinus yang terendam air, diantara lebih dari 275 artefak, dikedalaman 250 kaki dibawah air – yang bahkan arkeologpun tidak pernah berfikir akan tempat itu. Dua tubuh tak berhati itu untuk pertama kalinya saling menatap, memegang dadanya masing-masing yang terasa penuh – untuk pertama kalinya dirasakannya jantungnya berdetak, kakinya seputih salju – tak ada lagi luka darah dan nanah disitu, matanya memancarkan pesona purnama kehangatan dalam cinta, bibirnya menyungging bak bulan sabit menyunggingkan senyuman, semua luka sirna bersama berlalunya angin. Ketika tangan mereka saling menggenggam – mata mereka saling berbicara – bibir mereka saling menghangatkan – jantung mereka saling mengejutkan, seketika itu pula mereka lebur menjadi satu, seperti ketika Tuhan menciptakan sebelum membelahnya menjadi dua, tapi kali ini ada jantung yang berdetak didalamnya dan hati yang memancarkan cinta. Sejenak sebelum terlebur mereka berucap dengan bersamaan “Aku telah mencintaimu selama berjuta tahun”.


Sabtu, 02 Juli 2016

Layang –layang ungu



Rasanya aku menjadi patung pajangan paling jelek dari semua toko yang ada, tidak ada yang melihatku, tidak ada yang perduli. Disebelah kiriku George mematung, namun tak akan ada yang bisa melihat runtuhnya pilar – pilar berukir emas dikedalaman hatinya, satu – demi satu gugur ibarat daun diaduk prahara.

George , menatap sendu layang – layang ungu yang meliuk – liuk mengikuti alur angin yang memberinya rasa, menukik menatap runcing dahan – dahan kering dan membumbung tinggi membelah angkasa.

Sementara aku hanya menelusuri bayangan pohon yang kian memanjang. Pelupuk mataku terasa hangat. Tak ada bulir bening merayap turun.
Layang – layang ungu memang tak lebih ungu dari “sari"ku, tapi aku telah melihat arah, melihat perih, seperti warna sore yang berselimut hijau lapangan dan wangi rerumputan. Jingga mentari mulai menjemput gelapnya malam, lalu kulantunkan sebuah syair,
“ kau lepas, terbang menembus matahari
Kau jatuh, menukik dan terluka
Kau memang bukan burung, layang – layang ungu”