Sore ini ditaman yang riuh ini, diatara cyber yang berhamburan, dan
sport line yang berserakan, aku berdiri di antara dua cantik 1)dendrobium phalaenopsis dan 2)phalaenopsis
amabilis menjulang menempel
pada pohon akasia disudut taman. Aku melihat sebuah bangku panjang penuh dengan
daun berwarna kuning kecoklatan dan seorang laki-laki paruh baya berkacamata
minus sedang membaca (mungkin) novel duduk di bangku itu. T shirt putihnya,
celana panjangnya, jam tangannya dan sepatu sneakersnya terlihat begitu rapi
dan serasi, sepertinya (kelihatannya) hidupnya juga sangat rapi. Aku melangkah
menghampirinya.
"George, sudah lama menunggu?" Sapaku.
Laki-laki paruh baya itu menghentikan membacanya, menoleh kepadaku
dan...
"Kate, 15 minutes, where have you been so long? I can't wait to
meet you".
Aku tersenyum saja, mendekat, mencium keningnya, dan duduk disamping
kirinya. Aku mengambil buku yg dibacanya, kututup-kuletakkan disampingku,
kuraih tangan kirinya-kugenggam dan kucium. Matanya berbinar, bibirnya
menyunggingkan senyuman, tangan kanannya meraih tanganku dan menggenggamnya,
sebelumnya memegang kepalaku dan mencium keningku.
"Kamu selalu bisa melumerkan hatiku kate, dalam suasana
apapun" ucapnya lembut dan kubalas dengan kalimat sapu jagat
"aku mencintaimu george, dalam suasana apapun" dan kemudian
dia memelukku erat, erat sekali seperti tak mau lagi dilepaskan.
Laki-laki itu menghabiskan setengah dari hidupnya berkubang dalam lumpur
deritanya, sendiri, tanpa harapan, tanpa cinta, satu-satunya sandaran dan
pegangan hidupnyapun telah dihancurkan. Sampai-sampai dia lupa bagaimana
rasanya cinta, bagaimana rasanya dicintai dan mencintai, yang dia lakukan
hanyalah memenuhi kebutuhan saja: ketika lapar dia akan makan, ketika haus dia
akan minum, ketika mengantuk dia akan tidur, dan begitu setiap hari. Dia
terbiasa makan makanan busuk dan menjijikkan, dia terbiasa minum air comberan,
dia terbiasa tidur di kandang babi yang kotor, dia terbiasa melumuri tubuhnya
dengan kotoran, bercengkrama dengan bangkai-yang seringkali di makannya juga.
Hidup dalam gorong-gorong yang entah dimana ujungnya, tanpa cahaya, sedikit
udara, dan bau lembab yang amis. Hidup tanpa jiwa, tanpa roh, seperti mayat
hidup. Bagaimana kau atau kalian akan menjalani hidup seperti dia, tanpa
harapan dan cinta? tanpa sandaran dan pegangan hidup?.
"Beruntung aku menemukanmu kate, you light up my life kate, you
give me light to guide me not stumbling, it helps me to passing through my
darkness world" itu kalimat yang slalu dia ucapkan, lebih tepatnya jawaban
tanpa pertanyaan.
"George, kalau aku harus mengulang hidupku lagi, aku pasti
memilihmu, untuk mendampingimu menghabiskan hidupku bersamamu, melahirkan
anak-anakmu, membesarkan mereka, melihat mereka tumbuh"
George memandangku lama sekali, matanya berkaca-kaca, kemudian
titik-titik bening jatuh dari matanya yang lelah, kemudian dia mmemelukku erat,
erat sekali
"Aku bahagia kate, sangat bahagia. Aku tidak pernah berphikir akan
menemukan cinta sejatiku disini, disaat genangan lumpur ini mencapai leherku,
hampir benar-benar menenggelamkanku. Jika Tuhan harus mengambil nyawaku
sekarang aku iklas, setidaknya aku bisa merasakan bagaimana cinta itu, cinta
yang sesungguhnya, cintamu. Aku akan mati dengan senyuman, dalam pelukanmu,
dalam mata teduhmu, diantara damai senyummu. Tapi aku bahagia".
Samudra saja tidak mampu menampung banyaknya air mata dari pecinta yang
merana meregang nyawa, yang kehilangan segalanya, demi cinta. Langit pun tak
sanggup menanggung duka nestapa para pelaku cinta yang tulang-belulangnya
kehilangan tonggak penyangga jiwanya. Bahkan bumipun tak kuasa menahan gelora
asmara para deritawan-deritawan cinta yang hatinya, jantungnya, dan jiwanya
tertancap ujung tombak, hancur, dan terrenggut atasnya, hingga menyisakan
lubang nanar dengan warna merah yang sangat khas berbau anyir. Darah.
Pembuktian atas apa yang yang KAU minta? Apakah kami harus membalikkan
bumiMu ini? Apakah kami harus mengeringkan samudraMu ini? Apakah kami harus
membelah Matahari dan BulanMu menjadi berkeping-keping?. Lihatlah dua fakhir yang
menderita atas anugerahMu yang tak terhingga, yang tak sanggup menanggungnya. Duhai...
Jangan memberikan apa-apa yang tidak sanggup kami menanggungnya...
Catatan Kaki :
1. 1) dendrobium phalaenopsis: Nama latin Anggrek Larat (berwarna ungu) termasuk satu dari 12
spesies anggrek langka yang dilindungi di Indonesia. Anggrek Larat (Dendrobium
phalaenopsis) juga ditetapkan sebagai flora identitas provinsi Maluku.
Selengkapnya : http://www.tipsrawatrumah.com/2015/05/dendrobium-phalaenopsis-anggrek-larat.html
2.
2)phalaenopsis amabilis:
Nama
latin Anggrek Bulan Bunga Nasional Indonesia.
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/wardhanahendra/kenali-lebih-dekat-phalaenopsis-amabilis-bunga-nasional-indonesia_55107cec813311ca35bc6712
3. Ilustrasi gambar : http://archive.kaskus.co.id/thread/16550784/0/subhanallah-air-laut-membeku- di-pakistanganSelengkapnya : http://www.kompasiana.com/wardhanahendra/kenali-lebih-dekat-phalaenopsis-amabilis-bunga-nasional-indonesia_55107cec813311ca35bc6712




