Kenapa rasanya sakit sekali hatiku. Mataku tak sempat kering, bibirku tak sempat mengatup...Cinta ini begitu nyata...Cinta ini begitu luka.
Aku seperti menusukkan belati di dadaku,
merobeknya, membelahnya, memotong sumur darahnya, mengambilnya, menarik keluar
dari pusarnya, sehingga darahnya semburat keluar berhamburan seperti gelombang
tsunami dari letusan krakatau beberapa dekade silam. Aku seperti tenggelam
dalam samudra laya yang kedalamannya tak terhingga, kakiku diberi beban
berton-ton sehingga tubuhku tenggelam semakin dalam, tangan dan tubuhkuku
dirantai, sehingga aku tidak bisa bergerak sama sekali, dan hanya pasrah saja
ketika aku tenggelam semakin dalam. Air ini mulai keruh tak beraturan, mataku
mulai perih, telingaku sudah tak bisa mendengar, kepalaku mulai pening, dadaku
mulai sesak, tubuhku mulai panas, cacing-cacing dalam perutku seperti ingin
keluar saja dari dalam perutku, kuhirup air dan kutelan air sebanyak-banyaknya
supaya isi perutku tetap ditempatnya.
Kenapa sakit sekali rasanya hatiku...
tanganku gemetar memegang dada kiriku. Ooh kau yang ada didalam sana...bukankah
tugasmu hanya memompa darah untuk bisa mengalir ke seluruh tubuh? Kau tak perlu
merasakan apa-apa, tak perlu ambil bagian mengenai rasa, jangan mengambil
pekerjaan lain, tugasmu hanya memompa darah. Katakan pada saudaramu yang diatas
sana untuk memerintahkan syaraf mata supaya berhenti meneteskan airnya,
perintahkan kepada syaraf bibir supaya berhenti membuat gerakan yang tidak
penting dan mengatuplah saja. Bukankah kepalamu mulai berat? bukankah matamu
mulai berkunang-kunang? bukankah hidungmu sudah penuh dengan ingus dan tak bisa
untuk bernafas lagi? Wahai kau yang ada didalam dada kiriku, katakan pada
saudramu yang ada diatas sana untuk memberikan perintah, sebelum aku benar-benar
melakukan seperti yang dia dengungkan. Sebelum kuambil senapan yang lama
kusimpan dan kuledakkan di kepalaku tepat pada dirinya, karena aku mulai
takut... tidak cukup tegar untuk merasakan sakit yang teramat dalam ini, tidak
cukup tangguh untuk menghadapi luka yang teramat nyata ini.
Kenapa sakit sekali hatiku rasanya...aku
tak bisa lagi merasakan yang lain. Bulan sudah menyapaku empat kali dan
mataharipun tersenyum padaku lima kali, tapi aku masih saja acuh dan asik
meringkuk di sudut kamar gelap dan pengap ini. Semua jadi tidak penting, semua
jadi tidak berarti, semua jadi hitam. Hey...aku melihat ada sesuatu yang
berkilau berserakan disudut sana, aku menghampirinya, oow rupanya pecahan kaca
yang aku hantam dengan tanganku kemarin, ku pegang tanganku tak terasa sakit
walaupun banyak darah kering yang masih menempel, kenapa aku tidak merasakan
sakit? ku ambil benda berkilau itu kugoreskan pada telapak tangan kiriku-tidak
terasa sakit, kusayatkan pada lenganku-tidak terasa sakit, kurobek pegelanganku
kuambil pipa darahnya dan kupotong hingga darahnya berhamburan kesegala
arah-juga tidak terasa sakit, sekali lagi, ku tancapkan pada dada kiriku dalam
dan dalam, ku sayat ku gorok dan ku potong ku ambil hatiku ia berdenyut-denyut
ditanganku...kenapa tak terasa sakit sama sekali. Apa ini? apakah ini hanya
replika? Hati buatan yang sengaja ditanam ditubuhku? yang hanya difungsikan
memompa darah ditubuhku? lalu kemana hatiku yang sesungguhnya? lalu pada bagian
mana yang aku rasakan sakit yang luar biasa ini?
"Hatimu disini, bersamaku"
sayup-sayup kudengar lelaki tegap berdiri didepanku membawa kotak hitam
pandora. Ah... mungkin hanya ilusi saja, dia hanya bayangan saja...namun
demikian walau dia hanya ilusi walau dia hanya bayangan ku gapai tangannya
ketika diulurkan padaku, kurengkuh tubuhnya ketika didekapkan padaku, kucium
bibirnya ketika dicercapkan padaku. Tapi, kenapa aku terasa dingin sekali,
tubuhku menggigil, tenggorokanku tersangkut, dan sedetik kemudian semua menjadi
gelap. Gelap. Hilang
*Illustrasi gambar : https://www.pinterest.com/ewayea/quotes-broken-hearts-bleeding-hearts-bleating-hear/




