Senin, 19 Desember 2016

AZAZIL


*(... Aku adalah saksi,
Ketika Mikael menghunus pedang halilintar,
Meledakkan langit, menghajar Azazil,
Atas khianatnya pada sang Khalik.
Terlempar dari araz kekekalan abadi,
Membawa kutuknya ke bumi,
Sendiri....)



Yang kutahu,
Azazil tak pernah berhianat
Azazil adalah monoteis yang menolak sujut pada selain sang Pencipta
Pun ketika Adam diciptakan, dan seluruh Malaikat sujut padanya
Kepatuhan dan ketaatan tanpa tawar-manawar

Yang kutahu,
Azazil tak pernah berhianat
Azazil diciptakan dari api suci sammun
Dia adalah imam seluruh Malaikat
Setiap helaan nafas dan dzikirnya hanya untuk satu Tuhan

Yang kutahu,
Azazil tak pernah berhianat
Azazil memutari setiap ujung langit dan bumi atas perintahNya
Kemudian diturunkan ke jabal muntar, tubuh malaikatnya berubah menjadi iblis
Karena ketidak patuhannya sujut pada Adam


Yang kutahu,
Azazil tak pernah berhianat
Azazil adalah monoteis sejati yang menolak sujut pada selain Allah


Rujukan :
1.      *Kutipan Puisi Widi Respati dalam Facebooknya
2.      Azazil : Sayap-sayap Kehidupan http://siradel.blogspot.co.id/2010/09/azazil.html
3.      Illustrasi gambar : Azazil, https://www.google.co.id/imgres?imgurl=https%3A%2F%2Fi.ytimg.com%2Fvi%2Fl9-mJLqlq74%2Fmaxresdefault.jpg&imgrefurl=https%3A%2F%2Fwww.youtube.com%2Fwatch%3Fv%3Dl9-mJLqlq74&docid=OQ1XeUrKemxf0M&tbnid=jT0fXsg_ZL8_4M%3A&vet=1&w=1280&h=720&hl=en&noj=1&bih=613&biw=1366&q=aZAZIL&ved=0ahUKEwj5ypi-5f_QAhWJwI8KHd01CqQQMwhgKCIwIg&iact=mrc&uact=8




LOVE on you



It’s not fair
If only I can see rainbow after the rain with thunderbolt and
Nightmare red devil eyes from your own
Like kiss from a hard bloody marry untouchable lips
And should pass when come alone dawn

It’s not fair
When you always close the book before finish
Disappear with a whole yours
Like dust on dust in my regardless clench
And wear off as uncharged flashlight

It’s not fair
When I just weave the words and do nothing
Only see the cloud, the wind, the rain
Like night without wolf howling and owl snoring
And kill my own heart

And I hate you
With your black frozen hollow, in your selfish childish misery… always
Walk out the quarrel on fracas, with unfinished word ending… always
Leave a quarter moon which an vicinity loss, with knife embed on it heart
And always…..

But, still I love you, more and more. Everyday
Although this love have cured our emptiness... bound our wound
Although this love make our world so colourful
We can always find a clever way in doing something... in amazing surprise 

So strangers 
In one time
happy and sad, meet and leave, smile and tears, lough and cry, hug and waive, appear and disappear
get and lose at least.






Kamis, 15 Desember 2016

Sang Bangsawan

Aku sering mendengar kisah tentang seorang pesakitan yang menghabiskan hidupnya dibalik jeruji besi penjara tanpa tau kapan ia akan dibebaskan. Setiap orang yang kutemui baik itu yang lewat depan rumahku seperti penjual baju keliling, penjual soba keliling, dan tukang sol sepatu keliling, atau yang berpapasan denganku di jalan sebut saja tetangga dari kampung sebelah, saudara dari kawanku, dan mungkin guru dari anak-anakku, atau yang dengan sengaja mencariku entah itu paman dari teman anakku, bapak dari salah seorang muridku, atau sepupu dari ibu guru besarku, mereka selalu bercerita tentang seorang pesakitan itu yang menghabiskan hidupnya dibalik jeruji besi penjara tanpa tau kapan ia akan dibebaskan. Kadang mereka bercerita dengan mata berkaca-kaca dan kemudian lalu menangis sesenggukan seperti 1)kesedihan purba yang teramat dalam, kadang pula mereka bercerita dengan wajah yang tegang dan kemudian mengakhiri dengan nafas yang terengah-engah seperti ketakutan yang beribu abad tak terpecahkan, tak jarang pula mereka bercerita dengan kaki gemetar dan tangan menggenggam jemariku dan kemudian terdiam sesaat dengan senyuman seperti menyimpan harapan bahwa pasti ada pelangi setelah hujan.

Betapa luar biasa cerita yang mereka bawa, tidak hanya sampai ke telingaku tapi juga mataku seolah menyaksikan sendiri deritanya, jantungku berdebar setiap kali mendengar kisahnya yang pilu, dengan kesedihan purba yang teramat dalam. Sampai membulatkan tekatku untuk mengemas bekal dan membawa tubuhku menelusuri anak sungai yang meliuk, kelakar bambu, liar mangrove, cericit camar, gumpalan gemawan, deru gulungan ombak, rona merah senja, dan bulan mati. Untuk menemuinya. Ya, aku meninggalkan kampung halamanku untuk menemuinya, laki-laki pesakitan yang menghabiskan hidupnya dibalik jeruji besi penjara tanpa tau kapan ia akan dibebaskan. Sungguh aku tidak sabar ingin segera menjumpainya, memandangnya, mendengarkan kisahnya langsung dari mulutnya, karena selama ini cerita-cerita mereka hanyalah cerita dari sipir penjara saja yang kebetulan mereka melintas di depan penjara itu dan tak sengaja ngobrol dengan si sipir. Aku telah melalui tiga bulan mati, tiga samudra kering, dan 3 gundukan tanah basah hingga kakiku melepuh, sampai akhirnya aku berdiri disini didepan sebuah kastil yang sangat indah, bukan penjara seperti yang mereka ceritakan.

Aku mengetuk pintunya yang luar biasa besar dengan ornamen kepala singa, tiga kali, kemudian keluarlah seorang laki-laki paruh baya, dari gurat wajahnya masih tersisa ketampanan masa lalunya, ah... apakah ini si sipir itu?
"Ada yang bisa saya bantu, saudaraku?" si sipir itu membuka suara dan kujawab dengan sangat sopan
"Maaf, perkenalkan saya Josafat, saya dari desa pesisir, saya ingin bertemu dengan....." belum selesai aku bicara si sipir lalu memotongnya
"Tuan Williart? silahkan masuk"
"Tuan?"
Aku mengikutinya dengan tanda tanya sangat besar, Tuan?, baru kulangkahkan kakiku 5 kali aku dibuat terpana dengan isi kastil ini, patung tembikar singa pada kedua sisi tangga yang meliuk-liuk, lukisan rona merah senja dengan siluet burung camar dan liukan pohon kelapanya pada dinding sebelah kanan, lukisan 2 orang penari pada dinding sebelah kiri, di tengah ruang terdapat meja marmer bulat dengan segerombol mawar putih yang masih sangat segar - tampaknya si sipir rajin menggantinya mungkin setiap 1 minggu sekali, diatas meja menggantung lampu kristal besar sekali sangat cocok dengan ruangan yang besar ini. Si sipir mempersilahkanku duduk di sofa kulit berwarna merah maroon di sudut ruangan, dan meninggalkanku, kupikir dia akan memanggil laki-laki pesakitan itu, yang dia panggil Tuan Williart, ternyata dia kembali dengan nampan berisi teko dan 2 cangkir. Dia duduk di sofa singgel disebelahku, menuangkan air dari teko kedalam cangkir, kemudian menyodorkannya padaku
"Silahkan, anda pasti lelah setelah perjalanan jauh"
"Trimakasih, eeh... maaf dimana saya bisa berjumpa dengan Tuan anda?"
Tuan Williart masih istirahat, barangkali ada yang bisa saya bantu Tuan Josafat?"
Aku makin bingung saja, Tuan masih istirahat? semakin aneh saja disini
"Saya banyak mendengar cerita dari orang-orang tentang seorang pesakitan yang menghabiskan hidupnya dibalik jeruji besi penjara tanpa tau kapan ia akan dibebaskan, mereka bercerita dengan mata berkaca-kaca dan kemudian lalu menangis sesenggukan seperti kesedihan purba yang teramat dalam, ee... maaf...anda?"
"Panggil saja saya Demetrie. Apa yang anda dengar dari orang-orang itu mungkin berlebihan atau mungkin tidak benar"
Aku hampir menyemburkan teh jeruk dalam mulutku, mataku terbelalak, apa maksudnya dengan "mungkin itu tidak benar"
"Lebih dari 20 tahun saya mendampingi Tuan Williart. Saya tidak tahu hati seperti apa yang dimilikinya, bibirnya bisa tersenyum tapi sesungguhnya dia menangis, matanya terbuka melihat tapi sesungguhnya hanya tatapan kosong tanpa cahaya..."
Tiba-tiba dia terhenti suara keras jam ding dong yang berbunyi 10 kali, ditelingaku terdengar sangat angker saja suara jam ding dong itu, menggema di ruang yang sangat luas ini
"Saya rasa anda tahu maksud saya datang kemari, Demitrie" kataku menegaskan
"Tuan Williart hidup sangat mapan sebagai seorang bangsawan, kastil ini adalah miliknya, tp beliau hidup sebatang kara, eeh... maksud saya, Tuan Williart tidak mempunyai istri atau anak seorangpun, beliau hanya ditemani seorang perempuan untuk mengurus kebutuhan hidupnya sehari-hari. Saya hanya datang sesekali saja untuk melihat keadaannya, kadang-kadang beliau bercerita tentang cintanya pada seorang gadis bermata sipit yang tak bisa dinikahinya, kadang pula beliau mengutarakan kerinduannya pada celoteh mahluk kecil yang mungkin bisa menggaduhkan kastil ini. Keberadaannya di kastil ini adalah sebuah jebakan, Tuan Williart dijebak dengan sebuah tipu daya yang dahyat dan sangat halus, beliau merasa menjadi laki-laki terbodoh di seluruh jagad raya ini....."
Si sipir itu berhenti bercerita, tangannya menyeka matanya yang basah. Demitrie menangis? Dia pasti sangat mencintai tuannya sehingga simpati untuk tuannya begitu dalam.
"Tuan Williart pernah berkata kepada saya bahwa, beliau akan memenjarakan dirinya disini sampai ajal mengangkatnya, hanya ajal yang bisa mengeluarkannya dari kastil ini... Maaf Tuan Josafat, sudah sangat larut, anda pasti lelah, mari saya antar ke kamar anda"
Kata si sipir itu kemudian dan berdiri berjalan membelakangiku, aku berjalan mengikutinya menuju lorong yang panjang, penuh dengan lampu tempel dan lukisan di kanan kiri dindingnya, kemudian dia membuka sebuah pintu yang berada di ujung lorong dan mempersilahkanku masuk dan meninggalkanku dalam kamar yang besar kuno antik.

Aku seperti berada di kamar seorang bangsawan atau pangeran atau keluarga kerajaan. Kasurnya yang besar sangat empuk dan hangat kurasakan, berbeda dengan kasur yang selama ini aku tiduri, tipis, keras dan dingin, kadang ku tambah dengan jerami kering di bawahnya agar terasa sedikit empuk dan hangat. Aku berjalan mengelilingi kamar yang mewah ini, ada rak buku kecil di sisi kanannya dengan sofa empuk warna maroon dan lampu yang menyerupai lilin pada meja kecil samping sofa, Williart pasti suka membaca. Puas menikmati kamar ini, dan mataku tidak kunjung mengantuk, aku keluar kamar dan berjalan-jalan dilorong melihat berbagai lukisan, kuikuti lorong yang berbelok kekiri, lorong yang gelap tanpa lampu tapi diujung sana terdapat sebuah lukisan laki-laki bangsawan berkumis tipis, aku segera mendekatinya kuperhatikan raut wajahnya, seperti wajah si sipir tadi, tapi mengenakan baju bangsawan dan terlihat lebih gagah, dibawah lukisan terdapat tulisan:
2)"Kesedihan adalah takdirku, penderitaan telah menghabiskan masa mudaku. Aku duduk dalam kegelapan, berselimut debu, dan telah kuucapkan selamat tinggal pada smua kenikmatan dunia yang menggoda"
-Duke Demetrius leroy Williart

"Ya Tuhan... "
Aku terduduk lemas membaca tulisan itu. Si sipir dan Williart adalah orang yang sama, dan seorang pesakitan itu adalah seorang bangsawan, pemilik kastil mewah ini
"Ya Tuhanku..."
Mataku basah, airnya berlinang deras, bibirku bergetar, jantungku berdetak tak beraturan, aku bersimpuh didepan lukisan bangsawan itu
"Ya Tuhanku..."


Rujukan:
1) Dari “Sepotong Senja Untuk Pacarku”, Seno Gumira Ajidharma
2) Dari "Lala Majnun", Syaikh Nizami, hal 62, Navila:2005
Illustrasi gambar : Sir Thomas Stamford Bingley Raffles, Pendiri Singapura

Rabu, 14 Desember 2016

Ambilah...


Kenapa rasanya sakit sekali hatiku. Mataku tak sempat kering, bibirku tak sempat mengatup...Cinta ini begitu nyata...Cinta ini begitu luka.
Aku seperti menusukkan belati di dadaku, merobeknya, membelahnya, memotong sumur darahnya, mengambilnya, menarik keluar dari pusarnya, sehingga darahnya semburat keluar berhamburan seperti gelombang tsunami dari letusan krakatau beberapa dekade silam. Aku seperti tenggelam dalam samudra laya yang kedalamannya tak terhingga, kakiku diberi beban berton-ton sehingga tubuhku tenggelam semakin dalam, tangan dan tubuhkuku dirantai, sehingga aku tidak bisa bergerak sama sekali, dan hanya pasrah saja ketika aku tenggelam semakin dalam. Air ini mulai keruh tak beraturan, mataku mulai perih, telingaku sudah tak bisa mendengar, kepalaku mulai pening, dadaku mulai sesak, tubuhku mulai panas, cacing-cacing dalam perutku seperti ingin keluar saja dari dalam perutku, kuhirup air dan kutelan air sebanyak-banyaknya supaya isi perutku tetap ditempatnya.

Kenapa sakit sekali rasanya hatiku... tanganku gemetar memegang dada kiriku. Ooh kau yang ada didalam sana...bukankah tugasmu hanya memompa darah untuk bisa mengalir ke seluruh tubuh? Kau tak perlu merasakan apa-apa, tak perlu ambil bagian mengenai rasa, jangan mengambil pekerjaan lain, tugasmu hanya memompa darah. Katakan pada saudaramu yang diatas sana untuk memerintahkan syaraf mata supaya berhenti meneteskan airnya, perintahkan kepada syaraf bibir supaya berhenti membuat gerakan yang tidak penting dan mengatuplah saja. Bukankah kepalamu mulai berat? bukankah matamu mulai berkunang-kunang? bukankah hidungmu sudah penuh dengan ingus dan tak bisa untuk bernafas lagi? Wahai kau yang ada didalam dada kiriku, katakan pada saudramu yang ada diatas sana untuk memberikan perintah, sebelum aku benar-benar melakukan seperti yang dia dengungkan. Sebelum kuambil senapan yang lama kusimpan dan kuledakkan di kepalaku tepat pada dirinya, karena aku mulai takut... tidak cukup tegar untuk merasakan sakit yang teramat dalam ini, tidak cukup tangguh untuk menghadapi luka yang teramat nyata ini.

Kenapa sakit sekali hatiku rasanya...aku tak bisa lagi merasakan yang lain. Bulan sudah menyapaku empat kali dan mataharipun tersenyum padaku lima kali, tapi aku masih saja acuh dan asik meringkuk di sudut kamar gelap dan pengap ini. Semua jadi tidak penting, semua jadi tidak berarti, semua jadi hitam. Hey...aku melihat ada sesuatu yang berkilau berserakan disudut sana, aku menghampirinya, oow rupanya pecahan kaca yang aku hantam dengan tanganku kemarin, ku pegang tanganku tak terasa sakit walaupun banyak darah kering yang masih menempel, kenapa aku tidak merasakan sakit? ku ambil benda berkilau itu kugoreskan pada telapak tangan kiriku-tidak terasa sakit, kusayatkan pada lenganku-tidak terasa sakit, kurobek pegelanganku kuambil pipa darahnya dan kupotong hingga darahnya berhamburan kesegala arah-juga tidak terasa sakit, sekali lagi, ku tancapkan pada dada kiriku dalam dan dalam, ku sayat ku gorok dan ku potong ku ambil hatiku ia berdenyut-denyut ditanganku...kenapa tak terasa sakit sama sekali. Apa ini? apakah ini hanya replika? Hati buatan yang sengaja ditanam ditubuhku? yang hanya difungsikan memompa darah ditubuhku? lalu kemana hatiku yang sesungguhnya? lalu pada bagian mana yang aku rasakan sakit yang luar biasa ini?

"Hatimu disini, bersamaku" sayup-sayup kudengar lelaki tegap berdiri didepanku membawa kotak hitam pandora. Ah... mungkin hanya ilusi saja, dia hanya bayangan saja...namun demikian walau dia hanya ilusi walau dia hanya bayangan ku gapai tangannya ketika diulurkan padaku, kurengkuh tubuhnya ketika didekapkan padaku, kucium bibirnya ketika dicercapkan padaku. Tapi, kenapa aku terasa dingin sekali, tubuhku menggigil, tenggorokanku tersangkut, dan sedetik kemudian semua menjadi gelap. Gelap. Hilang




*Illustrasi gambar : https://www.pinterest.com/ewayea/quotes-broken-hearts-bleeding-hearts-bleating-hear/


Minggu, 30 Oktober 2016

Sesak Dadaku


Lalu, kau temukan diriku adalah sepasang sepatu lusuh dengan sol yg terbuka,
Atau sebuah payung yang patah jerujinya dan robek kain penutupnya,
Atau seikat mawar putih yang telah rontok kelopaknya dan menyisakan duri-duri di tangkainya,
Atau seorang pincang dengan baju hitam panjang diantara beribu manusia berbusana putih.

Dan,  tiba-tiba semua berbalik menyerangku,
Dinding-dinding, jendela, kusen kayu, daun pintu,  atap genting, bahkan ubin marmer ini,
Menjadi hidup,  bermata, bertelinga, bermulut,  dan bergerak,
Mengangkat tangannya, menghunuskan belati yang terselip diantara jemarinya,
Menancapkannya tepat di jantungku.

Apa yang kau lihat kini?
Mata teduh itu telah tumbang menyisakan nanar,
Lembut hati itu telah sirna meninggalkan lubang nganga,
Senyum sabit itu telah tenggelam bersama guratan galaxy,
Tegak langkah itu telah roboh dihantam deru gunungan ombak.

*( .... ini bukan puisi
sebab, puisi harus ditulis dengan hati, dengan nadi, dengan darah,
sedang aku...
tak mungkin menulisnya,
sebab tlah kau robek nadiku, kau sayat aortaku,
kau ambil darahku dan tak sisa lagi padaku.
Mr. Agus Sunjata)

Rujukan:
1) * Potongan Puisi Mr.  Agus Sunjata
2) ilustrasi gambar orang tenggelam Sutterstock 


Senin, 10 Oktober 2016

Samudra Mengering



Sore ini ditaman yang riuh ini, diatara cyber yang berhamburan, dan sport line yang berserakan, aku berdiri di antara dua cantik 1)dendrobium phalaenopsis dan 2)phalaenopsis amabilis menjulang menempel pada pohon akasia disudut taman. Aku melihat sebuah bangku panjang penuh dengan daun berwarna kuning kecoklatan dan seorang laki-laki paruh baya berkacamata minus sedang membaca (mungkin) novel duduk di bangku itu. T shirt putihnya, celana panjangnya, jam tangannya dan sepatu sneakersnya terlihat begitu rapi dan serasi, sepertinya (kelihatannya) hidupnya juga sangat rapi. Aku melangkah menghampirinya.
"George, sudah lama menunggu?" Sapaku.
Laki-laki paruh baya itu menghentikan membacanya, menoleh kepadaku dan...
"Kate, 15 minutes, where have you been so long? I can't wait to meet you".
Aku tersenyum saja, mendekat, mencium keningnya, dan duduk disamping kirinya. Aku mengambil buku yg dibacanya, kututup-kuletakkan disampingku, kuraih tangan kirinya-kugenggam dan kucium. Matanya berbinar, bibirnya menyunggingkan senyuman, tangan kanannya meraih tanganku dan menggenggamnya, sebelumnya memegang kepalaku dan mencium keningku.
"Kamu selalu bisa melumerkan hatiku kate, dalam suasana apapun" ucapnya lembut dan kubalas dengan kalimat sapu jagat
"aku mencintaimu george, dalam suasana apapun" dan kemudian dia memelukku erat, erat sekali seperti tak mau lagi dilepaskan.

Laki-laki itu menghabiskan setengah dari hidupnya berkubang dalam lumpur deritanya, sendiri, tanpa harapan, tanpa cinta, satu-satunya sandaran dan pegangan hidupnyapun telah dihancurkan. Sampai-sampai dia lupa bagaimana rasanya cinta, bagaimana rasanya dicintai dan mencintai, yang dia lakukan hanyalah memenuhi kebutuhan saja: ketika lapar dia akan makan, ketika haus dia akan minum, ketika mengantuk dia akan tidur, dan begitu setiap hari. Dia terbiasa makan makanan busuk dan menjijikkan, dia terbiasa minum air comberan, dia terbiasa tidur di kandang babi yang kotor, dia terbiasa melumuri tubuhnya dengan kotoran, bercengkrama dengan bangkai-yang seringkali di makannya juga. Hidup dalam gorong-gorong yang entah dimana ujungnya, tanpa cahaya, sedikit udara, dan bau lembab yang amis. Hidup tanpa jiwa, tanpa roh, seperti mayat hidup. Bagaimana kau atau kalian akan menjalani hidup seperti dia, tanpa harapan dan cinta? tanpa sandaran dan pegangan hidup?.

"Beruntung aku menemukanmu kate, you light up my life kate, you give me light to guide me not stumbling, it helps me to passing through my darkness world" itu kalimat yang slalu dia ucapkan, lebih tepatnya jawaban tanpa pertanyaan.
"George, kalau aku harus mengulang hidupku lagi, aku pasti memilihmu, untuk mendampingimu menghabiskan hidupku bersamamu, melahirkan anak-anakmu, membesarkan mereka, melihat mereka tumbuh"
George memandangku lama sekali, matanya berkaca-kaca, kemudian titik-titik bening jatuh dari matanya yang lelah, kemudian dia mmemelukku erat, erat sekali
"Aku bahagia kate, sangat bahagia. Aku tidak pernah berphikir akan menemukan cinta sejatiku disini, disaat genangan lumpur ini mencapai leherku, hampir benar-benar menenggelamkanku. Jika Tuhan harus mengambil nyawaku sekarang aku iklas, setidaknya aku bisa merasakan bagaimana cinta itu, cinta yang sesungguhnya, cintamu. Aku akan mati dengan senyuman, dalam pelukanmu, dalam mata teduhmu, diantara damai senyummu. Tapi aku bahagia".
Samudra saja tidak mampu menampung banyaknya air mata dari pecinta yang merana meregang nyawa, yang kehilangan segalanya, demi cinta. Langit pun tak sanggup menanggung duka nestapa para pelaku cinta yang tulang-belulangnya kehilangan tonggak penyangga jiwanya. Bahkan bumipun tak kuasa menahan gelora asmara para deritawan-deritawan cinta yang hatinya, jantungnya, dan jiwanya tertancap ujung tombak, hancur, dan terrenggut atasnya, hingga menyisakan lubang nanar dengan warna merah yang sangat khas berbau anyir. Darah.

Pembuktian atas apa yang yang KAU minta? Apakah kami harus membalikkan bumiMu ini? Apakah kami harus mengeringkan samudraMu ini? Apakah kami harus membelah Matahari dan BulanMu menjadi berkeping-keping?. Lihatlah dua fakhir yang menderita atas anugerahMu yang tak terhingga, yang tak sanggup menanggungnya. Duhai... Jangan memberikan apa-apa yang tidak sanggup kami menanggungnya...

Catatan Kaki :
1.      1) dendrobium phalaenopsis: Nama latin Anggrek Larat (berwarna ungu) termasuk satu dari 12 spesies anggrek langka yang dilindungi di Indonesia. Anggrek Larat (Dendrobium phalaenopsis) juga ditetapkan sebagai flora identitas provinsi Maluku.
Selengkapnya : http://www.tipsrawatrumah.com/2015/05/dendrobium-phalaenopsis-anggrek-larat.html
2.         2)phalaenopsis amabilis: Nama latin Anggrek Bulan Bunga Nasional Indonesia.
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/wardhanahendra/kenali-lebih-dekat-phalaenopsis-amabilis-bunga-nasional-indonesia_55107cec813311ca35bc6712
3.   Ilustrasi gambar : http://archive.kaskus.co.id/thread/16550784/0/subhanallah-air-laut-membeku-   di-pakistangan

Jumat, 30 September 2016

Feel the Love



Pernahkah merasakan, menunggu sapa Good morning dengan deg-degan setiap pagi?
Pernahkah merasakan, kalimat I Love You menjadi obat dari segala luka dan duka?
Pernahkah merasakan, ucapan Good night menjadi pelukan terhangat setiap malam?
Pernahkah merasakan, kata Take care begitu menentramkan hati dan membuat selalu menjaga diri?

Semuanya seperti candu, yang ketika tidak terdengar sehari saja seperti serasa sakau.

Pernahkah merasakan, genggaman lunglai yang meluruhkan urat syaraf dengan seketika, dan tiang penopang tubuh ambruk secara bersamaan?
Pernahkah merasakan, sentuhan yang memacu detak jantung dengan resonansi melampaui 80 kali tiap menit dalam hukum pacu?
Pernahkah merasakan, ciuman yang menyumbat aliran darah, serasa tak ada lagi guna setiap kali transfusi pada jenis darah apapun?
Pernahkan merasakan, pelukan yang menghentikan rotasi bumi, bahkan semburat magma dan gulungan tsunami pun tampak anggun dalam diamnya?

Semuanya seperti candu, yang ketika tidak terasa sehari saja seperti sesak nafas.

Suara paraunya
mata teduhnya
bibir lembutnya
tangan mesranya
bahu lapangnya
dan tubuh hangatnya

Ah... Menyerah sajalah
Menyerah pada cinta yang dasyat itu, yang keberadaannya sanggup merubah Neraka menjadi sepotong Syurga
Bahwa ketika bersama, adalah jam yang seharusnya berhenti berdetak, melewati jembatan panjang diatas awan sementara yang lain mematung
Bahwa semua hal tentangnya adalah diatas segalanya yang mampu menyisihkan sekian kontestan rasa, keinginan, dan kebutuhan dari yang sebelumnya ada
Karenanya sebuah halaman kosong menjadi penuh isi hingga akhir dan mencapai anti klimaknya pada titik terakhir.


Ah... Menyerah sajalah
Rasakan saja cinta itu