Masih kudengar tiap detik denting tetesnya
Masih kurasa dingin hembusnya menyergap
Masihkah kau dengar gemuruh parau suaraku dibawah
payung rindu ini?
Hai Neptunus….
Tidakkah lautmu menjadi keruh, karena riak dibawah
kakiku?
Aku selalu
mendengar syair itu ketika hujan turun. Senandung perempuan bersuara sendu yang
tersembunyi kerinduan teramat sangat di dalamnya, nadanya melengking tertahan
seolah biji salak tersangkut di tenggorokannya, lantunan iramanya beraturan
mengikuti derai hujan – kadang ia kencang disertai hembusan angin dan daun yang
berterbangan disana-sini, terkadang mendayu-dayu lesu lunglai letih tak terperi
yang diikuti erangan burung hantu bermata kelam dan cemani yang terseok-seok
mencari butir jagung. Aku selalu mendengar perempuan itu bernyayi ketika hujan
turun, seperti hari ini, ketika hujan pertama kali menginjakkan kakinya di bumi
ini, di negeri yang dikenal dengan sebutan gemah
ripah loh jinawi ini lagi-lagi aku mendengar senandung itu. Senandung
perempuan itu menari-nari ditelingaku, kemudian masuk meresap ke dalam kalbuku
– membuat gerakan tarian “Odette” melompat, meliuk, melambung, mengguling,
menelungkup didalam relungnya menimbulkan getaran yang aneh.
Orang-orang di seluruh negeri ini selalu ramai setiap
kali turun hujan, bukan karena senang atau bahagia karena hujan akhirnya turun
setelah musim panas yang panjang, tapi lebih karena nyanyian legendaris yang
selalu terdengar setiap turun hujan. Perempuan dengan nyanyian sendu itu
berhasil membangunkan semua mata, melebarkan semua telinga, memanjangkan semua
kaki, dan menggetarkan setiap jantung yang berdetak, sosoknya bahkan lebih membuat siapa saja
penasaran daripada gossip artis terlaris abad ini, lebih tenar daripada artis
papan atas sekalipun. Banyak orang
mencari tahu siapa sosok perempuan itu, laki-laki, perempuan, remaja sampai
orang tua, pemuka agama, politikus, dokter, insinyur, tukang batu, pedagang
kaki lima, para pencari berita baik itu dari surat kabar atau televisi berjuang
sekuat tenaga mencari keberadaan perempuan penyenandung lagu dengan suara merdu
itu.
Mereka
berbondong-bondong menunggunya di tebing menjorok tepi pantai, karena ada
seseorang yang bersaksi pernah melihat perempuan yang memakai payung sedang
bernyanyi ditempat itu, jadi seseorang itu berkeyakinan dialah sumber dari
suara yang mendayu-dayu itu. Ketika yang lain bertanya “apakah melihat bagaimana raut wajahnya, cantik ataukah rupawan?”
seseorang itu menjawab “perempuan itu
benyanyi menghadap kearah laut, aku berdiri 9 meter dibelakangnya, yang kulihat
dia memakai baju panjang berlengan panjang berwarna hitam, payungnya juga hitam,
kepalanya ditutup semacam kain panjang yang melebihi panjang tangannya tergerai
tertiup angin, meskipun begitu dia terlihat begitu bercahaya dan begitu cantik
tapi juga begitu muram, rasanya aku telah jatuh cinta padanya, dan ingin sekali
memeluknya”. Sedangkan seseorang yang lain memberi kesaksian “malam itu ketika aku menjala ikan, aku
melihat seseorang berdiri ditepi tebing yang menjorok itu, dia diatas sana,
dari perawakannya aku sangat yakin dia seorang perempuan, bajunya panjang
tergerai dibawa angin, dia bernyanyi dengan sangat merdu, suaranya terdengar
sampai ketempatku menjala ikan, aku tidak bisa melihat jelas rupanya karena
hari gelap, tapi perasaanku mengatakan bahwa dia sangat cantik, sampai-sampai
jantungku berdetak sangat cepat, dan tiba-tiba hujan turun, aku menepikan
perahuku ke tebing untuk mengejarnya tapi kemudian dia berjalan menjauh, dan
menghilang”.
Dan aku adalah
penduduk negeri ini, yang sama seperti penduduk yang lain, aku berjalan
mengikuti kakiku untuk menemukannya. Rupanya kakiku punya rute sendiri, ia
berjalan kearah selatan menyusuri padang rumput dengan pepohonan disana-sini
yang hijau subur dan segar seolah bersyukur akan hujan, ada banyak ternak yang
menjadi penghuni padang rumput itu sapi, biri-biri, kerbau, kuda, dan gembalanya
duduk dibawah pohon memainkan seruling Krisna. Kemudian ia berbelok kearah
barat menuju danau ungu, danau ini cantik, warna ungunya ternyata terpantul
dari Aurora menakjubkan diatasnya, berupa cahaya yang menyala-nyala pada lapisan
langitnya. Ada yang bilang tempat ini dulu kering kerontang, seorang laki-laki nelayan
paruh baya mencabut pohon plum yang menjalar disekitarnya yang telah layu dan hampir
mati, dia melukis menggunakan buah plum pada dinding-dinding tanah yang telah
dikeruknya menjadi ceruk, anak perempuannya sangat menyukai buah plum, ketika
lukisannya hampir selesai turunlah hujan dan seketika air yang memenuhi ceruk itu
merubahnya menjadi danau dan menenggelamkan laki-laki paruh baya itu, warna
ungu danau ini berasal dari buah plum dan airnya yang meluber merupakan
genangan air mata anak perempuan yang meratapi ayah yang dicintainya. Aku
memetik beberapa tangkai dahan plum yang berbuah yang menjalar disekitar danau
ungu, dan tiba-tiba saja aku sudah berada di tepi pantai.
Disini. Kenapa
disini kakiku berhenti? Ditempat dimana aku hanya bisa melihat air sejauh mata
memandang, hanya air….. tapi kenapa perasaanku jadi muram? Pantai ini….. tidak
ada pohon kelapa yang romantis disini, tidak ada kawanan burung camar yg
biasanya terbang rendah, tidak ada pasir putih yang seperti merica, tidak ada
rona merah. Seperti ada burung gagak yang bernyanyi didasar hatiku, tiba-tiba
saja langit menjadi muram, matahari yang lelah terhalau mendung setengahnya,
angin dingin berbisik bahwa akan terjadi sesuatu, leherku kaku lidahku kelu,
tiba-tiba saja hujan turun. Kudengar lagi nyanyian perempuan bersuara sendu
yang tersembunyi kerinduan teramat sangat di dalamnya, nadanya melengking
tertahan seolah biji salak tersangkut di tenggorokannya, lantunan iramanya
beraturan mengikuti derai gelombang hujan. Aku membalikkan badanku melangkah meninggalkan
pantai yang menjadi suram, tiga meter dibelakangku menunggu seorang perempuan
memakai gaun lengan panjang berwarna putih, rambutnya tertutup kain yang lebih
panjang dari tangannya berwarna putih, menutup tubuhnya dengan payung juga
berwarna putih, putih dan bukan hitam seperti yang disaksikan mereka. Dan ya, dia sangat cantik, tubuhnya bercahaya dan dia tersenyum padaku.
Tangan kirinya terjulur seperti meminta sesuatu dan matanya seolah berkata “berikan padaku”, lalu kuberikan saja tangkai plum dan buahnya yang
kupetik di sekitar danau ungu, dia menerimanya dengan senyuman dan mata
berbinar, matanya berkilau seperti berlian lalu kemudian berubah menjadi seperti
genangan danau ungu, kemudian bibirnya bergerak-gerak membunyikan suara “Trimakasih
ayah, aku mencintaimu…..”. Hatiku terasa seperti diiris-iris mendengar suaranya,
seperti mendengar luka teramat dalam dan kesakitan panjang. Tapi dia tersenyum ketika
berlalu meninggalkanku sambil bersenandung
Untuk laki-laki dengan tangan kasar, tangan yang menutup luka-lukaku. Ayah.....
Masih kudengar tiap detik denting tetesnya
Masih kurasa dingin hembusnya menyergap
Masihkah kau dengar gemuruh parau suaraku dibawah
payung rindu ini?
Hai Neptunus….
Tidakkah lautmu menjadi keruh, karena riak dibawah
kakiku?
“
Untuk laki-laki dengan tangan kasar, tangan yang menutup luka-lukaku. Ayah.....







