Jangan buka pintu itu
diluar panas sekali ketika siang meradang,
dinding-dinding meleleh lumer seperti lilin yang terbakar,
pohon-pohon kerontang meranggas seperti berada di gurun sahara,
dan tiba-tiba begitu banyak telinga terbuka lebar dan begitu banyak mata melotot dan begitu banyak mulut jadi usil
Jangan buka pintu itu
diluar panas sekali ketika siang terpapar,
airpun tak lekang oleh teriknya, yang menari memohon hujan
burung bul-bul letih terjatuh dari ujung tiangnya....haus,
dan mendadak kentongan ditabuh berulang-kali.... kebakaran
Jangan buku pintu itu
diluar dingin ketika malam merayap
dengarlah, suara burung hantu yang lapar, matanya mencari makan,
kelelawar mengitar menyapu malam dengan cericitnya..... sumbang,
dan tiba-tiba anjing-anjing hutan menyalak.... mungkinn lapar,
Jangan buka pintu itu
diluar dingin ketika malam terlelap
Lihatlah, pungguk masih saja jongkok dengan malas diujung rembulan... berhayal,
serigala berkejaran, mungkin berlomba menangkap buruan makan malam,
dan masih saja tak mau berhenti anjing-anjing menggonggong, menyalak, membuat keributan, berlomba memakan bangkai saudaranya sendiri,
Lebih baik kubungkus saja pitamku ketika mencapai 41 derajat celcius,
kubenamkan dalam saputangan bulir bening tanda kelemahanku,
kukayuh sengal sesak dadaku menjadi semacam desah raga teratur,
dan, mungkin akan kusulam bibirku menjadi bak artis Hollywood dengan pesona panggung yang siap menyihir penonton dan riuhnya tepukan tangan,
Seperti kata pepatah kuno, "anjing menggonggong-kafilah tetap berlalu".
Mari Kemari, datang... Datanglah Mari Kemari Datanglah Siapa Pun Dirimu. Pengelana, Peragu, dan Pecinta Mari... Kemari Datanglah Tak Penting Kau Percaya atau Tidak… Mari, kemari … Datanglah Kami Bukanlah Caravan Yang Patah Hati... Atau Pintu-Pin tu dari Keputus- asaan, Mari Kemari Datanglah... Meski Kau Telah Jatuh Ribuan Kali, Meski Kau Telah Patahkan Ribuan Janji, Mari Kemari… Datang. . . Datanglah Sekali Lagi… ( Mawlana Jalaludin Rumi )
Rabu, 28 Desember 2016
Anjing Menggonggong
Senin, 19 Desember 2016
AZAZIL
*(... Aku adalah saksi,
Ketika Mikael menghunus pedang halilintar,
Meledakkan langit, menghajar Azazil,
Atas khianatnya pada sang Khalik.
Terlempar dari araz kekekalan abadi,
Membawa kutuknya ke bumi,
Sendiri....)
Yang kutahu,
Azazil tak pernah berhianat
Azazil adalah monoteis yang menolak
sujut pada selain sang Pencipta
Pun ketika Adam diciptakan, dan seluruh
Malaikat sujut padanya
Kepatuhan dan ketaatan tanpa tawar-manawar
Yang kutahu,
Azazil tak pernah berhianat
Azazil diciptakan dari api suci sammun
Dia adalah imam seluruh Malaikat
Setiap helaan nafas dan dzikirnya hanya
untuk satu Tuhan
Yang kutahu,
Azazil tak pernah berhianat
Azazil memutari setiap ujung langit dan
bumi atas perintahNya
Kemudian diturunkan ke jabal muntar,
tubuh malaikatnya berubah menjadi iblis
Karena ketidak patuhannya sujut pada
Adam
Yang kutahu,
Azazil tak pernah berhianat
Azazil adalah monoteis sejati yang
menolak sujut pada selain Allah
Rujukan :
1.
*Kutipan Puisi Widi Respati dalam
Facebooknya
2.
Azazil : Sayap-sayap Kehidupan http://siradel.blogspot.co.id/2010/09/azazil.html
3.
Illustrasi gambar : Azazil, https://www.google.co.id/imgres?imgurl=https%3A%2F%2Fi.ytimg.com%2Fvi%2Fl9-mJLqlq74%2Fmaxresdefault.jpg&imgrefurl=https%3A%2F%2Fwww.youtube.com%2Fwatch%3Fv%3Dl9-mJLqlq74&docid=OQ1XeUrKemxf0M&tbnid=jT0fXsg_ZL8_4M%3A&vet=1&w=1280&h=720&hl=en&noj=1&bih=613&biw=1366&q=aZAZIL&ved=0ahUKEwj5ypi-5f_QAhWJwI8KHd01CqQQMwhgKCIwIg&iact=mrc&uact=8
LOVE on you
It’s not fair
If only I can see
rainbow after the rain with thunderbolt and
Nightmare red devil
eyes from your own
Like kiss from a hard
bloody marry untouchable lips
And should pass
when come alone dawn
It’s not fair
When you always
close the book before finish
Disappear with a
whole yours
Like dust on dust in
my regardless clench
And wear off as uncharged
flashlight
It’s not fair
When I just weave
the words and do nothing
Only see the cloud,
the wind, the rain
Like night without wolf
howling and owl snoring
And kill my own
heart
And I hate you
With your black
frozen hollow, in your selfish childish misery… always
Walk out the quarrel
on fracas, with unfinished word ending… always
Leave a quarter
moon which an vicinity loss, with knife embed on it heart
And always…..
But, still I love
you, more and more. Everyday
Although this love have cured our emptiness... bound our wound
Although this love make our world so colourful
We can always find a clever way in doing something... in amazing surprise
So strangers
In one time
happy and sad, meet and leave, smile and tears, lough and cry, hug and waive, appear and disappear
get and lose at least.
Kamis, 15 Desember 2016
Sang Bangsawan
Aku sering mendengar kisah tentang seorang pesakitan yang menghabiskan
hidupnya dibalik jeruji besi penjara tanpa tau kapan ia akan dibebaskan. Setiap
orang yang kutemui baik itu yang lewat depan rumahku seperti penjual baju
keliling, penjual soba keliling, dan tukang sol sepatu keliling, atau yang
berpapasan denganku di jalan sebut saja tetangga dari kampung sebelah, saudara
dari kawanku, dan mungkin guru dari anak-anakku, atau yang dengan sengaja
mencariku entah itu paman dari teman anakku, bapak dari salah seorang muridku,
atau sepupu dari ibu guru besarku, mereka selalu bercerita tentang seorang
pesakitan itu yang menghabiskan hidupnya dibalik jeruji besi penjara tanpa tau
kapan ia akan dibebaskan. Kadang mereka bercerita dengan mata berkaca-kaca dan
kemudian lalu menangis sesenggukan seperti 1)kesedihan
purba yang teramat dalam, kadang pula mereka bercerita dengan wajah yang tegang
dan kemudian mengakhiri dengan nafas yang terengah-engah seperti ketakutan yang
beribu abad tak terpecahkan, tak jarang pula mereka bercerita dengan kaki
gemetar dan tangan menggenggam jemariku dan kemudian terdiam sesaat dengan
senyuman seperti menyimpan harapan bahwa pasti ada pelangi setelah hujan.
Betapa luar biasa cerita yang mereka bawa, tidak hanya sampai ke
telingaku tapi juga mataku seolah menyaksikan sendiri deritanya, jantungku
berdebar setiap kali mendengar kisahnya yang pilu, dengan kesedihan purba yang
teramat dalam. Sampai membulatkan tekatku untuk mengemas bekal dan membawa
tubuhku menelusuri anak sungai yang meliuk, kelakar bambu, liar mangrove,
cericit camar, gumpalan gemawan, deru gulungan ombak, rona merah senja, dan
bulan mati. Untuk menemuinya. Ya, aku meninggalkan kampung halamanku untuk
menemuinya, laki-laki pesakitan yang menghabiskan hidupnya dibalik jeruji besi
penjara tanpa tau kapan ia akan dibebaskan. Sungguh aku tidak sabar ingin
segera menjumpainya, memandangnya, mendengarkan kisahnya langsung dari
mulutnya, karena selama ini cerita-cerita mereka hanyalah cerita dari sipir
penjara saja yang kebetulan mereka melintas di depan penjara itu dan tak
sengaja ngobrol dengan si sipir. Aku telah melalui tiga bulan mati, tiga samudra
kering, dan 3 gundukan tanah basah hingga kakiku melepuh, sampai akhirnya aku
berdiri disini didepan sebuah kastil yang sangat indah, bukan penjara seperti
yang mereka ceritakan.
Aku mengetuk pintunya yang luar biasa besar dengan ornamen kepala singa,
tiga kali, kemudian keluarlah seorang laki-laki paruh baya, dari gurat wajahnya
masih tersisa ketampanan masa lalunya, ah... apakah ini si sipir itu?
"Ada yang bisa saya bantu, saudaraku?" si sipir itu membuka
suara dan kujawab dengan sangat sopan
"Maaf, perkenalkan saya Josafat, saya dari desa pesisir, saya ingin
bertemu dengan....." belum selesai aku bicara si sipir lalu memotongnya
"Tuan Williart? silahkan masuk"
"Tuan?"
Aku mengikutinya dengan tanda tanya sangat besar, Tuan?, baru
kulangkahkan kakiku 5 kali aku dibuat terpana dengan isi kastil ini, patung
tembikar singa pada kedua sisi tangga yang meliuk-liuk, lukisan rona merah
senja dengan siluet burung camar dan liukan pohon kelapanya pada dinding
sebelah kanan, lukisan 2 orang penari pada dinding sebelah kiri, di tengah
ruang terdapat meja marmer bulat dengan segerombol mawar putih yang masih
sangat segar - tampaknya si sipir rajin menggantinya mungkin setiap 1 minggu
sekali, diatas meja menggantung lampu kristal besar sekali sangat cocok dengan
ruangan yang besar ini. Si sipir mempersilahkanku duduk di sofa kulit berwarna
merah maroon di sudut ruangan, dan meninggalkanku, kupikir dia akan memanggil
laki-laki pesakitan itu, yang dia panggil Tuan Williart, ternyata dia kembali
dengan nampan berisi teko dan 2 cangkir. Dia duduk di sofa singgel disebelahku,
menuangkan air dari teko kedalam cangkir, kemudian menyodorkannya padaku
"Silahkan, anda pasti lelah setelah perjalanan jauh"
"Trimakasih, eeh... maaf dimana saya bisa berjumpa dengan Tuan
anda?"
Tuan Williart masih istirahat, barangkali ada yang bisa saya bantu Tuan
Josafat?"
Aku makin bingung saja, Tuan masih istirahat? semakin aneh saja disini
"Saya banyak mendengar cerita dari orang-orang tentang seorang
pesakitan yang menghabiskan hidupnya dibalik jeruji besi penjara tanpa tau
kapan ia akan dibebaskan, mereka bercerita dengan mata berkaca-kaca dan
kemudian lalu menangis sesenggukan seperti kesedihan purba yang teramat dalam,
ee... maaf...anda?"
"Panggil saja saya Demetrie. Apa yang anda dengar dari orang-orang
itu mungkin berlebihan atau mungkin tidak benar"
Aku hampir menyemburkan teh jeruk dalam mulutku, mataku terbelalak, apa
maksudnya dengan "mungkin itu tidak benar"
"Lebih dari 20 tahun saya mendampingi Tuan Williart. Saya tidak
tahu hati seperti apa yang dimilikinya, bibirnya bisa tersenyum tapi
sesungguhnya dia menangis, matanya terbuka melihat tapi sesungguhnya hanya
tatapan kosong tanpa cahaya..."
Tiba-tiba dia terhenti suara keras jam ding dong yang berbunyi 10 kali,
ditelingaku terdengar sangat angker saja suara jam ding dong itu, menggema di
ruang yang sangat luas ini
"Saya rasa anda tahu maksud saya datang kemari, Demitrie" kataku
menegaskan
"Tuan Williart hidup sangat mapan sebagai seorang bangsawan, kastil
ini adalah miliknya, tp beliau hidup sebatang kara, eeh... maksud saya, Tuan
Williart tidak mempunyai istri atau anak seorangpun, beliau hanya ditemani
seorang perempuan untuk mengurus kebutuhan hidupnya sehari-hari. Saya hanya
datang sesekali saja untuk melihat keadaannya, kadang-kadang beliau bercerita
tentang cintanya pada seorang gadis bermata sipit yang tak bisa dinikahinya,
kadang pula beliau mengutarakan kerinduannya pada celoteh mahluk kecil yang
mungkin bisa menggaduhkan kastil ini. Keberadaannya di kastil ini adalah sebuah
jebakan, Tuan Williart dijebak dengan sebuah tipu daya yang dahyat dan sangat
halus, beliau merasa menjadi laki-laki terbodoh di seluruh jagad raya
ini....."
Si sipir itu berhenti bercerita, tangannya menyeka matanya yang basah.
Demitrie menangis? Dia pasti sangat mencintai tuannya sehingga simpati untuk
tuannya begitu dalam.
"Tuan Williart pernah berkata kepada saya bahwa, beliau akan
memenjarakan dirinya disini sampai ajal mengangkatnya, hanya ajal yang bisa
mengeluarkannya dari kastil ini... Maaf Tuan Josafat, sudah sangat larut, anda pasti lelah, mari saya
antar ke kamar anda"
Kata si sipir itu kemudian dan berdiri berjalan membelakangiku, aku
berjalan mengikutinya menuju lorong yang panjang, penuh dengan lampu tempel dan
lukisan di kanan kiri dindingnya, kemudian dia membuka sebuah pintu yang berada
di ujung lorong dan mempersilahkanku masuk dan meninggalkanku dalam kamar yang
besar kuno antik.
Aku seperti berada di kamar
seorang bangsawan atau pangeran atau keluarga kerajaan. Kasurnya yang besar sangat empuk dan hangat
kurasakan, berbeda dengan kasur yang selama ini aku tiduri, tipis, keras dan
dingin, kadang ku tambah dengan jerami kering di bawahnya agar terasa sedikit
empuk dan hangat. Aku berjalan mengelilingi kamar yang mewah ini, ada rak buku
kecil di sisi kanannya dengan sofa empuk warna maroon dan lampu yang menyerupai
lilin pada meja kecil samping sofa, Williart pasti suka membaca. Puas menikmati
kamar ini, dan mataku tidak kunjung mengantuk, aku keluar kamar dan
berjalan-jalan dilorong melihat berbagai lukisan, kuikuti lorong yang berbelok
kekiri, lorong yang gelap tanpa lampu tapi diujung sana terdapat sebuah lukisan
laki-laki bangsawan berkumis tipis, aku segera mendekatinya kuperhatikan raut
wajahnya, seperti wajah si sipir tadi, tapi mengenakan baju bangsawan dan
terlihat lebih gagah, dibawah lukisan terdapat tulisan:
2)"Kesedihan adalah takdirku, penderitaan telah
menghabiskan masa mudaku. Aku duduk dalam kegelapan, berselimut debu, dan telah
kuucapkan selamat tinggal pada smua kenikmatan dunia yang menggoda"
-Duke Demetrius leroy Williart
"Ya Tuhan... "
Aku terduduk lemas membaca tulisan itu. Si sipir dan Williart adalah orang
yang sama, dan seorang pesakitan itu adalah seorang bangsawan, pemilik kastil
mewah ini
"Ya Tuhanku..."
Mataku basah, airnya berlinang deras, bibirku bergetar, jantungku berdetak
tak beraturan, aku bersimpuh didepan lukisan bangsawan itu
"Ya Tuhanku..."
Rujukan:
1) Dari “Sepotong Senja Untuk Pacarku”, Seno Gumira
Ajidharma
2) Dari "Lala Majnun", Syaikh Nizami, hal 62, Navila:2005
Illustrasi gambar : Sir Thomas Stamford Bingley Raffles, Pendiri SingapuraRabu, 14 Desember 2016
Ambilah...
Kenapa rasanya sakit sekali hatiku. Mataku tak sempat kering, bibirku tak sempat mengatup...Cinta ini begitu nyata...Cinta ini begitu luka.
Aku seperti menusukkan belati di dadaku,
merobeknya, membelahnya, memotong sumur darahnya, mengambilnya, menarik keluar
dari pusarnya, sehingga darahnya semburat keluar berhamburan seperti gelombang
tsunami dari letusan krakatau beberapa dekade silam. Aku seperti tenggelam
dalam samudra laya yang kedalamannya tak terhingga, kakiku diberi beban
berton-ton sehingga tubuhku tenggelam semakin dalam, tangan dan tubuhkuku
dirantai, sehingga aku tidak bisa bergerak sama sekali, dan hanya pasrah saja
ketika aku tenggelam semakin dalam. Air ini mulai keruh tak beraturan, mataku
mulai perih, telingaku sudah tak bisa mendengar, kepalaku mulai pening, dadaku
mulai sesak, tubuhku mulai panas, cacing-cacing dalam perutku seperti ingin
keluar saja dari dalam perutku, kuhirup air dan kutelan air sebanyak-banyaknya
supaya isi perutku tetap ditempatnya.
Kenapa sakit sekali rasanya hatiku...
tanganku gemetar memegang dada kiriku. Ooh kau yang ada didalam sana...bukankah
tugasmu hanya memompa darah untuk bisa mengalir ke seluruh tubuh? Kau tak perlu
merasakan apa-apa, tak perlu ambil bagian mengenai rasa, jangan mengambil
pekerjaan lain, tugasmu hanya memompa darah. Katakan pada saudaramu yang diatas
sana untuk memerintahkan syaraf mata supaya berhenti meneteskan airnya,
perintahkan kepada syaraf bibir supaya berhenti membuat gerakan yang tidak
penting dan mengatuplah saja. Bukankah kepalamu mulai berat? bukankah matamu
mulai berkunang-kunang? bukankah hidungmu sudah penuh dengan ingus dan tak bisa
untuk bernafas lagi? Wahai kau yang ada didalam dada kiriku, katakan pada
saudramu yang ada diatas sana untuk memberikan perintah, sebelum aku benar-benar
melakukan seperti yang dia dengungkan. Sebelum kuambil senapan yang lama
kusimpan dan kuledakkan di kepalaku tepat pada dirinya, karena aku mulai
takut... tidak cukup tegar untuk merasakan sakit yang teramat dalam ini, tidak
cukup tangguh untuk menghadapi luka yang teramat nyata ini.
Kenapa sakit sekali hatiku rasanya...aku
tak bisa lagi merasakan yang lain. Bulan sudah menyapaku empat kali dan
mataharipun tersenyum padaku lima kali, tapi aku masih saja acuh dan asik
meringkuk di sudut kamar gelap dan pengap ini. Semua jadi tidak penting, semua
jadi tidak berarti, semua jadi hitam. Hey...aku melihat ada sesuatu yang
berkilau berserakan disudut sana, aku menghampirinya, oow rupanya pecahan kaca
yang aku hantam dengan tanganku kemarin, ku pegang tanganku tak terasa sakit
walaupun banyak darah kering yang masih menempel, kenapa aku tidak merasakan
sakit? ku ambil benda berkilau itu kugoreskan pada telapak tangan kiriku-tidak
terasa sakit, kusayatkan pada lenganku-tidak terasa sakit, kurobek pegelanganku
kuambil pipa darahnya dan kupotong hingga darahnya berhamburan kesegala
arah-juga tidak terasa sakit, sekali lagi, ku tancapkan pada dada kiriku dalam
dan dalam, ku sayat ku gorok dan ku potong ku ambil hatiku ia berdenyut-denyut
ditanganku...kenapa tak terasa sakit sama sekali. Apa ini? apakah ini hanya
replika? Hati buatan yang sengaja ditanam ditubuhku? yang hanya difungsikan
memompa darah ditubuhku? lalu kemana hatiku yang sesungguhnya? lalu pada bagian
mana yang aku rasakan sakit yang luar biasa ini?
"Hatimu disini, bersamaku"
sayup-sayup kudengar lelaki tegap berdiri didepanku membawa kotak hitam
pandora. Ah... mungkin hanya ilusi saja, dia hanya bayangan saja...namun
demikian walau dia hanya ilusi walau dia hanya bayangan ku gapai tangannya
ketika diulurkan padaku, kurengkuh tubuhnya ketika didekapkan padaku, kucium
bibirnya ketika dicercapkan padaku. Tapi, kenapa aku terasa dingin sekali,
tubuhku menggigil, tenggorokanku tersangkut, dan sedetik kemudian semua menjadi
gelap. Gelap. Hilang
*Illustrasi gambar : https://www.pinterest.com/ewayea/quotes-broken-hearts-bleeding-hearts-bleating-hear/
Minggu, 30 Oktober 2016
Sesak Dadaku
Lalu, kau temukan diriku adalah sepasang sepatu lusuh dengan sol yg terbuka,
Atau sebuah payung yang patah jerujinya dan robek kain penutupnya,
Atau seikat mawar putih yang telah rontok kelopaknya dan menyisakan duri-duri di tangkainya,
Atau seorang pincang dengan baju hitam panjang diantara beribu manusia berbusana putih.
Dan, tiba-tiba semua berbalik menyerangku,
Dinding-dinding, jendela, kusen kayu, daun pintu, atap genting, bahkan ubin marmer ini,
Menjadi hidup, bermata, bertelinga, bermulut, dan bergerak,
Mengangkat tangannya, menghunuskan belati yang terselip diantara jemarinya,
Menancapkannya tepat di jantungku.
Apa yang kau lihat kini?
Mata teduh itu telah tumbang menyisakan nanar,
Lembut hati itu telah sirna meninggalkan lubang nganga,
Senyum sabit itu telah tenggelam bersama guratan galaxy,
Tegak langkah itu telah roboh dihantam deru gunungan ombak.
*( .... ini bukan puisi
sebab, puisi harus ditulis dengan hati, dengan nadi, dengan darah,
sedang aku...
tak mungkin menulisnya,
sebab tlah kau robek nadiku, kau sayat aortaku,
kau ambil darahku dan tak sisa lagi padaku.
Mr. Agus Sunjata)
Rujukan:
1) * Potongan Puisi Mr. Agus Sunjata
2) ilustrasi gambar orang tenggelam Sutterstock
Senin, 10 Oktober 2016
Samudra Mengering
Sore ini ditaman yang riuh ini, diatara cyber yang berhamburan, dan
sport line yang berserakan, aku berdiri di antara dua cantik 1)dendrobium phalaenopsis dan 2)phalaenopsis
amabilis menjulang menempel
pada pohon akasia disudut taman. Aku melihat sebuah bangku panjang penuh dengan
daun berwarna kuning kecoklatan dan seorang laki-laki paruh baya berkacamata
minus sedang membaca (mungkin) novel duduk di bangku itu. T shirt putihnya,
celana panjangnya, jam tangannya dan sepatu sneakersnya terlihat begitu rapi
dan serasi, sepertinya (kelihatannya) hidupnya juga sangat rapi. Aku melangkah
menghampirinya.
"George, sudah lama menunggu?" Sapaku.
Laki-laki paruh baya itu menghentikan membacanya, menoleh kepadaku
dan...
"Kate, 15 minutes, where have you been so long? I can't wait to
meet you".
Aku tersenyum saja, mendekat, mencium keningnya, dan duduk disamping
kirinya. Aku mengambil buku yg dibacanya, kututup-kuletakkan disampingku,
kuraih tangan kirinya-kugenggam dan kucium. Matanya berbinar, bibirnya
menyunggingkan senyuman, tangan kanannya meraih tanganku dan menggenggamnya,
sebelumnya memegang kepalaku dan mencium keningku.
"Kamu selalu bisa melumerkan hatiku kate, dalam suasana
apapun" ucapnya lembut dan kubalas dengan kalimat sapu jagat
"aku mencintaimu george, dalam suasana apapun" dan kemudian
dia memelukku erat, erat sekali seperti tak mau lagi dilepaskan.
Laki-laki itu menghabiskan setengah dari hidupnya berkubang dalam lumpur
deritanya, sendiri, tanpa harapan, tanpa cinta, satu-satunya sandaran dan
pegangan hidupnyapun telah dihancurkan. Sampai-sampai dia lupa bagaimana
rasanya cinta, bagaimana rasanya dicintai dan mencintai, yang dia lakukan
hanyalah memenuhi kebutuhan saja: ketika lapar dia akan makan, ketika haus dia
akan minum, ketika mengantuk dia akan tidur, dan begitu setiap hari. Dia
terbiasa makan makanan busuk dan menjijikkan, dia terbiasa minum air comberan,
dia terbiasa tidur di kandang babi yang kotor, dia terbiasa melumuri tubuhnya
dengan kotoran, bercengkrama dengan bangkai-yang seringkali di makannya juga.
Hidup dalam gorong-gorong yang entah dimana ujungnya, tanpa cahaya, sedikit
udara, dan bau lembab yang amis. Hidup tanpa jiwa, tanpa roh, seperti mayat
hidup. Bagaimana kau atau kalian akan menjalani hidup seperti dia, tanpa
harapan dan cinta? tanpa sandaran dan pegangan hidup?.
"Beruntung aku menemukanmu kate, you light up my life kate, you
give me light to guide me not stumbling, it helps me to passing through my
darkness world" itu kalimat yang slalu dia ucapkan, lebih tepatnya jawaban
tanpa pertanyaan.
"George, kalau aku harus mengulang hidupku lagi, aku pasti
memilihmu, untuk mendampingimu menghabiskan hidupku bersamamu, melahirkan
anak-anakmu, membesarkan mereka, melihat mereka tumbuh"
George memandangku lama sekali, matanya berkaca-kaca, kemudian
titik-titik bening jatuh dari matanya yang lelah, kemudian dia mmemelukku erat,
erat sekali
"Aku bahagia kate, sangat bahagia. Aku tidak pernah berphikir akan
menemukan cinta sejatiku disini, disaat genangan lumpur ini mencapai leherku,
hampir benar-benar menenggelamkanku. Jika Tuhan harus mengambil nyawaku
sekarang aku iklas, setidaknya aku bisa merasakan bagaimana cinta itu, cinta
yang sesungguhnya, cintamu. Aku akan mati dengan senyuman, dalam pelukanmu,
dalam mata teduhmu, diantara damai senyummu. Tapi aku bahagia".
Samudra saja tidak mampu menampung banyaknya air mata dari pecinta yang
merana meregang nyawa, yang kehilangan segalanya, demi cinta. Langit pun tak
sanggup menanggung duka nestapa para pelaku cinta yang tulang-belulangnya
kehilangan tonggak penyangga jiwanya. Bahkan bumipun tak kuasa menahan gelora
asmara para deritawan-deritawan cinta yang hatinya, jantungnya, dan jiwanya
tertancap ujung tombak, hancur, dan terrenggut atasnya, hingga menyisakan
lubang nanar dengan warna merah yang sangat khas berbau anyir. Darah.
Pembuktian atas apa yang yang KAU minta? Apakah kami harus membalikkan
bumiMu ini? Apakah kami harus mengeringkan samudraMu ini? Apakah kami harus
membelah Matahari dan BulanMu menjadi berkeping-keping?. Lihatlah dua fakhir yang
menderita atas anugerahMu yang tak terhingga, yang tak sanggup menanggungnya. Duhai...
Jangan memberikan apa-apa yang tidak sanggup kami menanggungnya...
Catatan Kaki :
1. 1) dendrobium phalaenopsis: Nama latin Anggrek Larat (berwarna ungu) termasuk satu dari 12
spesies anggrek langka yang dilindungi di Indonesia. Anggrek Larat (Dendrobium
phalaenopsis) juga ditetapkan sebagai flora identitas provinsi Maluku.
Selengkapnya : http://www.tipsrawatrumah.com/2015/05/dendrobium-phalaenopsis-anggrek-larat.html
2.
2)phalaenopsis amabilis:
Nama
latin Anggrek Bulan Bunga Nasional Indonesia.
Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/wardhanahendra/kenali-lebih-dekat-phalaenopsis-amabilis-bunga-nasional-indonesia_55107cec813311ca35bc6712
3. Ilustrasi gambar : http://archive.kaskus.co.id/thread/16550784/0/subhanallah-air-laut-membeku- di-pakistanganSelengkapnya : http://www.kompasiana.com/wardhanahendra/kenali-lebih-dekat-phalaenopsis-amabilis-bunga-nasional-indonesia_55107cec813311ca35bc6712
Langganan:
Postingan (Atom)






