Rabu, 14 Desember 2016

Ambilah...


Kenapa rasanya sakit sekali hatiku. Mataku tak sempat kering, bibirku tak sempat mengatup...Cinta ini begitu nyata...Cinta ini begitu luka.
Aku seperti menusukkan belati di dadaku, merobeknya, membelahnya, memotong sumur darahnya, mengambilnya, menarik keluar dari pusarnya, sehingga darahnya semburat keluar berhamburan seperti gelombang tsunami dari letusan krakatau beberapa dekade silam. Aku seperti tenggelam dalam samudra laya yang kedalamannya tak terhingga, kakiku diberi beban berton-ton sehingga tubuhku tenggelam semakin dalam, tangan dan tubuhkuku dirantai, sehingga aku tidak bisa bergerak sama sekali, dan hanya pasrah saja ketika aku tenggelam semakin dalam. Air ini mulai keruh tak beraturan, mataku mulai perih, telingaku sudah tak bisa mendengar, kepalaku mulai pening, dadaku mulai sesak, tubuhku mulai panas, cacing-cacing dalam perutku seperti ingin keluar saja dari dalam perutku, kuhirup air dan kutelan air sebanyak-banyaknya supaya isi perutku tetap ditempatnya.

Kenapa sakit sekali rasanya hatiku... tanganku gemetar memegang dada kiriku. Ooh kau yang ada didalam sana...bukankah tugasmu hanya memompa darah untuk bisa mengalir ke seluruh tubuh? Kau tak perlu merasakan apa-apa, tak perlu ambil bagian mengenai rasa, jangan mengambil pekerjaan lain, tugasmu hanya memompa darah. Katakan pada saudaramu yang diatas sana untuk memerintahkan syaraf mata supaya berhenti meneteskan airnya, perintahkan kepada syaraf bibir supaya berhenti membuat gerakan yang tidak penting dan mengatuplah saja. Bukankah kepalamu mulai berat? bukankah matamu mulai berkunang-kunang? bukankah hidungmu sudah penuh dengan ingus dan tak bisa untuk bernafas lagi? Wahai kau yang ada didalam dada kiriku, katakan pada saudramu yang ada diatas sana untuk memberikan perintah, sebelum aku benar-benar melakukan seperti yang dia dengungkan. Sebelum kuambil senapan yang lama kusimpan dan kuledakkan di kepalaku tepat pada dirinya, karena aku mulai takut... tidak cukup tegar untuk merasakan sakit yang teramat dalam ini, tidak cukup tangguh untuk menghadapi luka yang teramat nyata ini.

Kenapa sakit sekali hatiku rasanya...aku tak bisa lagi merasakan yang lain. Bulan sudah menyapaku empat kali dan mataharipun tersenyum padaku lima kali, tapi aku masih saja acuh dan asik meringkuk di sudut kamar gelap dan pengap ini. Semua jadi tidak penting, semua jadi tidak berarti, semua jadi hitam. Hey...aku melihat ada sesuatu yang berkilau berserakan disudut sana, aku menghampirinya, oow rupanya pecahan kaca yang aku hantam dengan tanganku kemarin, ku pegang tanganku tak terasa sakit walaupun banyak darah kering yang masih menempel, kenapa aku tidak merasakan sakit? ku ambil benda berkilau itu kugoreskan pada telapak tangan kiriku-tidak terasa sakit, kusayatkan pada lenganku-tidak terasa sakit, kurobek pegelanganku kuambil pipa darahnya dan kupotong hingga darahnya berhamburan kesegala arah-juga tidak terasa sakit, sekali lagi, ku tancapkan pada dada kiriku dalam dan dalam, ku sayat ku gorok dan ku potong ku ambil hatiku ia berdenyut-denyut ditanganku...kenapa tak terasa sakit sama sekali. Apa ini? apakah ini hanya replika? Hati buatan yang sengaja ditanam ditubuhku? yang hanya difungsikan memompa darah ditubuhku? lalu kemana hatiku yang sesungguhnya? lalu pada bagian mana yang aku rasakan sakit yang luar biasa ini?

"Hatimu disini, bersamaku" sayup-sayup kudengar lelaki tegap berdiri didepanku membawa kotak hitam pandora. Ah... mungkin hanya ilusi saja, dia hanya bayangan saja...namun demikian walau dia hanya ilusi walau dia hanya bayangan ku gapai tangannya ketika diulurkan padaku, kurengkuh tubuhnya ketika didekapkan padaku, kucium bibirnya ketika dicercapkan padaku. Tapi, kenapa aku terasa dingin sekali, tubuhku menggigil, tenggorokanku tersangkut, dan sedetik kemudian semua menjadi gelap. Gelap. Hilang




*Illustrasi gambar : https://www.pinterest.com/ewayea/quotes-broken-hearts-bleeding-hearts-bleating-hear/


1 komentar: