Aku sering mendengar kisah tentang seorang pesakitan yang menghabiskan
hidupnya dibalik jeruji besi penjara tanpa tau kapan ia akan dibebaskan. Setiap
orang yang kutemui baik itu yang lewat depan rumahku seperti penjual baju
keliling, penjual soba keliling, dan tukang sol sepatu keliling, atau yang
berpapasan denganku di jalan sebut saja tetangga dari kampung sebelah, saudara
dari kawanku, dan mungkin guru dari anak-anakku, atau yang dengan sengaja
mencariku entah itu paman dari teman anakku, bapak dari salah seorang muridku,
atau sepupu dari ibu guru besarku, mereka selalu bercerita tentang seorang
pesakitan itu yang menghabiskan hidupnya dibalik jeruji besi penjara tanpa tau
kapan ia akan dibebaskan. Kadang mereka bercerita dengan mata berkaca-kaca dan
kemudian lalu menangis sesenggukan seperti
1)kesedihan
purba yang teramat dalam, kadang pula mereka bercerita dengan wajah yang tegang
dan kemudian mengakhiri dengan nafas yang terengah-engah seperti ketakutan yang
beribu abad tak terpecahkan, tak jarang pula mereka bercerita dengan kaki
gemetar dan tangan menggenggam jemariku dan kemudian terdiam sesaat dengan
senyuman seperti menyimpan harapan bahwa pasti ada pelangi setelah hujan.
Betapa luar biasa cerita yang mereka bawa, tidak hanya sampai ke
telingaku tapi juga mataku seolah menyaksikan sendiri deritanya, jantungku
berdebar setiap kali mendengar kisahnya yang pilu, dengan kesedihan purba yang
teramat dalam. Sampai membulatkan tekatku untuk mengemas bekal dan membawa
tubuhku menelusuri anak sungai yang meliuk, kelakar bambu, liar mangrove,
cericit camar, gumpalan gemawan, deru gulungan ombak, rona merah senja, dan
bulan mati. Untuk menemuinya. Ya, aku meninggalkan kampung halamanku untuk
menemuinya, laki-laki pesakitan yang menghabiskan hidupnya dibalik jeruji besi
penjara tanpa tau kapan ia akan dibebaskan. Sungguh aku tidak sabar ingin
segera menjumpainya, memandangnya, mendengarkan kisahnya langsung dari
mulutnya, karena selama ini cerita-cerita mereka hanyalah cerita dari sipir
penjara saja yang kebetulan mereka melintas di depan penjara itu dan tak
sengaja ngobrol dengan si sipir. Aku telah melalui tiga bulan mati, tiga samudra
kering, dan 3 gundukan tanah basah hingga kakiku melepuh, sampai akhirnya aku
berdiri disini didepan sebuah kastil yang sangat indah, bukan penjara seperti
yang mereka ceritakan.
Aku mengetuk pintunya yang luar biasa besar dengan ornamen kepala singa,
tiga kali, kemudian keluarlah seorang laki-laki paruh baya, dari gurat wajahnya
masih tersisa ketampanan masa lalunya, ah... apakah ini si sipir itu?
"Ada yang bisa saya bantu, saudaraku?" si sipir itu membuka
suara dan kujawab dengan sangat sopan
"Maaf, perkenalkan saya Josafat, saya dari desa pesisir, saya ingin
bertemu dengan....." belum selesai aku bicara si sipir lalu memotongnya
"Tuan Williart? silahkan masuk"
"Tuan?"
Aku mengikutinya dengan tanda tanya sangat besar, Tuan?, baru
kulangkahkan kakiku 5 kali aku dibuat terpana dengan isi kastil ini, patung
tembikar singa pada kedua sisi tangga yang meliuk-liuk, lukisan rona merah
senja dengan siluet burung camar dan liukan pohon kelapanya pada dinding
sebelah kanan, lukisan 2 orang penari pada dinding sebelah kiri, di tengah
ruang terdapat meja marmer bulat dengan segerombol mawar putih yang masih
sangat segar - tampaknya si sipir rajin menggantinya mungkin setiap 1 minggu
sekali, diatas meja menggantung lampu kristal besar sekali sangat cocok dengan
ruangan yang besar ini. Si sipir mempersilahkanku duduk di sofa kulit berwarna
merah maroon di sudut ruangan, dan meninggalkanku, kupikir dia akan memanggil
laki-laki pesakitan itu, yang dia panggil Tuan Williart, ternyata dia kembali
dengan nampan berisi teko dan 2 cangkir. Dia duduk di sofa singgel disebelahku,
menuangkan air dari teko kedalam cangkir, kemudian menyodorkannya padaku
"Silahkan, anda pasti lelah setelah perjalanan jauh"
"Trimakasih, eeh... maaf dimana saya bisa berjumpa dengan Tuan
anda?"
Tuan Williart masih istirahat, barangkali ada yang bisa saya bantu Tuan
Josafat?"
Aku makin bingung saja, Tuan masih istirahat? semakin aneh saja disini
"Saya banyak mendengar cerita dari orang-orang tentang seorang
pesakitan yang menghabiskan hidupnya dibalik jeruji besi penjara tanpa tau
kapan ia akan dibebaskan, mereka bercerita dengan mata berkaca-kaca dan
kemudian lalu menangis sesenggukan seperti kesedihan purba yang teramat dalam,
ee... maaf...anda?"
"Panggil saja saya Demetrie. Apa yang anda dengar dari orang-orang
itu mungkin berlebihan atau mungkin tidak benar"
Aku hampir menyemburkan teh jeruk dalam mulutku, mataku terbelalak, apa
maksudnya dengan "mungkin itu tidak benar"
"Lebih dari 20 tahun saya mendampingi Tuan Williart. Saya tidak
tahu hati seperti apa yang dimilikinya, bibirnya bisa tersenyum tapi
sesungguhnya dia menangis, matanya terbuka melihat tapi sesungguhnya hanya
tatapan kosong tanpa cahaya..."
Tiba-tiba dia terhenti suara keras jam ding dong yang berbunyi 10 kali,
ditelingaku terdengar sangat angker saja suara jam ding dong itu, menggema di
ruang yang sangat luas ini
"Saya rasa anda tahu maksud saya datang kemari, Demitrie" kataku
menegaskan
"Tuan Williart hidup sangat mapan sebagai seorang bangsawan, kastil
ini adalah miliknya, tp beliau hidup sebatang kara, eeh... maksud saya, Tuan
Williart tidak mempunyai istri atau anak seorangpun, beliau hanya ditemani
seorang perempuan untuk mengurus kebutuhan hidupnya sehari-hari. Saya hanya
datang sesekali saja untuk melihat keadaannya, kadang-kadang beliau bercerita
tentang cintanya pada seorang gadis bermata sipit yang tak bisa dinikahinya,
kadang pula beliau mengutarakan kerinduannya pada celoteh mahluk kecil yang
mungkin bisa menggaduhkan kastil ini. Keberadaannya di kastil ini adalah sebuah
jebakan, Tuan Williart dijebak dengan sebuah tipu daya yang dahyat dan sangat
halus, beliau merasa menjadi laki-laki terbodoh di seluruh jagad raya
ini....."
Si sipir itu berhenti bercerita, tangannya menyeka matanya yang basah.
Demitrie menangis? Dia pasti sangat mencintai tuannya sehingga simpati untuk
tuannya begitu dalam.
"Tuan Williart pernah berkata kepada saya bahwa, beliau akan
memenjarakan dirinya disini sampai ajal mengangkatnya, hanya ajal yang bisa
mengeluarkannya dari kastil ini... Maaf Tuan Josafat, sudah sangat larut, anda pasti lelah, mari saya
antar ke kamar anda"
Kata si sipir itu kemudian dan berdiri berjalan membelakangiku, aku
berjalan mengikutinya menuju lorong yang panjang, penuh dengan lampu tempel dan
lukisan di kanan kiri dindingnya, kemudian dia membuka sebuah pintu yang berada
di ujung lorong dan mempersilahkanku masuk dan meninggalkanku dalam kamar yang
besar kuno antik.
Aku seperti berada di kamar
seorang bangsawan atau pangeran atau keluarga kerajaan. Kasurnya yang besar sangat empuk dan hangat
kurasakan, berbeda dengan kasur yang selama ini aku tiduri, tipis, keras dan
dingin, kadang ku tambah dengan jerami kering di bawahnya agar terasa sedikit
empuk dan hangat. Aku berjalan mengelilingi kamar yang mewah ini, ada rak buku
kecil di sisi kanannya dengan sofa empuk warna maroon dan lampu yang menyerupai
lilin pada meja kecil samping sofa, Williart pasti suka membaca. Puas menikmati
kamar ini, dan mataku tidak kunjung mengantuk, aku keluar kamar dan
berjalan-jalan dilorong melihat berbagai lukisan, kuikuti lorong yang berbelok
kekiri, lorong yang gelap tanpa lampu tapi diujung sana terdapat sebuah lukisan
laki-laki bangsawan berkumis tipis, aku segera mendekatinya kuperhatikan raut
wajahnya, seperti wajah si sipir tadi, tapi mengenakan baju bangsawan dan
terlihat lebih gagah, dibawah lukisan terdapat tulisan:
2)"
Kesedihan adalah takdirku, penderitaan telah
menghabiskan masa mudaku. Aku duduk dalam kegelapan, berselimut debu, dan telah
kuucapkan selamat tinggal pada smua kenikmatan dunia yang menggoda"