Senin, 01 Maret 2021

Bis Transjakarta pukul 7.35

 

Jam ini aku biasa menunggu bis itu disini, didepan Plaza Atrium Senin, lewat didepanku, membawa bidadari ku didalamnya. Aku bisa melihatnya, dia selalu duduk dikursi dekat jendela baris ke tiga dibelakang supir, membiarkan rambutnya tergerai pada bahunya berterbangan tertiup angin jendela, Hey cantik, aku suka melihat wajahmu, matamu yang lebar, senyummu yang indah menawan. Aku sangat suka dan bahagia menikmatinya, seperti memandang danau dengan pepohonan disekitarnya, Ikan-ikan yang sesekali melompat keluar danau seperti memberi salam padaku, damai, itulah dirimu. Udara Jakarta yang sejak tadi panas penuh asap dan berdebu berubah menjadi sejuk dan segar, serasa paru-paruku menjadi baru kembali seperti baru dicuci, tubuhku terasa ringan, kakiku seperti tidak menapak dibumi-melayang... Ah, tapi aku tidak tahu siapa namamu... Aku bahkan tidak mengenalmu. Aku hanya mengagumimu dari jauh, setiap hari, ketika kau lewat disini pukul tujuh lebih tiga puluh lima menit, di dalam bis itu.

  

Seringkali keadaan mencoba menghalangiku untuk sekedar melihat senyumanmu. Asap knalpot yang menghitam yang tiba-tiba menyalipku atau memang berada didepanku, memaksaku untuk menutup mataku, hidungku, mulutku, bahkan seluruh wajahku. Dan sering pula aku mengutuki diriku kenapa tidak kupakai masker saja tadi, bersamaan keluarlah kalimat ajaib dari mulutku "...sial, kampret, babi..." dan teman-temannya...hahahahahahahahaha... Tapi itu semua tidak bisa menghalangiku untuk mencurimu, cantikmu lebih mampu menarik perhatianku, menarikku dan duniaku, kau mampu membunuh semua kampret-kampret dan babi-babi itu. Pasti banyak yang memberitahumu bahwa kau itu sangat cantik bahkan teramat cantik, tahukah kau? Jantungku seperti berhenti berdetak, ketika kau beberapa saat menoleh ke luar jendela bis dan tersenyum, hey bahkan tertawa dan menunjukkan deret gigimu yg lucu seperti kelinci. Entah apa yang ada dipikiranmu saat itu, dan apa yang kau lihat sehingga membuatmu tertawa.

 

Hey nona, apa kau tidak punya teman? Atau mungkin kau tipe orang yang tidak mudah bergaul, tidak suka berbasa-basi dengan orang baru? Aku memperhatikanmu kau selalu duduk sendiri, kau tak pernah ngobrol dengan orang lain, dua hal yang selalu ada pada dirimu: hand set dan buku. Kau selalu mendengarkan musik? musik apa yang kau dengarkan sampai kadang kepalamu manggut-manggut dan berayun-ayun, dan buku itu, sebegitu menariknya kah? sampai kau selalu memandanginya? ah siapa juga yang tahu bahwa kau membacanya bibirmu bahkan tidak komat-kamit tanda kau membacanya. Whatever you are. Kau adalah mood-booster untukku setiap hari, ketika hariku lelah aku hanya akan mengingat senyum menawanmu, mata jelitamu, dan dirimu yang cantik, maka dalam sekejap gairahku akan kembali lagi. Kau lah alasanku untuk bangun pagi, rela berlomba dengan ayam jantan mengejar waktu agar aku bisa melihatmu disini, walau hanya beberapa saat saja.

 

Kadang aku berharap, tiba-tiba bis yang kau naiki bannya meletus, kemudian bis oleng tak terkendali, sang supir Malang menabrakkan bis ke jalur Pedestrian, dan terjadilah kecelakaan kecil (saja), semua penumpang terpaksa turun termasuk kau. Naah, disitulah saya merasa bahagia hahahaha… datang kepadamu sebagai pahlawan yang menyelamatmu, no no no itu terlalu drama. 30 detik, hanya 30 detik aku bisa memandangmu, sebelum lampu merah berubah hijau, sebelum bis yang kau naiki melaju dengan mungkin hanya kecepatan 40 km/jam karena harus berebut jalan dengan kendaraan lain. 30 detik itu mampu membawa hatiku bersamamu, membawa jiwaku hanya bersimpuh diujung bayangmu. Sampai bertemu besok Kembali nona… pukul tujuh lewat tiga puluh lima menit, tetaplah di tempatmu, di kursi sebelah jendela baris ke tiga dibelakang supir.

 


 

Rabu, 01 April 2020

Perempuan berpayung rindu


Masih kudengar tiap detik denting tetesnya
Masih kurasa dingin hembusnya menyergap
Masihkah kau dengar gemuruh parau suaraku dibawah payung rindu ini?
Hai Neptunus….
Tidakkah lautmu menjadi keruh, karena riak dibawah kakiku?

Aku selalu mendengar syair itu ketika hujan turun. Senandung perempuan bersuara sendu yang tersembunyi kerinduan teramat sangat di dalamnya, nadanya melengking tertahan seolah biji salak tersangkut di tenggorokannya, lantunan iramanya beraturan mengikuti derai hujan – kadang ia kencang disertai hembusan angin dan daun yang berterbangan disana-sini, terkadang mendayu-dayu lesu lunglai letih tak terperi yang diikuti erangan burung hantu bermata kelam dan cemani yang terseok-seok mencari butir jagung. Aku selalu mendengar perempuan itu bernyayi ketika hujan turun, seperti hari ini, ketika hujan pertama kali menginjakkan kakinya di bumi ini, di negeri yang dikenal dengan sebutan gemah ripah loh jinawi ini lagi-lagi aku mendengar senandung itu. Senandung perempuan itu menari-nari ditelingaku, kemudian masuk meresap ke dalam kalbuku – membuat gerakan tarian “Odette” melompat, meliuk, melambung, mengguling, menelungkup didalam relungnya menimbulkan getaran yang aneh.
            Orang-orang di seluruh negeri ini selalu ramai setiap kali turun hujan, bukan karena senang atau bahagia karena hujan akhirnya turun setelah musim panas yang panjang, tapi lebih karena nyanyian legendaris yang selalu terdengar setiap turun hujan. Perempuan dengan nyanyian sendu itu berhasil membangunkan semua mata, melebarkan semua telinga, memanjangkan semua kaki, dan menggetarkan setiap jantung yang berdetak,  sosoknya bahkan lebih membuat siapa saja penasaran daripada gossip artis terlaris abad ini, lebih tenar daripada artis papan atas sekalipun.  Banyak orang mencari tahu siapa sosok perempuan itu, laki-laki, perempuan, remaja sampai orang tua, pemuka agama, politikus, dokter, insinyur, tukang batu, pedagang kaki lima, para pencari berita baik itu dari surat kabar atau televisi berjuang sekuat tenaga mencari keberadaan perempuan penyenandung lagu dengan suara merdu itu.
Mereka berbondong-bondong menunggunya di tebing menjorok tepi pantai, karena ada seseorang yang bersaksi pernah melihat perempuan yang memakai payung sedang bernyanyi ditempat itu, jadi seseorang itu berkeyakinan dialah sumber dari suara yang mendayu-dayu itu. Ketika yang lain bertanya “apakah melihat bagaimana raut wajahnya, cantik ataukah rupawan?” seseorang itu menjawab “perempuan itu benyanyi menghadap kearah laut, aku berdiri 9 meter dibelakangnya, yang kulihat dia memakai baju panjang berlengan panjang berwarna hitam, payungnya juga hitam, kepalanya ditutup semacam kain panjang yang melebihi panjang tangannya tergerai tertiup angin, meskipun begitu dia terlihat begitu bercahaya dan begitu cantik tapi juga begitu muram, rasanya aku telah jatuh cinta padanya, dan ingin sekali memeluknya”. Sedangkan seseorang yang lain memberi kesaksian “malam itu ketika aku menjala ikan, aku melihat seseorang berdiri ditepi tebing yang menjorok itu, dia diatas sana, dari perawakannya aku sangat yakin dia seorang perempuan, bajunya panjang tergerai dibawa angin, dia bernyanyi dengan sangat merdu, suaranya terdengar sampai ketempatku menjala ikan, aku tidak bisa melihat jelas rupanya karena hari gelap, tapi perasaanku mengatakan bahwa dia sangat cantik, sampai-sampai jantungku berdetak sangat cepat, dan tiba-tiba hujan turun, aku menepikan perahuku ke tebing untuk mengejarnya tapi kemudian dia berjalan menjauh, dan menghilang”.
Dan aku adalah penduduk negeri ini, yang sama seperti penduduk yang lain, aku berjalan mengikuti kakiku untuk menemukannya. Rupanya kakiku punya rute sendiri, ia berjalan kearah selatan menyusuri padang rumput dengan pepohonan disana-sini yang hijau subur dan segar seolah bersyukur akan hujan, ada banyak ternak yang menjadi penghuni padang rumput itu sapi, biri-biri, kerbau, kuda, dan gembalanya duduk dibawah pohon memainkan seruling Krisna. Kemudian ia berbelok kearah barat menuju danau ungu, danau ini cantik, warna ungunya ternyata terpantul dari Aurora menakjubkan diatasnya, berupa cahaya yang menyala-nyala pada lapisan langitnya. Ada yang bilang tempat ini dulu kering kerontang, seorang laki-laki nelayan paruh baya mencabut pohon plum yang menjalar disekitarnya yang telah layu dan hampir mati, dia melukis menggunakan buah plum pada dinding-dinding tanah yang telah dikeruknya menjadi ceruk, anak perempuannya sangat menyukai buah plum, ketika lukisannya hampir selesai turunlah hujan dan seketika air yang memenuhi ceruk itu merubahnya menjadi danau dan menenggelamkan laki-laki paruh baya itu, warna ungu danau ini berasal dari buah plum dan airnya yang meluber merupakan genangan air mata anak perempuan yang meratapi ayah yang dicintainya. Aku memetik beberapa tangkai dahan plum yang berbuah yang menjalar disekitar danau ungu, dan tiba-tiba saja aku sudah berada di tepi pantai.
Disini. Kenapa disini kakiku berhenti? Ditempat dimana aku hanya bisa melihat air sejauh mata memandang, hanya air….. tapi kenapa perasaanku jadi muram? Pantai ini….. tidak ada pohon kelapa yang romantis disini, tidak ada kawanan burung camar yg biasanya terbang rendah, tidak ada pasir putih yang seperti merica, tidak ada rona merah. Seperti ada burung gagak yang bernyanyi didasar hatiku, tiba-tiba saja langit menjadi muram, matahari yang lelah terhalau mendung setengahnya, angin dingin berbisik bahwa akan terjadi sesuatu, leherku kaku lidahku kelu, tiba-tiba saja hujan turun. Kudengar lagi nyanyian perempuan bersuara sendu yang tersembunyi kerinduan teramat sangat di dalamnya, nadanya melengking tertahan seolah biji salak tersangkut di tenggorokannya, lantunan iramanya beraturan mengikuti derai gelombang hujan.  Aku membalikkan badanku melangkah meninggalkan pantai yang menjadi suram, tiga meter dibelakangku menunggu seorang perempuan memakai gaun lengan panjang berwarna putih, rambutnya tertutup kain yang lebih panjang dari tangannya berwarna putih, menutup tubuhnya dengan payung juga berwarna putih, putih dan bukan hitam seperti yang disaksikan mereka. Dan ya, dia sangat cantik, tubuhnya bercahaya dan dia tersenyum padaku. Tangan kirinya terjulur seperti meminta sesuatu dan matanya seolah berkata “berikan padaku”,  lalu kuberikan saja tangkai plum dan buahnya yang kupetik di sekitar danau ungu, dia menerimanya dengan senyuman dan mata berbinar, matanya berkilau seperti berlian lalu kemudian berubah menjadi seperti genangan danau ungu, kemudian bibirnya bergerak-gerak membunyikan suara “Trimakasih ayah, aku mencintaimu…..”. Hatiku terasa seperti diiris-iris mendengar suaranya, seperti mendengar luka teramat dalam dan kesakitan panjang. Tapi dia tersenyum ketika berlalu meninggalkanku sambil bersenandung
Masih kudengar tiap detik denting tetesnya
Masih kurasa dingin hembusnya menyergap
Masihkah kau dengar gemuruh parau suaraku dibawah payung rindu ini?
Hai Neptunus….
Tidakkah lautmu menjadi keruh, karena riak dibawah kakiku?

                       




























Untuk laki-laki dengan tangan kasar, tangan yang menutup luka-lukaku. Ayah.....

Sabtu, 21 September 2019

BEGITULAH KAMU


Darimana kau dapatkan senyum dengan deret gigi rapih itu?
Rasanya : seperti makan coklat dirumah ibu Swiss, atau mencicipi keju dari tangan ajaib peramu Belanda, atau melahap 1)Turkey’s delight dari penyihir hutan “Narnia”, atau menikmati Bulgaria yogurt yang terkenal bisa membuat kulit awet muda itu
Bahagianya sampai ke hati

Elang dari hutan mana kau cungkil kedua matanya?
Yang tatapannya tajam
Menusuk tepat dijantungku
Haruskah kau buta saja?

Mungkin sebongkah batu es gunung Sagarmatha terlempar dan mengenaimu, memasuki dirimu, memadamkan percikan api didalammu. Dingin
Atau, beberapa pohon pinus dari belantara  2)The Lodge Maribaya  dan 3)Malino
menyusup menjadi urat jemarimu. Sejuk
Atau barangkali air dari tujuh lautan dan tujuh sumur terkumpul di wajahmu yang menjadikannya basa
Nyatanya kau melukiskan guratan bongkah gemawan dan menyelipkan hembusan megahertz suprasonik angin dalam bisikanmu

Seperti 4)Neptunus yang muncul dipermukaan laut, melayang dengan garputala dengan kaki serupa sirip ikan hiu, selalu membuatku terpana, dan menarikku tenggelam ke dalamnya. Menari bersama rona merah senjanya
Ah, tapi kau bukan Neptunus…..
Kau hanyalah sebuah jantung yang selalu berdetak kemanapun kupergi
Kau hanyalah aliran darah yang 5)lebih dekat dari urat nadiku

Aku melihatmu…
Hanya melihatmu. 



Catatan Kaki:
1. Turkey’s delight : atau nama lain Lokum adalah sejenis Gula – gula dengan taburan gula bubuk. Dalam film The Cronicles of Narnia, terdapat satu adegan dimana Edmund Pevensie (Skandar Keynes) diberi Penyihir Putih sebuah permen kotak warna merah muda yang diselimuti gula halus. Nah, permen itu adalah Turkish Delight
2. The Lodge Maribaya : Nama Hutan Pinus di Cibodas Lembang Bandung
3. Malino: Nama Hutan Pinus di Daerah Gowa Sulawesi Selatan
4. Neptunus : Dalam mitologi Yunani Neptunus adalah nama Dewa Laut
5. Q.S Qaf : 16-17 “Dan Kami lebih dekat daripada urat nadinya, tatkala dua malaikat berada di tangan kanan dan kiri”









Selamat Ulang Tahun Kakak, ini hadiah untukmu,😉 


Jumat, 13 September 2019

CINTA DAN KASMARAN


“Jangan menggangguku ketika aku sedang menulis. Jangan mengirim pesan padaku atau menelpon, karena itu akan sangat menggangguku”. Sambil mengacak rambutku dan tersenyum padaku, kalimat itu selalu keluar dari bibirmu (yang kau sebut bibir paling seksi sejagat raya… Heol!) ketika kau akan memulai fokus pada bukumu yang baru. Dan seperti biasa, kau bisa jarang makan bahkan lupa untuk makan (sempat aku berpikir apakah kau juga lupa untuk kenthut ???), tidur mungkin hanya 3-4 jam sehari. Pernah kau tak tidur sama sekali, aku keluar dari kamarmu setelah meletakkan secangkir kopi tubruk kesukaanmu di meja kerjamu, kau memakai kaos biru duduk disinggasanamu menghadap laptop. Tiga hari kemudian aku kembali ke kamarmu, kau masih dengan baju yang sama, diposisi yang sama, hanya kali ini ada 3 cangkir dimejamu, rupanya kau membuat sendiri kopi tubruk. Tidur dimeja kerja atau sama sekali tidak tidur?. Kau adalah orang yang paling jorok yang kukenal. Dan kau juga menjengkelkan. Tapi aku selalu merindukanmu. Kau adalah hidupku. Mungkin aku akan mati jika tiba-tiba kau meninggalkanku. Aku mencintaimu dengan seluruh hidupku. Dan kau tahu itu. Dan aku sangat tahu bahwa kau mencintaiku melebihi pada dirimu sendiri. Kau sungguh rela menukar nyawamu untukku tetap hidup. Sungguh aku tidak bisa menggambarkan begitu besar cintamu padaku.   
“kerja seperti apa kau ini? No schedule, no time?, bahkan seorang William Shakespeare pun bekerja dengan schedule!” kau sudah hafal betul kalimat yang akan kulontarkan, maka dari itu kau mendahuluinya dengan mimik lucumu, ketika aku masuk kamarmu dengan berkacak pinggang dan mata melotot, kemudian kau berdiri dari kedudukanmu dan terhuyung mendekatiku dan memelukku.
“OK. Kakak makan sekarang. Kakak mandi dulu, tunggu dibawah. OK cinta…..”  What!!! Kau bahkan tidak mandi selama 3 hari.

Kita hanya berdua didunia ini, jika bukan aku siapa yang memperhatikanmu?, jika bukan kamu siapa yang memperhatikanku? Perempuan-perempuan yang mengelilingimu hanya menginginkan uang dan popularitasmu, dan laki-laki yang mengerumuniku tak lebih hanya penghisab darah saja, tak ada bedanya seperti lintah – akan pergi bila perutnya kenyang. Hidup kita dikerumuni oleh “binatang-binatang” menjijikkan : lalat, kecoa, lintah, tikus, pernah sekali kau pulang membawa seekor “kupu-kupu” setelah launching dan bedah bukumu beberapa Tahun yang lalu. Diantara launching, bedah buku, sessi tanda tangan, dan penghargaan best seller bukumu di beberapa negara, terseliplah makhluk menjijikkan itu, yang membuatmu terlena dengan topeng dan gaun sewa murahan, kau bahkan tidak tahu kedua sayapnya yang bolong-bolong hanya tempelan, sama sekali tidak berkelas untuk laki-laki sekaliber dirimu (jika kau mau berusaha sedikit saja, Hailee Steinfeld atau Song Hye Kyo bisa kau dapat), tapi apa….. kau malah membawanya pulang.
“Segera nikahi dia, jika kau lebih suka menghabiskan sisa hidupmu bersama belatung aku akan meninggalkan rumah ini. Jangan menyapaku jika kebetulan kita berpapasan dijalan, aku tidak mengenalmu, aku bukan lagi adikmu”. Raunganku keras sekali mungkin menusuk jantungmu, cukup membuatmu menyadari siapa dirimu dan berdiri dimana kau sekarang, dan meninggalkan makhluk yang tak pantas itu. Kemudian kau memelukku dan menangis seperti bayi memohon maafku dengan lemah
“Maafkan kakak, kakak tidak memikirkanmu, "I’m sorry cinta…”.

Sama hal ketika suatu hari aku terbuai oleh (kau menyebutnya reptil) seseorang yang mampu mengalihkan duniaku darimu kepadanya. Ketampanan dan perhatiannya hanya kamuflase untuk menutupi kelemahan dan kebutuhannya, dia bahkan bisa merubah wujudnya menjadi sesuatu yang ada didekatnya. Dia bisa berubah menjadi daun berwarna hijau yang dia hinggapi, bisa berubah menjadi besi yang dia pijaki, atau berubah menjadi seperti tanah yang dia tapaki. Tapi aku adalah perempuan yang terbuai waktu itu, semua yang ada padanya tampak menawan saja dari segala sisi, tanpa kusadari bahwa aku telah menyuapi seekor biawak dengan kedua tanganku.
“Aku adalah wali hukummu yang syah sampai detik ini. Aku berhak atas hidupmu, bahkan kau tak bisa mati tanpa ijinku. Lanjutkan bermain-main dengan reptil itu, dan pergilah menggelandang bersamanya. Apa kau benar-benar tidak tahu telah memelihara seekor buaya. HAH!!! Tinggalkan aku, pergilah dari rumah ini! Jangan pernah kembali bahkan ketika aku mati. Go Away!!!”. Ketika itu matamu merah menyala seperti mata seekor cheetah yang lapar dan melihat seekor kelinci mengendap-endap didepannya. Dan aku, seolah-olah menjadi seekor kelinci itu berdiri ketakutan didepanmu menunggu eksekusi dari sang predator. Aku hanya bisa menangis tanpa mengeluarkan sepatah katapun, yang terdengar hanya suara sesenggukan. Kemudian dengan mengedap-endap aku berjalan kearahmu yang berdiri memalingkan badan memunggungiku, perlahan aku meraihmu dengan tangan gemetar, deras airmataku membasahi punggungmu dalam pelukanku yang erat. Tapi kau adalah jelmaan Dewa Krishna, sebesar apapun kesalahanku kau akan memelukku dan memaafkanku, menenangkanku dengan kalimat ajaibmu “forget it, don’t do this again

Satu Tahun kemudian….. adalah hari ini, ketika kau begitu cemas di depan laptopmu, modar-mandir kesana kemari seperti setrikaan memegang selembar kertas yang aku tak tahu apa isinya, memandangmu aku jadi gerah sendiri. Sampai kau menyodorkan padaku kertas itu yang rupanya hasil cetakan dari  Electronic Mailmu. 

Dear, Mr. Kasmaran Hangga Wijaya

We are invite you to come to receive The “Order of Companions of Honor” Nobel. The event will be held on September 20th 2019 4.30 – 7.30 PM at The Throne Room Buckingham Palace.
Please reserve to Lu William at 227-78881 by Monday, August.
Thank you for your considering this opportunity. We look forward to hearing from you.

Your Sincerely,
 Queen Elizabeth II

UWAW….. ini….. sungguh….. undangan dari Ratu Elizabeth….. Undangan itu untuk menerima penghargaan istimewa 1) Order of Companions of Honor. Kerja kerasmu selama ini, inilah hasilnya. Penghargaan bergengsi dan sangat sangat keren, sampai – sampai aku meloncat kegirangan setelah membacanya.
“Kakaaakkk………….” Histerisku tak tertahan.
Dan lihatlah, raut mukamu yang merah merona berseri dengan deretan gigimu yang berjajar rapi dan terlebih lagi matamu, mata itu seperti sudah terbang bersama rohmu ke Inggris. Kau memelukku erat, sangat erat, dan mencium kepalaku bertubi-tubi (tiba-tiba kok aku merasa risih dengan ciuman itu… hihihihihihi…)
 “Cinta, Kakak akan bertemu Ratu. Can you believe this? this is me Cinta….. I Love You so much”.

Today, you flight to London, with a half of my soul.
My lovely brother…..
The one and nothing…..
The missing eyes…..

Should I drop these tears to? No, I won’t
Let me say that I proud to have you
Fly… to the highest you can
I love you 3000




Catatan Kaki :
1)    Order of Companions of Honor: Penghargaan bergengsi dan sangat langka yang diberikan oleh Kerajaan Inggris kepada pekerja seni karena kontribusinya terhadap sastra dan filantropi. Penghargaan ini jarang diberikan oleh keluarga kerajaan. Hanya ada 64 orang penerima diseluruh dunia , salah satunya adalah JK.Rowling penulis novel Harry Potter.

Jumat, 09 Agustus 2019

Oraboni


Kepalaku seperti dihantam batu yang sangat besar, dan aku benar-benar merasakan proses remuknya, darahnya yang mengaliri seluruh muka dan leherku, saraf-saraf yang putus seperti pemadaman lampu kota tiba-tiba, otak yang berhamburan meleleh bak larva menuruni lembah menuju sungai. Tiba- tiba aku tidak bisa berbuat apa-apa. Bibirku terjahit, lidahku terpotong, urat nadi tenggorokanku pecah, pecahannya merusak pita suaraku, dan tertelan kedalam tubuh yang tersiram formalin dan mengeras perlahan. Aku hanya diam.

Pukul dua puluh empat tepat waktu setempat. Delapan puluh dua jam ini aku tidak bisa memejamkan mata, beberapa butir 1)eszopiclone bahkan tidak bisa bekerja dengan baik, yang semakin membuat kepalaku semakin sakit. Ada bias cahaya dengan potrait dirimu diujung mataku yang basah.  Mataku tidak pernah lelah memandang bias cahaya yang menerangi potraitmu, meskipun bingkainya berdebu dan kacanya tak jernih lagi dan ditumbuhi jamur disana-sini aku tetap memahkotai potraitmu. Aku tak pernah lelah mengenangmu, dan aku tak akan pernah berhenti mengenangmu, bagaimanapun keadaanku dan bagaimanapun keadaanmu.

Tiga puluh delapan tahun, bukankah itu waktu yang cukup panjang untukku menantimu? Selama itu, apa kau menyadarinya? Apakah ada tanda-tanda untukmu yang menerangkan keberadaanku?
Tidak ada? Seharipun tak ada? Sebiji sawi pun tak ada? Sehelai bulu pun tak ada? (mungkin saja sehelai bulu hidungmu meloncat, kemudian terbang dan hinggap di matamu,  seketika itu bisa saja kau teringat padaku, Auuccgghh… jorok sekali! Atau mungkin ketika kau terbangun dari tidur malammu, terengah-engah mendapati ternyata kau kalah telak dari para preman yang mengeroyokmu, yang ternyata hanya mimpi belaka, seketika itu bisa saja kau tiba-tiba teringat padaku… ) Apakah setiap langkahmu tak pernah ada aku pada salah satunya? Dan setiap kedipan matamu tak pernah muncul bayangku pada salah satunya? Atau pada irama jantungmu tak sekalipun ia berdetak untukku?

If you are not. 2)Why are you so jealous with everything near me, that you’re so hard to say, that you’re so jealous I am happy without you. 
You        : “ where are you?...”
Me         : “ in front of my room”
You        : “with whom?...”
Me      : “ hhmmm… I just with the rain, the wind, and the night… I’m with everything that you don’t    spent with me
You       : “ Best wishes and pray for you ”

Aku tidak akan melupakanmu, meskipun kau memintanya seribu bahkan sejuta kalipun, aku tidak akan melupakanmu. Aku akan tetap berdiri disini. Memandang punggungmu berjalan menjauh dariku.
Kau memintaku untuk menghapusmu dari memoriku. Tapi kau ingin aku selalu mengingat bahwa “aku adikmu terbaik”. Otakku hanya diprogram  untuk melakukan hal-hal yang baik, untuk melakukan perintah yang sifatnya positif. Maka ketika kau memintaku untuk membunuhmu, otomatis tubuh ini akan menolak menjauhimu. Maaf karena kapasitas otakku sangat kecil, hanya bisa dipartisi menjadi beberapa bagian sajam, dan segala tentangmu tidak bisa dihapus begitu saja, mungkin butuh software khusus untuk melakukannya.


Pergilah sejauh yang kau bisa, melangkahlah sepanjang yang kakimu mampu, terbanglah bersama bintang-bintang. Sampaikan salamku pada 3)rembulan yang tertusuk ilalang dipadang 4)Bukit Teletubis itu. 5)Aku tidak akan menunggumu, dan jika aku sanggup aku tidak akan memikirkanmu. Aku hanya akan berdiri disini, jika kau kembali datanglah padaku.



Kakak…………………….Aku rindu …………………….

















Catatan Kaki:
        1)      Eszopiclone : sejenis obat tidur untuk penderita insomnia, dan hanya dianjurkan oleh dokter
        2)      Lagu yang dinyanyikan oleh  Labrinth, penyanyi Amerika kulit hitam, berjudul Jealous
        3)      Bulan tertusuk ilalang : Film karya Garin Nugroho
        4)     Bukit Telletubis : beberapa bukit berjajar dengan padang rumput disekitarnya berada di belakang Gunung Bromo, diberi nama Bukit Telletubis karena mirip seperti bukit tempat bermain telletubis      
5)  5) Kalimat yang diucapkan Cha do ha pada saat perpisahan dengan Kim seol woo yang akan  menjalankan misi sebagai agen rahasia ke luar negeri. Dari drama Korea berjudul MAN X MAN.








Selasa, 07 Agustus 2018

dia?

Dengar, hai dengar
suara lembut melengking memecah senyap
membahana serupa cahaya pada cinta yang menantinya
tergelak gulana membelai merengkuh sukma sahaja
dia yang hadir

Ujung rambutnya menjuntai lunglai meliuk berombak
rupawan memesona gemulai nian Ratu elok tak terkira
lagu mengalun merdu mensyairkan nada rindu mendayu
ah... siapakah yang tak terayu mendengar lantunan suaranya?
dia yang cantik

Anginpun berhenti bertiup ketika rambutnya tergerai
awan serta-merta menutup pancaran panas mentari
debu jalanan mundur teratur membuat barisan
demi tetap menempatkan lengkung disudut bibir dan kerling matanya
dia yang tersenyum

Langkahnya berayun-ayun bersama bayang disudut kakinya bagai tak meninggalkan tapak
lambaian jemari seruncing duri gemulai bak tangan-tangan nyiur menari dikala senja
belum lagi senyumnya yang serupa bulan sabit seolah enggan meninggalkannya
Sudikah kiranya Tuan menyapanya?
dia yang rupawan

Sudah kah?
sudah tahukah jika dia hanya melengkungkan bulan sabitnya didepanmu saja?
sudah tahukah jika dia hanya berjalan dengan bayang disudut kakinya saja?
sudah tahukah jika dia hanya menjuntaikan rambutnya bersama debu dan sengat mentari saja?
sudah tahukah jika dia hanya bernyanyi bersama hembusan angin yang menjadikannya badai saja?
nyatanya, dia hanya sendiri...

Oh, Tuan.....bagaimanakah rupa bulan mati?
alam semesta ini hanya gelap semata tanpa cahaya, tanpa pesona, tanpa ceria
gurun sahara lebih baik kiranya memantulkan fatamorgana bagi para penggembala onta
meskipun jalan terseok-tertatih tak apa lah, asalkan mendapat janji dimana akan berhenti merebah
daripada hanya terkenang, membayang pada suatu negeri antah berantah yang ragu jejaknya
nyatanya, dia tak bahagia...

Dan kau bertanya pula Tuan...
untuk siapa dia hadir?
untuk siapa dia menjadi cantik?
untuk siapa dia tersenyum?
untuk siapa dia menjadi rupawan?
nyatanya, dia tak bahagia...


6 Agustus yang lalu.....




Kamis, 02 Agustus 2018

Kelang-siur

Aku ingat jalan ini.
jalan yang meliuk-liuk meng-anak ular ini... yang memisahkan kita.
Ingat kah kau?

Ketika itu, hanya ada pekat di luar sana, hanya ada gelap di depan sana, dan petir diatas sana
Bulan seperti bersembunyi takut menampakkan diri yang rupawan dan bintang serta merta menjadi buta tanpa kedipan
Entah dewa apa yang sedang berperang, sehingga komposisi alam begitu sempurna malam itu

Kau pasti melupakannya.
Benar sekali. Untuk apa mengingatnya?
Seperti menanam mawar kemudian kau siram dengan limbah nuklir, mematikan mawar itu.
Merahnya akan menjadi hitam kemudian menggugurkan kelopaknya satu demi satu, pada akhirnya akan mengering.

Tapi aku mengingat semuanya.
Aku hafal aromanya yang menyengat, bentuknya yang indah memesona, wajahnya yang-mungkin rupawan, suhunya yang dingin menusuk tulang, suaranya yang melengking bak Burung Rajawali, ukurannya yang panjang meliuk-liuk seperti berbentuk anak ular.
Aku masih mengingat semuanya.....

Ah, barangkali kita tidak perlu mengingat sesuatu yang mungkin hanya sekelebat
angin saja, banyak wajah-wajah rupawan disekelilingmu yang lebih memesona, walaupun mungkin itu bisa dilepas dan diganti dengan mimik lain,
anggaplah yang berdiri ini seorang Dewi Pandora dengan malapetaka yang siap menghancurkan siapa saja, dan apa saja.

Kelang-kelok, Lika-liku, Berselit-selit, Berbelok-belok, Kusut, Rumit, Berselit-selit, Simpang-siur, Ruwet